26.3 C
Jakarta

Jangan Diam Melihat Terorisme Berkembang

Artikel Trending

KhazanahResensi BukuJangan Diam Melihat Terorisme Berkembang
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF
Judul buku: Islam dan Stigma Radikalisme, Penulis: Slamet Muliono Redjosari, ISBN: 978-602-473-655-2, Tahun terbit: 2020, Penerbit: Airlangga University Press, Peresensi: Muhammad Nur Faizi.

Terorisme menjadi warisan yang sulit dihentikan. Tindakan pemaksaan keyakinan dengan menggunakan kekerasan menjadi stigma buruk bagi agama yang ditumpanginya. Meskipun konsepnya kerap berganti, namun terorisme mempunyai maksud yang sama, yaitu memasukkan semua orang dalam satu keyakinan. Otaknya terus mengatakan bahwa keyakinannya yang paling benar dan semua orang harua tunduk pada keyakinan yang sama.

Dalam buku Islam dan Stigma Radikalisme karya Slamet Muliono Redjosari disebutkan banyak kasus terorisme yang telah terjadi. Kasus penyerangan masjid [hlm. 3], bom Paris [hlm. 6], latar belakang permasalahan dari bom Paris [hlm. 10] disebutkan secara detail dalam buku ini. Buku ini terus mengulik catatan sejarah bagaimana terorisme menjadi senjata yang mematikan. Dengan prinsip jihad, semua lenyap dalam sekejap.

Saya turut berduka sangat mendalam dan ikut mendoakan semoga semua korban diberikan ketabahan dan mendapatkan cinta kasih dari Tuhan. Mereka adalah korban dari kekejian manusia yang selalu mengedepankan kekerasan dalam setiap persoalan. Pun semua korban telah menyumbang kewaspadaan kepada seluruh masyarakat, terutama pihak terkait untuk segera mengusut tuntas kasus pembantaian yang terjadi.

Tidak boleh ada pembenaran sedikit pun terkait aksi yang terjadi. Kepolisian harus bergerak cepat untuk memutus mata rantai organisasi. Kemudian menangkap semua anggota yang ada di dalamnya. Etos kerja dan profesionalisme harus ditingkatkan pihak berwajib agar benar-benar kasus terorisme tidak terjadi berulang.

Sesungguhnya terorisme muncul karena rasa putus asa menghadapi tantangan zaman [hlm. 36]. Mereka terjepit oleh keadaan yang membuat depresi mendalam. Ironisnya, mereka tidak mempunyai daya untuk memperbaiki itu semua. Yang mereka lakukan hanya melakukan sebuah pembenaran, yang berakhir pada tunjukan-tunjukan kesalahan pada semua orang yang dianggap penyebab atas semua kegagalan yang terjadi.

Tidak sampai di situ, mereka terjebak pada keagungan masa lalu. Arus kuat modernisasi dianggap telah merenggut adat istiadat, kebiasaan, dan kepercayaan yang mereka warisi. Sehingga dengan adanya kemajuan zaman seperti ini, mereka menganggap sebagai sebuah ancaman. Segala upaya akan mereka lakukan untuk membalikkan zaman seperti yang mereka inginkan.

Agama dipilih sebagai tumpangan untuk menjalankan itu semua. Sebagai sebuah kepercayaan, agama mampu mengikat banyak orang ke dalam arus yang sama [hlm. 55]. Selain itu, agama bisa dijadikan penghibur dengan dalil pembalasan kenikmatan kekal. Pada akhirnya, mereka mengartikan semua perjuangan yang terjadi atas nama membela agama, meskipun pada konsep aslinya mereka hanya menyalurkan hasrat ego pribadi yang terkalahkan oleh zaman.

BACA JUGA  Nurcholish Madjid; Sang Neo-Modernis yang Anti-Partai Islam

Pada setiap perjuangan, mereka selalu menandaskan arti kenikmatan di akhirat nantinya. Dari sini pun sudah terlihat keterputusasaan mereka atas kehidupan dunia. Mereka hanya menginginkan kesejahteraan kehidupan akhirat dengan menghancurkan kehidupan di dunia.

Dan jelas, ini bertolak belakang dengan prinsip rahmatan lil ‘alamin yang selalu dilandaskan dalam setiap perjuangan Nabi Muhammad saw. Maka sudah tidak heran lagi, jika mereka sering memberontak pada kehidupan modern yang dianggap menyalahi prinsip kesejahteraan akhirat.

Kemunculan kelompok teror di era ini semakin banyak dan bertebaran di setiap tempat. Keamanan kehidupan manusia semakin terancam atas kehadiran mereka. Maka dalam hal ini, setiap lapisan tidak bisa diam lebih lama lagi [hlm. 58]. Kebisuan yang kita jalankan adalah senjata terkuat bagi mereka untuk melancarkan serangan. Pun demikian, ketika kita semua berdiam diri, akan semakin menguatkan keyakinan mereka akan semua kejadiaan yang telah dilakukan.

Oleh karena itu, mulai saat ini kita tidak hanya menyampaikan doa, turut berduka cita, ataupun menghimbau setiap kejadian teror yang ada. Lebih dari itu, setiap individu atas segala kesadarannya bertanggung jawab penuh atas aksi konkret untuk penanggulangan terorisme. Setiap orang harus saling bantu untuk membongkar organisasi teror di setiap daerah.

Sebagai warga negara yang baik, kita perlu juga menghiasi media sosial dengan sikap-sikap santun dan penuh kasih sayang. Jangan biarkan sikap kebencian, ujaran-ujaran yang menyinggung liyan, serta kekisruhan menghiasi media sosial kita. Filter media juga harus dilakukan untuk melawan gerakan-gerakan radikal yang sengaja disusupkan ke arah media sosial.

Setiap tindakan yang terpuji dari setiap diri kita akan menjadi sumbangan berarti dalam pemberantasan terorisme. Satu tindakan terarah akan menggetarkan kelompok teror akan kepercayaan-kepercayaan yang mereka yakini selama ini. Maka persatuan dalam menggalang tindak pencegahan harus benar-benar dilakukan, agar nantinya tidak ada lagi tindakan terorisme yang terjadi di negeri ini.

M. Nur Faizi
M. Nur Faizi
Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Bergiat sebagai reporter di LPM Metamorfosa, Belajar agama di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-ien Yogyakarta.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru