29.4 C
Jakarta

Islam Fundamentalis yang Berlindung di Balik Instrumen Agama

Artikel Trending

Islam dan Timur TengahIslam dan KebangsaanIslam Fundamentalis yang Berlindung di Balik Instrumen Agama
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Islam fundamentalis termasuk gaya beragama yang kaku dan tertutup. Islam gaya seperti ini biasanya melahirkan cara berpikir radikal atau keras dalam menyikapi keadaan.

Islam fundamentalis cenderung berpangku pada teks dan melupakan konteks dari teks itu. Islam fundamentalis ini berpandangan bahwa pemahaman di luar teks dinilai keliru.

Ketertutupan berpikir pengikut Islam fundamentalis jelas lebih berbahaya. Karena, ia akan memberikan penafsiran dengan berlindung di balik teks atau istilah agama. Semisal, aksi-aksi terorisme yang disebut dengan jihad, dan lain-lain.

Padahal, Islam yang sesungguhnya–ajaran yang dibawa Nabi–tidak mengajarkan, bahkan mengutuk aksi-aksi terorisme. Hal ini dapat dilihat bagaimana Nabi menghindari pertumpahan semasa hidupnya. Nabi berperang bukanlah keinginannya, tapi melindungi dirinya dari serangan musuh yang tak dapat dibendung.

Jelas, kekeliruan yang fatal mengatasnamakan aksi-aksi terorisme dengan jihad. Jihad yang dibenarkan dalam agama tidak merugikan orang lain. Nabi memperlihatkannya jihad ini dengan menyampaikan pesan-pesan Tuhan yang dikodifikasikan dalam sebuah mushaf Al-Qur’an

Penyampaian Al-Qur’an yang benar merupakan jihad yang sesungguhnya. Karena, jihad ini menyelamatkan seseorang dari kesesatan kepada kebenaran. Jihad Nabi tersebut dirasakan sampai sekarang. Bukankah masih banyak orang yang membaca, memahami, dan menafsirkan Al-Qur’an?

Berlindung di balik instrumen agama dengan tujuan yang picik adalah perbuatan yang tidak bermoral. Agama menyebut perbuatan ini dengan kemunafikan. Sifat orang munafik ini disebut dengan sangat terperinci di dalam Al-Qur’an agar tidak banyak orang yang tertipu dengan bualannya.

BACA JUGA  Ustadz Fatih Karim dan Kepentingannya dalam Belajar Islam

Dalam kesempatan yang lain, kelompok Islam fundamentalis juga membawa segala keputusannya dengan mengatasnamakan “amar ma’ruf nahi munkar”. Mereka berdalih ujaran kebencian yang dilontarkan di depan publik atau di media sosial disebut-sebut sebagai nahi munkar. Tidak perlu ditelah lagi, cara-cara seperti ini keliru besar.

Nahi munkar berbeda bahkan berlawanan dengan ujaran kebencian atau mencela. Islam adalah agama yang mengajarkan pemeluknya bertutur kata yang baik dan sopan. Ujaran kebencian tidak masuk dalam ajaran Islam. Jelas, ujaran kebencian ini adalah perbuatan setan.

Pertanyaannya, bolehkah kita mengatasnamakan agama atau berlindung di balik instrumen agama dalam melakukan sesuatu? Tidak boleh jika motivasinya tidak baik, seperti aksi-aksi terorisme yang telah diuraikan di muka. Sebaliknya, jika motivasinya baik, maka tidak jadi masalah, seperti berdalih uzlah untuk lockdown dari Pandemi.

Penggunaan instrumen agama yang tidak pada kebaikan hendaknya dihindari. Karena, ia seakan menipu orang lain terjerumus dalam keburukan. Dan, kita hendaklah lebih berhati-hati dari orang-orang yang gemar mengatasnamakan agama untuk kepentingan pribadi dan politik tersebut.[] Shallallah ala Muhammad.

Khalilullah
Lulusan Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru