34.1 C
Jakarta

Indoktrinasi HTI di Taman Mini, Bagaimana Melawannya?

Artikel Trending

Milenial IslamIndoktrinasi HTI di Taman Mini, Bagaimana Melawannya?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Doktrin HTI masih berlangsung di Indonesia. Ribuan anak muda bergabung dan berpesta dengan merayakan dan memperjuangkan Khilafah Islamiyah tegak di Indonesia.

Dalam kegiatan tersebut, sederet tokoh yang memiliki kecenderungan ke HTI tampak hadir memberikan wejangan. Mereka di antaranya adalah Ismail Yusanto (Jubir Eks HTI), Aab Elkarami (Konten Kreator HTI), M. Ihsan Akbar (Influencer Gen Z HTI), Akhmad Adiasta (Narrator, Producer Dokusinema Sejarah Islam “Jejak Khilafah di Nusantara”), Nicko Pandawa (Sutradara Dokusinema Sejarah Islam “Jejak Khilafah di Nusantara”), Subhan Nur Sobach (Standup Comedy), Doni Riwayanto (Musisi dan Pegiat Hijrah), dan Alif Ridho (Pendongeng Muslim, Founder Komunitas Cintai Gaza).

Doktrin Radikal

Keadaan di atas, persis seperti yang dikatakan mantan Menko Polhukam Mahfud MD. Beliau mengatakan radikalisme terus berkembang di lembaga pendidikan. Menurutnya, banyak gerakan radikalisme mengkader pengikut di kampus hingga pesantren.

“Radikalismenya terus berkembang di lembaga pendidikan. Sekarang itu sudah banyak orang dikader dari kampus, dari pesantren, dari sekolah-sekolah. Di mana orang ditimbulkan sikap radikalnya,” kata Mahfud di Hotel JS Luwansa, Jakarta, (Harakatuna.com/5/7/2023).

Paham radikalisme menjadi semerbak dan menjadi momok yang menyeramkan di dalam dunia pendidikan. Ini karena bukan saja paham radikalisme seperti yang dijelaskan oleh Mahfud, yakni radikalisme upaya kelompok tertentu untuk anti pemerintah dan menentang Pancasila.

“Sikap radikal itu artinya sikap tidak setuju terhadap ideologi, menentang pemerintah, menentang ideologi Pancasila, menentang NKRI dan seterusnya, itu sekarang mulai berkembang juga,” sebut Mahfud.

Basis Penyelewengan

Namun lebih dari itu, radikalisme seringkali menjadi tombak dan pemicu orang untuk menjadi penjahat kemanusiaan paling kejam di alam semesta. Misalnya, mereka menjadi pengebom manusia-manusia tidak berdosa, seperti yang sering terjadi di Indonesia.

BACA JUGA  Khilafah Bukan Sistem Terbaik dan Bukan Solusi

Sayangnya, jika lembaga pendidikan diingatkan pada fenomena dan bahaya ini, seringkali kita dituduh ingin menjauhkan lembaga pendidikan dengan agama. Senjata itu yang kian terus dihembuskan oleh para pengedar ajaran radikalisme di dunia pendidikan Indonesia.

Yang lebih parah lagi, kita sekonyong-konyongnya dituduh menjadi antek Barat. Katanya, kita seakan-akan mengentervensi pendidikan untuk dijual dan menjadi perpanjangan tangan Barat. Dan secara tegas mereka mengatakan, kita telah menjadi pengekspor ide-ide beracaun Barat.

Ketika anak didik kita, misalnya melakukan kesalahan seperti tawuran dan sebagainya, bagi mereka itu adalah hasil pendidikan Barat. Katanya, kondisi para pemuda kita saat ini adalah akibat intervensi negara-negara agresor dan penetrasi ide-ide beracun mereka yang berupaya keras menjauhkan generasi muda dari agama dan menghilangkan identitas keislaman orang Indonesia.

Doktrin Ajaran Radikalisasi

Sekularisasi menjadi bahasa lazim mereka setiap hari. Jika kita mencoba untuk mengkounter ajaran-ajaran mereka yang dilembagakan dalam pendidikan agama, kita dianggap sedang mengupayakan sekularisasi pendidikan. Padahal, radikalisme lebih mengerikan, karena praktiknya adalah untuk menjadikan pendidikan tempat mengolah siswa menjadi seorang radikal dan martir buas.

Ajaran radikalisme di dunia pendidikan, meski terlihat manis sebenarnya berawal dan berasal dari ajaran ekstrem yang batil dan keras. Mereka mencoba menawarkan paham radikalisme, sesuatu pengajaran dengan memasukkan konsep-konsep “racun berbalut madu”.

Radikalisme diajarkan ke anak-anak kita, dipromosikan oleh para pejabat boneka sebagai dalih bagian dari pembangunan negara Islam (negara yang diimpi-impikan HTI), serta sebagai kontribusi pada kemajuan bangsa dan bergabung dengan barisan tuan-tuan mereka.

Padahal, sejatinya ajaran inilah yang bakalan menghancurkan kita sebagai sebuah bangsa yang memiliki peradaban sehat, maju, dan damai. Jadi kita bisa simpulkan, sejatinya di balik isu sekularisasi ada radikalisasi.

Agus Wedi
Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru