31.5 C
Jakarta

Hijrahfest; Arus Pergerakan Kelompok Muslim Urban dalam Gerakan Hijrah

Artikel Trending

KhazanahTelaahHijrahfest; Arus Pergerakan Kelompok Muslim Urban dalam Gerakan Hijrah
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com- Acara Surabaya Islamic Festival yang diselenggarakan Hijrahfest batal dilaksanakan. Hal itu menyusul adanya protes dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur.
Qodarullah Acara Road to Hijrahfest ‘Surabaya Islamic Festival’ belum dapat dilaksanakan sampai waktu yang tidak ditentukan,” kata penyelenggara melalui akun Instagram @hijrahfest, Jumat (14/10).  Dilansir dari akun Instagram @hijrahfest, kegiatan yang dilaksanakan di Surabaya ini di reschedule dan menunggu informasi lebih lanjut.

Seperti yang diketahui bahwa, kegiatan ini mendapatkan protes dari Nahdlatul Ulama (NU) dan MUI (Majelis Ulama Indonesia) karena dengan sengaja mencantumkan logo tanpa izin. Atas dasar itu kegiatan ini tidak bisa dilaksanakan karena banyaknya protes tersebut. Strategi marketing melalui pencantuman logo dua organisasi itu memperbesar peluang mendapatkan pengunjung dari berbagai latar belakang yang berbeda, apalagi untuk organisasi NU, yang notabenenya adalah masyarakat Tradisional Islam, serta MUI sebagai Lembaga yang selama ini menjadi salah satu kiblat untuk setiap fatwa yang disampaikan, merupakan market yang sangat mumpuni agar kegiatan ini bisa berjalan dengan baik.

Jika dilansir di media sosial, acara ini mendapatkan atensi dari masyarakat di media sosial dengan melihat followers yang banyak, serta komentar baik datang dari berbagai pihak. Ditambah dengan dukungan dari para influencers, baik dari pendakwah, artis ataupun para pengusaha, kegiatan ini sangat menarik bagi anak muda untuk mencari circle agar semangat melakukan proses hijrah dalam diri. Sebenarnya, bagi masyarakat NU sendiri, khususnya penulis, persoalan hijrah tidak santer dibicarakan oleh masyarakat NU. Sebab sejauh ini, cara keberagaman masyarakat NU sendiri lebih kepada melihat persoalan konteks sosial dengan sangat kompleks. Seperti halnya menjaga hubungan baik dengan masyarakat non-muslim, ikut serta untuk menggaungkan narasi bagaimana kebebasan beragama terus dilakukan, tradisi-tradisi masa lampau yang tetap lestari sejauh tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam.

Islam tradisional yang semacam itu, sangat berlawanan dengan kelompok hijrah yang biasa diminati oleh kalangan muslim urban yang notabenenya adalah masyarakat perkotaan. Tradisi yang dilakukan oleh masyarakat NU, sangat berbeda dengan tradisi yang dilakukan oleh kelompok hijrah dalam melakukan dakwah. Tentu, keduanya bisa bertemu sebagai kekayaan dari pola keberagaman yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia.

BACA JUGA  Mengkritik Kenaikan BBM: Upaya Melawan Narasi Radikal Ekstremis

Hijrah topik ciamik dan selalu mendapatkan banyak peminatnya

Sampai saat ini, topik hijrah menjadi topik yang ciamik diminati oleh kalangan muda. Apalagi, topik tersebut di representasikan oleh para artis yang memiliki banyak sekali followers. Fenomena hijrah yang dilakukan oleh kelompok muslim urban, terdiri dari para artis, influencers, menggeser otoritas keberagamaan. Para influencers, artis dan selebriti yang sedang hijrah, mereka semua adalah idola dan disenangi masyarakat. Sehingga posisi mereka dalam menampilkan Islam, menjadi referensi untuk melihat Islam. Dari sinilah muncul pergeseran otoritas keberagamaan. Ajaran-ajaran Islam, seperti halnya pola perilaku, mencari pasangan, gaya hidup, yang ditampilkan oleh para artis hijrah, menjadi referensi utama bagi masyarakat untuk melihat Islam.

Para artis, kalangan muslim urban yang hidup di perkotaan, serta memiliki aktivitas kehidupan yang sangat berbeda dengan kalangan tradisional, memiliki pengaruh besar di media sosial. Aktivitas tersebut merubah pola keberagamaan yang lahir di masyarakat. Ulama tradisionalis memiliki tantangan menghadapi modernitas. Dengan kemajuan teknologi yang semakin cepat, akses keislaman semakin luas, ulama tradisionalis harus bisa tampil di tengah-tengah masyarakat media sosial untuk memberikan dakwahnya.

Wacana keislaman yang dibawa oleh hijrahfest ini sebenarnya cukup sangat diragunakn dengan hadirnya para tokoh yang bertentangan dengan Pancasila. Tentu, kondisi tersebut sangat berbeda dengan kegiatan-kegiatan NU yang selama ini dikenal sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan. Muara akhirnya yang harus kita ragukan adalah wacana keislaman yang dibawa oleh para kelompok hijrah ini adalah narasi pemahaman atas Pancasila dan komitmen besar yang diberikan kepada NKRI. Wacana kebangsaan yang ditampilkan oleh kelompok hijrah penting untuk dipertanyakan sebagai upaya untuk memperkuat perkumpulan, ruang temu anak muda muslim agar tidak tergerus oleh kelompok-kelompok yang berupaya melengserkan pemerintahan resmi hanya karena alasan bertentangan dengan Islam. Wallahu ‘alam

 

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru