25.7 C
Jakarta

HEADLINE: Milenial Darurat Terorisme

Artikel Trending

EditorialIndonesiaHEADLINE: Milenial Darurat Terorisme
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Darurat terorisme. Hanya berjarak tiga hari dari teror bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, Minggu (28/3) kemarin, kembali terjadi teror di area Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (31/3), sekitar pukul 16.30 WIB. Berdasarkan keterangan Kapolri Jenderal (Pol) Listyo Sigit Prabowo dalam konferensi pers di Mabes Polri, Rabu (31/3) malam, ZA yang awalnya bertanya kantor pos, melepaskan tembak 6 kali ke arah polisi.

“Kurang lebih pukul 16.30 tadi ada seorang wanita yang berjalan masuk dari pintu belakang, kemudian yang bersangkutan mengarah ke pos gerbang utama yang ada di Mabes Polri. Kemudian wanita tersebut meninggalkan pos, namun kemudian yang bersangkutan kembali dan kemudian melakukan penyerangan terhadap anggota yang ada di pos jaga,” terangnya.

“Dua kali tembakan kepada anggota yang ada di dalam pos. Dua kali yang ada di luar, dan dua lagi menembak kepada anggota yang ada di belakangnya,” imbuhnya.

Berdasarkan hasil profiling, terkonfirmasi bahwa yang bersangkutan terjangkit ideologi ekstrem ISIS. Seperti maklum, di Indonesia, jaringan ISIS relatif kuat melalui organisasi JAD. Sekitar 21 jam sebelum kejadian, ZA melalui akun Instagram miliknya memposting bendera ISIS dan ada tulisan bagaimana perjuangan jihad. Nahas, karena kebodohannya, ia tewas ditembak polisi.

ZA berusia 25 tahun. Ia lahir di Jakarta Timur, DKI Jakarta, 14 September 1995. ZA merupakan mahasiswa jurusan Akuntansi angkatan 2013 di Universitas Gunadarma Depok. Pada semester 4, tahun 2014, ZA ambil cuti kuliah, lalu statusnya menjadi droup out pada semester 5 tahun 2015. Jenazah perempuan lajang asal Ciracas, Jakarta Timur itu kini dibawa ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati untuk diotopsi. Sementara, polisi menggeledah rumah pelaku di daerah Ciracas, Jakarta Timur.

Miris melihat kasus ZA. Tetapi lebih miris lagi ketika didapat fakta bahwa kasusnya mirip dengan yang terjadi di Makassar kemarin. L dan YSF sebagai pelaku, adalah pasangan suami-istri yang sama-sama kelahiran pertengahan ’90-an. L dan YSF seumuran dengan ZA, lahir di tahun 1995. Artinya, mereka semua masih kaum milenial. Bedanya, aksi ZA lone wolf ideologi ekstrem ISIS, sementara L dan YSF terlibat jaringan JAD—afiliasi ISIS Indonesia.

BACA JUGA  Genderang Perang Jenderal Dudung Melawan Terorisme

Darurat terorisme di kalangan milenial adalah tantangan terkini. Prof Hariyono, Wakil Kepala BPIP, menekankan kembali pelajaran Pancasila di sekolah. Perlu juga reorientasi konsep surga di kalangan anak muda, agar generasi milenial yang cenderung suka sesuatu yang instan tidak terjermus cita-cita utopis surga melalui bom bunuh diri. Mereka, kata Prof Hariyono, membutuhkan literasi digital dan sosialisasi nilai inklusif.

Ketua Prodi Kajian Terorisme SKSG UI Muhamad Syauqillah juga mengomentari fenomena darurat terorisme di kalangan milenial ini. Tiga pola rekrutmen ideologi ekstrem teroris yaitu komunitas, media sosial, dan kombinasi media sosial dengan tatap muka harus benar mendapat pembenahan serius. Komunitas eksklusif boleh jadi sudah tidak mengemuka di ruang publik, tetapi selama media sosial masih memberi ruang ke arah itu, milenial tetap bertendensi jadi ekstremis.

Darurat terorisme milenial adalah masalah bagi semua orang tua untuk memantau aktivitas anak. Pergaulan mereka setiap hari, idola mereka di media sosial, misalnya, harus berada dalam kotrol ketat agar tidak kecolongan dan baru tahu setelah sang anak meledak dengan tubuh berkeping-keping. Mengenali perilaku generasi milenial yang terjangkit virus radikal-terorisme relatif mudah; sejauh mana mereka inklusif dengan keberagaman.

Masalahnya adalah, sering kali, seperti ditegaskan Syauqillah, milenial yang terjerumus terorisme berasal dari keluarga kurang harmonis—sehingga lepas dari pengawasan orang tua. Ini kemudian menjadi tantangan bagi kita semua, terutama influencer, untuk terlibat dalam tugas deradikalisasi. Milenial yang sudah ada tanda-tanda intoleran, segera diajak dialog.

Pengajaran mengenai local wisdom dan bagaimana Islam masuk ke negeri ini secara damai, harus juga masif dilakukan. Sangat miris ketika milenial menjadi korban indoktrinasi ekstremis bahkan terjerumus aksi teror. Jangan sampai dalam waktu dekat dan selamanya terjadi kejadian serupa. Darurat terorisme di kalangan milenial butuh sinergisitas kita semua: orang tua, aparat, dan pemerintah.

Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru