Rise of Global Terrorism: Menelisik Jejak Kekerasan Global dan Kerentanan Diaspora Pelajar

Ahmad Khairi

27/04/2026

6
Min Read
Diaspora Pelajar

Harakatuna.com – Hari-hari ini, gelombang kekerasan oleh kelompok radikal-teror kembali mencuat ke permukaan. Di Nigeria, serangan demi serangan terjadi dalam pola yang nyaris berulang: menyasar warga sipil, memanfaatkan celah keamanan, dan menunjukkan kapasitas operasional yang kuat. Sejumlah media memberitakan, selama dua pekan terakhir, rangkaian peristiwa berdarah mengonfirmasi bahwa jaringan seperti Boko Haram masih aktif, menakutkan, dan mematikan.

Pada Selasa (21/4) malam, sebuah desa terpencil bernama Pubagu di wilayah Borno, Nigeria, diserang kelompok Boko Haram. Sebanyak 11 warga sipil tewas, sementara dua lainnya mengalami luka kritis. Para teroris itu membunuh, lalu membakar rumah-rumah penduduk sebelum meninggalkan lokasi. Serangan terjadi di wilayah pinggiran hutan Sambisa, yang selama ini memang dikenal sebagai basis Boko Haram. Borno pun mencekam dan kembali dibayangi terorisme.

Belum reda dampak serangan itu, laporan lain menyebutkan bahwa sekitar 20 warga yang terdiri dari petani dan pencari kayu bakar tewas dalam insiden ledakan ranjau darat di wilayah Gwoza, juga di negara bagian Borno, yang pelakunya juga Boko Haram. Para korban, yang tengah mempersiapkan lahan menjelang musim tanam, tewas secara brutal. Para teroris bahkan dilaporkan melepaskan tembakan ke arah warga sipil yang terluka, dengan brutalitas yang sangat meresahkan.

Pola tersebut memperlihatkan satu hal penting: warga sipil di wilayah pedesaan jadi target utama terorisme, terutama mereka yang beraktivitas di area terbuka tanpa perlindungan. Kelompok radikal-teror memanfaatkan kondisi geografis Nigeria yang luas dan minim pengawasan untuk melancarkan serangan secara berulang.

Untungnya, di tengah eskalasi tersebut, militer Nigeria melaporkan keberhasilan menewaskan sedikitnya 24 teroris dalam baku tembak yang berlangsung selama tiga jam di wilayah Kukareta. Operasi tersebut menemukan puluhan senapan serbu AK-47, senapan mesin berat, RPG, hingga mortir dan amunisi dalam jumlah besar. Boko Haram, sebagai kelompok teroris terkemuka, ternyata saat ini memiliki kapasitas tempur yang terorganisir dan berkelanjutan.

Apakah semua ini menegaskan kebangkitan terorisme? Jawabannya: jelas. Kelompok radikal-teror terus bertransformasi dan menemukan ruangnya di tengah celah keamanan global. Dari desa-desa terpencil di Borno, satu pesan terpampang jelas: ancaman terorisme masih ada dan terus bergerak. Pertanyaannya kemudian, apakah dunia sudah siap melawan the rise of global terrorism tersebut? Atau, secara spesifik, apakah Indonesia akan mengalami nasib yang sama dengan Nigeria?

Para Radikal-Teroris Bangkit Lagi?

Rangkaian peristiwa di Nigeria mustahil dibaca sebagai kebetulan. Serangan terhadap Desa Pubagu, ledakan IED di Gwoza, ataupun teror di wilayah lainnya mempertontonkan suatu fakta bahwa kekerasan yang terarah, berulang, dan memanfaatkan kerentanan wilayah pedesaan masih merupakan masalah yang serius. Ini bukan lagi soal gangguan keamanan lokal, melainkan indikasi bahwa jaringan radikal-teror, seperti Boko Haram, akan bangkit kembali.

Yang mencolok bukan sekadar frekuensi serangan namun juga karakter operasionalnya. Penembakan terhadap korban pasca-ledakan serta pembakaran rumah-rumah warga menandakan adanya taktik yang terencana dan berlapis. Pola tersebut identik dengan strategi insurgensi klasik, yakni menciptakan teror psikologis, melemahkan kepercayaan masyarakat terhadap negara, dan memperluas zona ketidakamanan secara bertahap.

Sasaran utamanya juga bukan aparat, melainkan warga sipil: petani dan masyarakat desa yang tidak memiliki perlindungan memadai. Ada pergeseran taktik radikal-teroris dari konfrontasi langsung dengan negara menuju strategi asimetris yang menargetkan titik-titik paling rentan dalam struktur sosial sebuah negara. Serangan terhadap sipil bukan kekerasan brutal belaka, tetapi juga alat untuk memutus aktivitas ekonomi dan menciptakan ketakutan kolektif.

Respons militer Nigeria yang berhasil menewaskan puluhan teroris Boko Haram juga membuka fakta bahwa kapasitas tempur kelompok tersebut relatif signifikan. Temuan senjata mulai dari AK-47, senapan mesin berat, RPG, hingga mortir menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar kelompok sporadis yang bisa dipandang sepele. Kelompok radikal-teroris adalah entitas bersenjata yang terorganisir, memiliki logistik, dan mampu bertahan dari tekanan operasi militer apa pun.

Jika dirangkai, semua indikator tersebut mengarah pada satu kesimpulan yang, boleh jadi, sebagian orang tidak percaya, yaitu kebangkitan kembali kelompok radikal-teror global. Meski aksi mereka melandai, namun mereka tidak kehilangan kemampuan untuk menyerang; sebatas tiarap sementara. Di negara mana pun, mereka tetap ada namun tidak lagi eksis secara frontal sebagaimana strategi konvensional.

BACA JUGA  Menangkis Tuduhan “Diplomasi Omon-omon”: Prabowo di Tengah Narasi Pemecah Persatuan NKRI

Karena itu, pertanyaan ‘apakah radikal-terorisme bangkit lagi?’ sangat relevan karena tanda-tanda kembali menguatnya kelompok radikal-teror sangat gamblang. Rise of global terrorism boleh jadi tidak sama seperti dua dekade lalu. Yang jelas, pola yang muncul hari ini cukup untuk menunjukkan bahwa radikal-terorisme masih memiliki energi untuk bertahan dan, jika diabaikan, akan kembali membesar dan meneror semua negara. Tentu, bukan kelompok Boko Haram semata.

Kerentanan Diaspora Pelajar, Waspada!

Lalu apa hubungannya dengan Indonesia? Jawabannya: diaspora. Mari pertanyakan beberapa hal ini: apakah yang bangkit hanya terorisme global? Apakah hanya Boko Haram? Bagaimana jika Indonesia akan segera menghadapi hal yang sama? Bagaimana jika Jama’ah Islamiyah, JAD, dan lainnya, juga sedang mempersiapkan kebangkitan mereka? Dan, bagaimana jika para diaspora pelajar Indonesia di luar negeri ternyata menjadi agen dari the rise of global terrorism itu sendiri?

Semua itu penting untuk ditanyakan. Jika lanskap global menunjukkan bahwa radikal-terorisme belum benar-benar padam, diaspora pelajar merupakan titik-titik kerentanannya yang perlu diperhatikan secara serius. Selama ini, mobilitas pendidikan lintas negara kerap dipandang semata sebagai proses akademik. Padahal, di balik itu terdapat pertemuan berbagai arus pemikiran, jaringan, dan pengaruh yang tidak selalu netral, termasuk ideologi transnasional-terorisme.

Beberapa hari terakhir, sejumlah kasus muncul di pemberitaan bahwa sebagian WNI di luar negeri terseret pusaran radikal-terorisme. Ada yang teridentifikasi terpapar lewat komunitas kajian tertutup, ada pula yang berangkat karena diutus pimpinan kelompok radikal dalam negeri. Kasus deportasi pelajar Indonesia dari Timur Tengah baru-baru ini adalah contoh bahwa Indonesia, disadari atau tidak, rentan diseret dalam agenda kebangkitan radikal-terorisme.

Kerentanan tersebut semakin kompleks ketika faktor non-ideologis ikut bermain. Motif ekonomi, relasi sosial, hingga kebutuhan akan komunitas di negeri orang menjadi pintu masuk awal. Dalam sejumlah laporan internasional, terdapat kasus para diaspora yang terlibat konflik luar negeri karena iming-iming finansial atau tekanan lingkungan. Batas antara ideologi dan oportunitas tidak jelas, namun yang jelas adalah dampaknya yaitu ‘nasib buruk’ yang menimpa diaspora pelajar itu sendiri.

Karena itu, membaca diaspora pelajar hanya sebagai kelompok akademik adalah simplifikasi yang berisiko. Yang perlu diwaspadai hari ini ialah ruang dan proses yang memungkinkan sebagian kecil dari mereka terpapar, terhubung, dan dalam kasus tertentu bahkan terseret jadi teroris. Mewaspadai kerentanan yang dimaksud ialah kemampuan membaca pola bahwa di tengah mobilitas pendidikan global, terdapat celah berbahaya yang disebut ‘regenerasi radikal-teroris’.

Di Timur Tengah, pergerakan pelajar Indonesia tidak berlangsung di ruang yang steril dari kerentanan radikal-terorisme. Di Kairo, sebagai contoh, banyak pelajar yang jadi anggota Hizbut Tahrir dan Ikhwanul Muslimin. Meski tidak semua datang dengan latar belakang ideologis tertentu. Faktor pergaulan, senioritas, dan lingkungan sosial jadi pintu masuk terbentuknya kedekatan, bahkan keterikatan, dengan arus pemikiran transnasional-radikal.

Di kawasan Hudaidah, Yaman, contoh lainnya, pelajar Indonesia diketahui bisa mengakses pendidikan selama memenuhi kelengkapan administratif, meski wilayah tersebut berada dalam pengaruh kelompok Houthi. Asrama mahasiswa Indonesia di wilayah tersebut menunjukkan bahwa proses belajar berjalan berdampingan dengan potensi mereka terjerumus ke dalam terorisme. Kedekatan dengan area rawan itulah yang membuka ruang radikalisasi para diaspora pelajar Indonesia.

Di situlah batas antara pendidikan dan pengaruh ideologi hari-hari ini sangat tipis. Tidak semua pelajar terlibat, dan tidak semua institusi memiliki orientasi ideologis tertentu. Namun, lingkungan yang telah terfragmentasi secara ideologis serta lemahnya pendampingan yang sistematis menciptakan kerentanan yang nyata.

Diaspora pelajar Indonesia berpotensi jadi bagian dari rantai radikal-terorisme. Dan ketika pulang ke tanah air, mereka adalah calon tokoh radikal-teroris masa depan yang berbahaya. Bagaimana mungkin hal semenakutkan itu masih bisa membuat Anda tidur tenang?

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Leave a Comment

Related Post