31.7 C
Jakarta

Forum R20; Upaya Membangun Semangat untuk Mewujudkan Perdamaian Dunia

Artikel Trending

KhazanahTelaahForum R20; Upaya Membangun Semangat untuk Mewujudkan Perdamaian Dunia
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com- Pada abad pencerahan (age of Enlightenment), beberapa tokoh dunia seperti pola pemikiran yang digagas oleh Weber, Durkheim, dan Marx, memiliki kecenderungan kepercayaan bahwa agama merupakan peninggalan era pra-modern, ditakdirkan untuk lenyap sejalan dengan meningkatnya gerakan industrialisasi, urbanisasi, birokratisasi dan rasioanlisasi.  Argumen di atas sejalan dengan yang disampaikan oleh Yuval Noah Harari bahwa, agama dibangun di atas mitos. Maksud mitos disini adalah narasi yang tidak memiliki rujukan pada objek material riil.  Pandangan ini kemudian yang mengakibatkan pesimisme dalam melihat agama di masa yang akan datang. Peran agama sebagai dasar dari penyelesaikan konflik. Meskipun demikian, ada banyak upaya yang bisa dilakukan untuk melihat masa depan agama dalam menjawab tantangan global.

Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah Forum Religion of Twenty (R20) yang diselenggarakan di Bali pada 2-3 November 2022 mengangkat tema Revealing and Nurturing Religion as a Source of Global Solutions: A Global Movement for Shared Moral and Spiritual Values (Menyatakan dan Menjaga Agama sebagai Sebuah Sumber Solusi Global: Gerakan Global untuk Menebar Nilai Moral dan Spiritual). Lahirnya forum R20 ini dibentuk dalam rangka berusaha untuk mempromosikan saling pengertian, budaya damai, dan koeksistensi yang harmonis di antara orang-orang yang beragam di dunia, agama dan bangsa.

Seperti yang diketahui bahwa, forum ini digagas oleh pengurus Besar Nahdlatul Ulama dengan harapan bisa menjadi gerakan global untuk menempatkan peran agama dalam mengatasi persoalan dunia. Agama diyakini bisa menjadi solusi masalah dunia jika para pemimpin agama berbicara secara terbuka dan jujur dalam menyelesaikan problem nyata yang terjadi di masyarakat. Ada 32 negara dengan 464 partisipan serta menghadirkan 40 pembicara dari lima benua, termasuk di antaranya Sri Paus Fransiskus.

Mewujudkan perdamaian dunia

Pertemuan ini bukanlah sebuah pertemuan yang mengusung perdamaian semata. Lebih dari itu, R20 merupakan ajang untuk memperkuat nilai-nilai dalam upaya menghargai antar agama. Sikap perdamaian dan persaudaraan dalam menghargai hak asasi manusia harus ditegakkan untuk mencapai persatuan dan kesatuan umat manusia. Sebab persatuan yang kuat akan menimbulkan kekuatan dan menghindari kehinaan serta kelemahan. Dasar dan faktornya ada empat, yaitu: agama, hubungan kekerabatan, persaudaraan dan perbuatan baik.

BACA JUGA  Muktamar Muhammadiyah ke-48; Ekspresikan Inklusifitas untuk Persatuan Indonesia

R20 ini merupakan upaya untuk memenuhi empat faktor itu sendiri. Agama dibangun dengan hubungan kekerabatan yang kuat, membina persaudaraan yang baik dengan perilaku-perilaku baik yang ada di dalamnya. Pertemuan ini juga sejalan dengan misi rahmatal lil Alamin yang terdapat dalam Islam yang menekankan kepada pemeluknya untuk menghargai pemeluk agama lain dan mengakuinya sebagai mitra dalam penciptaan perdamaian.  Dengan demikian, kegiatan ini semakin menguatkan makna Islam kepada seluruh alam bahwa misi perdamaian tersalurkan secara komperehensif dengan hadirnya berbagai tokoh agama lintas iman dari berbagai dunia.

Narasi nakal dari para aktivis khilafah

Di balik perhelatan besar yang membangun semangat positif untuk menciptakan perdamaian dunia, lagi-lagi, narasi nakal dari para aktivis khilafah tercipta. Mereka justru mengkritik kegiatan ini dikarenakan kehadiran para tokoh dunia ternyata tidak memberikan dampak terhadap dunia karena ketiadaan kehadiran Islam dalam sistem pemerintahan. Bagaimanapun, perhelatan akbar tersebut adalah bagian dari budaya sekuler yang berkembang.  Bagi para aktivis khilafah, keberadaan tokoh muslim tersebut terlihat berpengaruh apabila sudah mampu mengubah sistem negara di seluruh bumi ini diubah sesuai dengan atauran Islam.

Narasi yang disampaikan oleh mereka sebenarnya sangat mudah dipatahkan dengan mengacu kepada argumen yang disampaikan oleh KH Yahya Cholil Tsaquf (Gus Yahya), ketua PBNU bahwa latar belakang pendiri bangsa sangat berbeda. mulai dari agama, suku dan budaya. Mereka semua mencari nilai dalam agama yang dianutnya untuk mempertemukan supaya dibingkai dalam persatuan. Lebih jauh justru yang sangat penting dari R20 ini adalah membangun model dialog dengan sejujurnya terkait masalah yang dihadapi oleh masing-masing kelompok agama agar bisa mencari solusi bersama.

Hal itu sejalan dengan pendapat Mukti Ali bahwa, dialog antar agama dimaknai sebagai pertemuan hati dan pikiran pemeluk berbagai agama. Perjumpaan tersebut dilakukan tanpa merasa rendah dan tanpa ada tujuan yang dirahasiakan. Adanya dialog tersebut justru menghilangkan prasangka dan praduga antar kelompok sehingga tercipta dunia yang aman dan damai dengan sikap saling menghargai. Bukan justru keukeuh untuk mendirikan negara Islam. Wallahu a’lam

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru