30.5 C
Jakarta

Sumpah Pemuda 2022: Komitmen Membangun NKRI dan Menghancurkan Khilafahisme

Artikel Trending

Milenial IslamSumpah Pemuda 2022: Komitmen Membangun NKRI dan Menghancurkan Khilafahisme
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Hampir satu abad lalu, sejumlah pemudah menggelar Kongres. Tanggal 27-28 Oktober menjadi peristiwa brsejarah yang dikenal dengan Sumpah Pemuda, suatu pergerakan kemerdekaan Republik Indonesia yang dilakukan oleh para pemuda-pemudi Indonesia dengan menyatakan janji satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Nilai-nilainya ialah soal kegotongroyongan, patriotisme, musyawarah, cinta tanah air, kekeluargaan, persatuan, kekeluargaan, cinta damai, dan tanggung jawab.

Hari ini, apakah pemuda-pemudi NKRI masih sepatriot itu? Tajuk peringatan Sumpah Pemuda kali ini adalah “Bersatu Bangun Bangsa”—apakah kita sudah yakin bersatu membangun bangsa atau justru sebaliknya, tercerai-berai membiarkan negara yang besar ini cedera kedaulatannya? Spirit Sumpah Pemuda pada tahun 2022 dengan demikian perlu digelorakan lagi. Sebab, generasi muda adalah potret masa depan bangsa. Jika potretnya buruk, maka masa depan negara adalah kehancuran.

Ada dua orientasi spirit Sumpah Pemuda yang relevan untuk hari ini. Pertama, spirit untuk mencintai NKRI dan membenci sikap anti-NKRI. Kesadaran akan kecintaan terhadap NKRI; satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa ini merupakan hal wajib nan mutlak, tidak bisa ditawar, oleh seluruh warga negara. Pada hakikatnya, jika seseorang hidup di suatu negara, maka ia harus tunduk pada aturan dan konsensus yang ada. Pemuda-pemudi tidak boleh terpecah oleh hegemoni tertentu.

Kedua, spirit untuk melawan para pembenci NKRI dan siapa pun yang menggerus kedaulatannya. Ini merupakan tugas khusus untuk melawan parasit-parasit NKRI. Spirit kepemudaan harus mengarah ke sini, untuk menunjukkan bahwa menjaga NKRI adalah bagian inheren dari kecintaan terhadap NKRI itu sendiri. Artinya, membangun NKRI adalah satu bagian dengan menghancurkan ancaman NKRI. Cinta NKRI tidak bisa pasif, melainkan harus aktif untuk menjunjung kebangsaan dan kenegaraan.

Sumpah Pemuda 2022 bisa menjadi momentum menguatkan kembali komitmen membangun NKRI dan menghancurkan khilafahisme. Mengapa khilafahisme? Sebab ancaman politik transnasional semakin nyata menghantui negara ini. Penyebabnya adalah pemuda-pemudi yang mati rasa terhadap bangsanya sendiri karena mencintai bangsa lain. Mereka menolak NKRI dan ingin mendirikan pemerintahan khilafah. Khilafahisme semacam ini yang harus segera diluluhlantakkan.

NKRI vs Khilafahisme

Seperti maling yang tidak mau dicap maling, para aktivis khilafah tidak mau dicap penganut khilafahisme. Padahal, ke mana pun berdakwah, yang mereka jual adalah ideologi Islam kaffah dengan sistem pemerintahan yang mereka sebut khilafah. Dengan memanipulasi sejarah, mencatut nama sejarawan, dan mengeksploitasi ajaran Islam, para penganut khilafahisme tetap tidak mau dicap memperjuangkan khilafah. Mereka ingin disebut pejuang Islam. Licik sekali.

NKRI harus dibangun, sementara khilafahisme harus dihancurkan. Premis ini jangan dibalik, seperti yang dilakukan para aktivis khilafah: menghancurkan NKRI dan membangun khilafah. Namun demikian, spirit kepemudaan hari ini tengah direbut, seperti melalui Hijrahfest; gerakan kepemudaan yang anti-NKRI secara nyata. Mereka, para pemuda, dijebak melalui doktrin hijrah, lalu setelah masuk ke dalamnya dipaksa hijrah dari sistem NKRI menuju sistem khilafah.

BACA JUGA  Propaganda HTI di Lapas; Upaya Menyeret Narapidana Jadi Begundal Khilafah

Pertarungan NKRI melawan khilafahisme tentu bukan sekadar pertarungan ideologis belaka, melainkan juga pertarungan politis. Pada kenyataannya, para pejuang khilafah juga punya kepentingan politis, yakni merebut kekuasaan. Dengan kata lain, NKRI vs khilafahisme adalah soal perebutan pengaruh politik masyarakat, antara mereka yang memperjuangkan pembangunan NKRI dan mereka yang memperjuangkan khilafah. Namun berbeda dengan NKRI yang tunggal, aktor khilafahisme heterogen.

Heterogenitas tersebut dilatarbelakangi oleh perbedaan kelompok—sekalipun ideologinya sama. Sebagai contoh, Salafi-Wahhabi menganggap HTI sebagai kelompok utopis yang tak punya basis teologis yang mapan, dan HTI menganggap Ikhwani sebagai islamis yang hipoktrit. Berbeda dengan pejuang NKRI, yang sekalipun berasal dari berbagai suku, agama, dan ras, nasionalisme mengikat mereka dalam satu bingkai perjuangan; kesatuan dan persatuan.

Ini yang hilang dari pemuda sekarang. Ketimbang NKRI, mereka lebih tertarik khilafah—suatu fakta bahwa dalam kontestasi politis-ideologis, khilafahisme menunjukkan sinyal-sinyal kemenangan terhadap NKRI. Yang demikian jelas tidak bisa dibiarkan, karena pemuda merupakan kunci sebuah negara. Jika hari ini khilafahisme memenangkan pemuda-pemudi, bahkan berhasil mencuci mereka agar membenci NKRI, maka masa depan negara-bangsa adalah soal perpecahan dan kehencuran. Mengerikan.

Pemuda Masa Depan

Jika dulu Sumpah Pemuda adalah soal spirit satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, maka hari ini spirit kepemudaan masih dalam arah yang sama. Perbedaannya adalah, dulu spirit tersebut dibangun untuk melawan penjajahan dan kolonialisme. Tetapi sekarang, spirit tersebut harus dibangun untuk melawan perpecahan dan khilafahisme. Faktanya, sama dengan penjajah, para aktivis khilafah hendak merusak NKRI dengan menggerus kecintaan generasi bangsa terhadap negaranya sendiri.

Lalu pemuda masa depan seperti apa yang mereka harapkan? Tidak lain adalah pemuda yang sama sekali tidak punya komitmen atas tanah airnya sendiri, atas bangsanya sendiri, dan atas bahasanya sendiri. Dalam agenda besar khilafahisme, pemuda hendak diseret menjadi pemuda generasi masa depan yang tidak punya kepentingan politik selain mendirikan khilafah. Pemuda yang alih-alih membangun NKRI, justru menghancurkannya dengan mendirikan sistem baru yang destruktif.

Karena itulah, Sumpah Pemuda 2022 harus direorientasikan untuk NKRI itu sendiri. Generasi muda harus disumpah untuk membangun NKRI, secara politik dan terutama IPTEK, untuk melahirkan masa depan cemerlang untuk negara-bangsa. Pemuda tidak boleh dibuat larut oleh indoktrinasi ideologis para aktivis khilafah, yang membuat mereka kehilangan nasionalisme. Seluruh pemuda masa depan harus berkomitmen membangun NKRI dan menghancurkan khilafahisme. Ini wajib. Tidak bisa ditawar.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Mahasiswa SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru