31.5 C
Jakarta

Al Jaulani: Arah Baru Politik Islam dan Gerakan Fundamentalisme Agama

Artikel Trending

Milenial IslamAl Jaulani: Arah Baru Politik Islam dan Gerakan Fundamentalisme Agama
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Setelah mengerasnya paham fundamentalisme dan ekstremisme agama yang ditandai dengan gerakan keinginan mendirikan negara Islam (negara khilafah/daulah) dua setengah tahun terakhir di Indonesia, banyak masyarakat menerima wacana tersebut sebagai basis gerakan baru dengan harapan Indonesia menjadi lebih baik.

Melihat Gerakan Al Jaulani

Gerakan ini tidak semerta-mereta datang tiba-tiba. Banyak yang gerakan Islam Timur Tengah yang menginspirasi gerakan fundamentalis di Indonesia. Salah satu adalah terinspirasi dengan gerakan Abu Muhammad Al Jaulani yang berlatar belakang Al-Qaeda dan merupakan kader binaan alm Syeikh Abu Muhammad Az-zarqawi.

Di mata fundamentalis dunia, kini Al Jaulani adalah contoh orang yang tepat dalam melakukan negoisasi politik dunia. Al Jaulani dengan Jabhat Fathu Syamnya, memberikan angin segar bahwa dalam melakukan gerakan daulah, tidak serta merta harus dilakukan dengan cara berperang dan menolak apa itu Barat.

Bagi Al Jaulani, yang terpenting pemerintahan yang sedang dirintisnya diakui oleh Barat, sebagaimana halnya pemerintahan Thaliban. Maka itu, gerakan Al Jaulani sejak 2017 hingga sekarang, kebijakannya sangat negoitatif. Misalnya, Al Jaulani bernampilan mengenakan jas berdasi, laiknya sebagai pemimpin negara.

Kebijakan Lunak Al Jaulani

Konsep “takfir” mulai dilunakkan agar bisa diterima lebih banyak kalangan, termasuk negara-negara Barat. Al Jaulani, mencoba membatasi diri hanya berkonfrontasi dengan rezim Bashar Al Asad. Dia juga memperkuat penguasaan wilayah, untuk menegakan hukum Islam. Pilihan-pilihan ini bagi banyak golongan yang menginspirasi perubahan- perubahan negoisasi politik di beberapa kelompok fundamentalisme dunia.

Maskipun gerakan di atas, bisa kita katakan berada dalam tarikan ekstremitas: ekstremitas agama dan ekstremitas pasar. Dari kaca mata akademisi dua-duanya bertolak dari fundamentalisme: fundamentalisme agama ingin merobohkan nation-state dengan negara khilafah, fundamentalisme pasar ingin mengganti nasionalisme dengan korporatokrasi.

Kita melihat genealogi gelombang revivalimse dan politik kelompok fundamentalisme di dunia, termasuk di Indonesia berubah. Misalnya jika kita melihat lanskap politik luar negeri (Arab Saudi) yang menjadi tonggak penting terhadap ekstremisme Islam melalui ekspor ekspansi doktrin ultrakonservatif Wahabisme ke seluruh dunia.

BACA JUGA  Menjadi Pahlawan Hari Ini dengan Bergiat dalam Kontra-Khilafahisme

Perubahan Lanskap Politik Dunia

Termasuk Al Jaulani dan politik di bagian besar negara-negara Timur Tengah, buah yang diperoleh dari gerakan itu, yaitu penyebaran paham radikalisme melalui tiga jalur: ideologi, suaka politik dan pendanaan yang dampaknya sungguh mengejutkan.

Misalnya, selama puluhan tahun, Arab Saudi yang menganut paham puritanisme yang biasa disebut dengan Wahabisme, sebagaimana diakui oleh Muhammad bin Salman telah gencar berupaya mengekspor paham itu keseluruh dunia dengan uang minyak yang melimpah. Caranya, dengan menyeponsori kebutuhan-kebutuhan sosial-negara. Misalnya di institusi pendidikan: pengadaan pembangunan madrasah, masjid, dan perguruan tinggi di negara-negara lain yang berafiliasi dengan universitas Islam di Arab Saudi.

Lebih jauh dari itu, akibat ekspansi yang ditandai dengan tonggak konsolidasi politik Arab Saudi menyebabkan empat kejadian besar: Kejadian pertama adalah bentroknya Gamal A. Nasser dengan aktivis Ikhwanul Muslimin (IM) di Mesir. Kedua, kudeta Mekkah 1979. Ketiga, kejadian pendudukan Uni Soviet ke Afghanistan pada akhir 1979. Keempat, adalah kejadian yang ditandai dengan keberhasilan Rovolusi Islam Iran pada 1979.

Permainan Bidak Arab Saudi

Empat kejadian ini, menjadi tonggak penting dari permainan bidak Arab Saudi yang berdampak pada panorama gelombang revivalisme/politik keagamaan di seluruh dunia. Termasuk, yang paling penting kejadian Jihad Afghanistan yang terbentuk jaringan jihad internasional, dengan maskotnya Osama bin Laden, yang kini menggigit pembinanya sendiri: Arab Saudi dan Amarika Serikat.

Bahkan, dari ekspansi politik-doktrin puritan Wahabisme itu, terbentuklah paham salafi-jihadi di seluruh dunia, termasuk ISIS. Menurut Fareed Zakaria (2017), Arab Saudi bersama Qatar telah memberikan dukungan finansial secara diam-diam kepada ISIS dan kelompok radikal lainnya.

Maka, sungguh sangat ironis jika negara-negara seperti Indonesia dan penggerak moderasinya kalau hanya bisa mengutuk kelompok ekstrem berbalut agama tanpa mau/bisa menyaingi negara-negara tetangga perihal taktik politik dan modal-modal sosialnya. Dan  karena itu, kita sungguh-sunnguh harus mengupayakan pertahanan dari modal-modal tersebut. Kalau tidak, kita tak mungkin bisa melindungi umat hingga mengaktualisasi kesalehannya dari paham ekstremisme agama.

Agus Wedi
Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru