Filsafat Hikmah, Mistisisme dan Pengetahuan


0
6 shares
Dok. Pribadi

Cukup menarik tatkala mengunjungi salah satu toko buku di Kota Bandung lantas menemukan buku ini. “Epistemologi Tasawuf” adalah judul buku tersebut. Epistemologi sebagai suatu ilmu yang berkutat pada penelaahan terhadap sumber-sumber pengetahuan yang kemudian identik dengan salah satu cabang dalam filsafat menjadi judul utama buku tersebut. Serta tasawuf yang secara sederhana saya artikan sebagai suatu cara dalam proses mendekatkan diri kepada Tuhan sehingga memperoleh kenikmatan dalam beribadah.

Epistemologi Tasawuf adalah salah satu karya dari Haidar Bagir. Buku tersebut merupakan sebagian dari disertasinya saat menjalankan studi Doktoral di Program Studi Filsafat Universitas Indonesia. Sebagai pemikir yang concern dalam kajian filsafat dan pemikiran Islam kontemporer, tentunya ia sudah banyak berkecimpung dalam dunia tersebut.

Karena buku ini bersifat filosofis dan memang diperuntukan untuk kalangan yang berminat dalam studi ke-filsafat-an, namun tidak menutup kemungkinan bagi masyarakat umum untuk menyelami pikiran-pikiran filsafat khususnya gagasan yang diajukan oleh Haidar Bagir dalam bukunya ini. Glosarium yang memuat istilah-istilah penting yang digunakan dalam buku ini di hadirkan di awal sebagai pengarah bagaimana memahami isi dari buku ini.

Tidak heran karena buku ini terklasifikasikan sebagai buku ke-filsafat-an yang memudahkan pembaca terhadap apa yang ia maksud. Haidar Bagir mencoba untuk membukanya dengan pengertian-pengertian terhadap istilah yang digunakan di dalam pembahasannya.

Secara umum, tasawuf yang menjadi pembahasan pokok Haidar Bagir adalah Filsafat Hikmah atau Hikmah Transenden yang dikembangkan oleh Mulla Shadra dengan dilandasi filsafat-filsafat sebelumnya yakni ‘irfani atau gnosis Islam Ibn ‘Arabi dan Iluminasi (israqiyyah) Suhrawardi. Pengalaman tasawuf berusaha dibagikan secara filosofis-rasional yang kemudian diekspresikan dalam struktur bahasan logis. Mulla Shadra dan Suhrawardi menjadi tokoh utama dalam analisis yang dilakukan. Pemikiran keduanya menjadi objek untuk di analisis dalam mengungkapkan pengalaman tasawuf. Pengalaman tasawuf bukan saja dipercayai dapat dikomunikasikan namun dapat diselidiki lebih jauh ke arah pemahaman mistis yang dapat dijadikan sebagai sumber dan motode dalam memperoleh suatu ilmu pengetahuan yang memenuhi kaidah keilmuan modern.

Baca Juga:  Memajukan Kecerdasan Intelektual di Zaman Milenial

Sebagai pendahuluan Haidar Bagir mencoba untuk menjelaskan relasi dari mistisisme menuju pengetahuan presensial. Pemikiran Barat modern berkeyakinan terhadap metode ilmiah (scientific method) sebagai cara dalam memperoleh ilmu pengetahuan. Metode ilmiah disini berdiri atas dua pilar utama yaitu deduksi rasional dan induksi empiris. Metode ilmiah tersebut pada dasarnya berkembang pada masa Revolusi Ilmiah (scientific revolution, 1543-1600). Namun, hal tersebut dbantah oleh Morris Berman yang menyebutkan bahwa “99% umat manusia” menggunakan metode yang berbeda dalam mndapatkan ilmu pengetahuan. “99% umat manusia” tersebut lantas menggunakan metode apa? Jawabannya adalah cara-cara yang umumnya dikenal sebagai cara yang bersifat mistis.

“… Sehingga, sebagai konsekuensinya, proses mengetahui lebih bersifat ontologis-eksistensial ketimbang epistemologis. Yakni, sesuatu hubungan yang dicirikan oleh perjumpaan eksistensial kedua unsur yang terlbat dalam proses mengetahui ketimbang keterpisahan subjek-objek, sebagaimana terungkap, …”(hlm. 37).

Elaborasi mistisisme setidaknya bermula dari tokoh bernama Hermes Trimegistus. Hermes dipercayai sebagai Toth dalam agama mesir kuno, Ukhnuh dalam agama Yahudi, Nabi Idris dalam Islam. Sedangkan dalam mitologi Yunani, Hermes dipercayai sebagai anak laki-laki antara Zeus dan Maia, dan Mercuy dalam kepercayaan Romawi Kuno. Dalam semua agama dan kepercayaan tersebut, semuanya bersepakat bahwa Hermes adalah bapak pemikiran dan ilmu pengetahuan.

Istilah mistis berasal dari akar kata Yunani, myein, yang berarti “menutup”. Istilah tersebut pada mulanya dipakai oleh pengarang-pengarang Kristiani dari zaman patrstik (Para Bapa Gereja) untuk menutup mata atau bibir, demi tidak mengungkapkan sesuatu yang rahasia atau tersembunyi untuk menunjukkan kepada “makna mistis” Bibel.

Sementara mistisisme, adalah ciptaan Prancis abad ke-17 (la mystique) sebagaimana ditunjukkan Michael de Certeau. Mistisisme hadir “… untuk menandai sebuah pembelokan menjauh dari konteks liturgikal (peribadatan formal) dan skriptual Kekristenan patristik dan Abad Petengahan menuju situasi yang di dalamnya ilminasi (pencerahan) privat menjadi kriteria (utama) …” (hlm 51).

Baca Juga:  Gebyar Lomba Resensi Buku Nasional Khilafah HTI

Pada bagian kedua, Haidar Bagir memfokuskan perhatiannya tehadap aliran filsafat hikmah dan filsafat-filsafat mistis yang mendahuluinya. Filsafat mistis yang mendahului perkembangan filsafat hikmah terdiri dua: pertama adalah ‘irfan atau gnosis Islam Ibn ‘Arabi, kemudian Filsafat Iluminasi (Israqiyyah) Suhrawardi.

Mulla Shadra mengembangkan aliran dalam filsafat Islam yang disebut sebagai Al-Hikmah Al-Muta’aliyah (Hikmah Transenden), biasa disebut Filsafat Hikmah. Filsafat hikmah berbagi keyakinan mistisisme dalam hal penggunaan intuisi sebagai daya paling andal untuk mencapai kebenaran ilmu pengetahuan. Di saat yang sama, aliran ini beranggapan bahwa kebenaran tersebut harus diungkapkan dan diverifikasi melalui perumusan secara diskursif-demonstrasional.

Secara ontologis, Filsafat Hikmah didasarkan pada tiga hal: prinsipialitas wujud (ashlah al-wujud), ambiguitas eksistensi (tasyik al-wujud), dan gerak substansi (al-harakah al-jauhariyyah).  Sedangkan secara epistemologis, Filsafat hikmah percaya pada pengecapan spiritual (spiritual tasting atau dzaud) dan penyaksian spiritual (spiritual witnessing atau syuhud); dan pada saat yang sama, tak menyangkal rasio, dan beranggapan bahwa hasil dari pengalaman spiritual itu bisa, bahkan perlu untuk di ungkapkan secara rasional.

Pengetahuan presensial dan pengalaman mistis merupakan bagian ketiga dalam buku ini. Mulla Shadra menganggap pengetahuan sebagai sejenis keberadaan presensial, pengetahuan bukan sebagai kuiditas, melainkan sebagai jenis eksistensi dalam pikiran dalam pengetahuan presensial, objek telah ada atau hadir dalam akal seseorang tanpa suatu proses representasi.

Pengetahuan identik dengan eksistensi, maka perolehan pengetahuan bergantung pada pengetahuan tentang realitas diri. Dalam mencapai pengetahuan sejati, dalam prosesnya terdapat rintangan yang oleh Mulla Shadra disebut sebagai tiga prinsip yang menghambat manusia memperoleh pengetahuan sejati.

Pertama, ketiadaan pengetahuan mengenai diri. Kedua, kecintaan kepada kekayaan, kekuasaan, nafsu, dan kenikmatan (seksual). Ketiga, dorongan jiwa untuk melakukan kejahatan, yang bergabung dengan tipuan setan sehingga menganggap kejahatan sebagai kebajikan dan kebajikan sebagai kejahatan.

Baca Juga:  Yerusalaem; Kota Tua Beribu Cerita

Dengan demikian, Mulla Shadra melalui Filsafat Hikmahnya yang dikembangkan melalui diskursif-demonstrasional, mencoba untuk menggunakan metode mistis dalam menemukan suatu ilmu pengetahuan. Dalam hal ini pengetahuan yang hendak dicapai adalah pengetahuan presensial yang memiliki kemungkinan untuk memenuhi justifikasi kriteria-kriteria yang ditetapkan yakni kriteria koherensi dalam pencapaian ilmu pengetahuan.

Secara keseluruhan, buku ini tidak secara resmi membahas sebuah pengantar terhadap epistemologi tasawuf seperti yang tercantum dalam cover bukunya, akan tetapi mengkhususkannya kedalam pembahasan spesifik terhadap pemikiran-pemikiran filosofis Mulla Shadra melalui Filsafat Hikmahnya dalam menemukan suatu ilmu pengetahuan.

Untuk kalangan pemula-yang mungkin belum terlalu mendalami filsafat-akan mengalami hambatan dalam memahami secara mendalam yang dimaksud Haidar Bagir sebagai epistemologi tasawuf dalam bukunya ini.

Semoga khazanah pemikiran Islam terus berkembang dengan senantiasa berpedoman pada Al-Quran dan Hadits. Wallahu ‘alam.

Judul               : Epistemologi Tasawuf

Penulis             : Haidar Bagir

Penerbit           : Mizan

Tahun terbit     : Maret 2018, Cetakan ke-2 (Cetakan pertama terbit Maret 2017)

Tebal               : 188 halamaan

ISBN               : 978-602-441-059-9


Like it? Share with your friends!

0
6 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Taufan Sopian Riyadi
Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, tinggal di Gedung 8 RT 01 RW 09 Desa Kertamulya, Kec. Padalarang, Kab. Bandung Barat 40553