Haraktuna.com. Jakarta akan menjadi tuan rumah perhelatan Federation of Asian Bishops’ Conferences (FABC) 2026, forum para uskup Katolik se-Asia yang digelar setiap empat tahun sekali. Momentum ini tidak hanya menjadi agenda penting bagi Gereja Katolik di kawasan Asia, tetapi juga menjadi panggung bagi Indonesia untuk memperkenalkan praktik kerukunan dan dialog antarumat beragama kepada dunia.
Salah satu agenda yang menarik perhatian adalah kunjungan para delegasi ke Terowongan Silaturahmi dan Masjid Istiqlal. Kunjungan tersebut dipandang sebagai simbol kuat persaudaraan lintas agama yang selama ini tumbuh dan terpelihara di Indonesia.
Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa Indonesia memiliki pengalaman berharga dalam merawat harmoni di tengah keberagaman agama, budaya, dan etnis. Menurutnya, pengalaman tersebut penting untuk diperkenalkan kepada para pemimpin agama dari berbagai negara Asia.
“Indonesia memiliki modal sosial yang sangat kuat dalam merawat kerukunan. Kehadiran para uskup dari berbagai negara Asia menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekuatan dalam membangun perdamaian bersama,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Terowongan Silaturahmi dan Masjid Istiqlal bukan sekadar infrastruktur fisik, melainkan representasi nilai-nilai kebangsaan yang menjunjung tinggi dialog, toleransi, dan saling menghormati. “Kami ingin para peserta tidak hanya melihat, tetapi juga merasakan langsung bagaimana kerukunan hidup dalam keseharian masyarakat Indonesia,” katanya.
Pernyataan tersebut mengemuka dalam pertemuan antara Kementerian Agama dan Konferensi Waligereja Indonesia terkait persiapan penyelenggaraan FABC 2026. Ketua KWI sekaligus Uskup Bandung, Antonius Subianto Bunyamin, menjelaskan bahwa pada rangkaian penutupan FABC, sekitar 110 uskup dari berbagai negara Asia serta perwakilan dari Amerika, Afrika, Eropa, dan Oseania akan mengunjungi Terowongan Silaturahmi dan Masjid Istiqlal. Selain itu, sekitar 50 uskup dari Indonesia, baik yang masih aktif maupun emeritus, juga akan turut hadir.
Para delegasi nantinya akan diterima langsung oleh Menteri Agama selaku Imam Besar Masjid Istiqlal. Kunjungan tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian acara yang akan ditutup dengan perayaan Ekaristi di Gereja Katedral Jakarta sebelum para peserta berjalan menuju Istiqlal melalui Terowongan Silaturahmi.
Sementara itu, Ignatius Suharyo menegaskan bahwa tema besar penutupan FABC berkaitan erat dengan pentingnya membangun dialog di tengah keberagaman. “Kita akan melihat hal-hal besar melalui perjumpaan dengan agama dan budaya lain. Tuhan memperlihatkan kepada kita bahwa akan ada hal yang lebih besar ketika kita membangun jembatan-jembatan dialog,” ujarnya.
Menurutnya, kunjungan ke Terowongan Silaturahmi menjadi simbol cita-cita bangsa Indonesia dalam membangun kehidupan yang rukun dan harmonis di tengah berbagai perbedaan. FABC sendiri merupakan forum para uskup Asia yang diselenggarakan setiap empat tahun sekali. Penyelenggaraan tahun 2026 menjadi momen bersejarah karena merupakan kali pertama Jakarta menjadi tuan rumah dan kali kedua Indonesia dipercaya menyelenggarakan forum tersebut setelah sebelumnya berlangsung di Lembang pada tahun 1990.
KWI menilai terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah tidak terlepas dari perhatian dunia terhadap praktik moderasi dan kerukunan beragama yang berkembang di Tanah Air. Selain itu, kunjungan Paus Fransiskus beberapa waktu lalu juga dinilai turut memperkuat citra Indonesia sebagai negara yang mampu merawat harmoni di tengah kemajemukan.
Melalui FABC 2026, Indonesia tidak hanya menjadi lokasi pertemuan para pemimpin Gereja Katolik Asia, tetapi juga menghadirkan pesan kepada dunia bahwa dialog, toleransi, dan hidup berdampingan secara damai merupakan modal penting dalam membangun masa depan yang lebih harmonis.

















Leave a Comment