Harakatuna.com. Teheran – Kepala negosiator Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menuduh Amerika Serikat tidak hanya berupaya menggulingkan pemerintahan Iran, tetapi juga berambisi memecah belah kedaulatan negara tersebut. Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan militer dan memburuknya hubungan diplomatik antara Teheran dan Washington.
Dalam keterangannya di Teheran, Rabu (15/7/2026), Ghalibaf mengatakan Iran tetap mengutamakan jalur diplomasi, namun pada saat yang sama harus memperkuat kemampuan pertahanan untuk melindungi kepentingan nasional. “Kami harus menggunakan diplomasi dan negosiasi untuk memajukan serta menjaga kepentingan nasional kami,” ujar Ghalibaf.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa Iran tidak dapat sepenuhnya bergantung pada proses diplomatik. “Iran tidak memiliki pilihan lain selain mengandalkan kekuatannya sendiri,” katanya.
Ghalibaf juga mempertanyakan keberlanjutan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) yang sebelumnya disepakati dengan Amerika Serikat. Menurutnya, komitmen Iran terhadap kesepakatan tersebut bergantung pada implementasi yang dilakukan Washington. “Jika Iran tidak mendapatkan manfaat dari nota kesepahaman tersebut, maka kami tidak memiliki alasan untuk tetap mematuhinya,” tegasnya.
Pernyataan itu muncul sehari setelah 180 anggota Majelis Permusyawaratan Islam Iran mendesak pemerintah mengakhiri kesepahaman dengan Amerika Serikat serta mengevaluasi kembali kerangka negosiasi yang telah berlangsung. Para anggota parlemen juga meminta pemerintah memperkuat doktrin pertahanan nasional dan memperketat regulasi pengelolaan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.
Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyatakan Teheran telah menangguhkan sebagian kewajibannya dalam kesepahaman tersebut sebagai respons atas dugaan pelanggaran yang dilakukan Amerika Serikat. “Begitu pihak lain melanggar komitmennya, kami pun menahan diri untuk tidak melaksanakan kewajiban kami di mana pun diperlukan,” kata Baghaei.
Ia menambahkan bahwa hingga kini tidak ada agenda perundingan baru antara Iran dan Amerika Serikat karena pemerintah Iran memprioritaskan aspek pertahanan nasional. Di tengah memanasnya hubungan diplomatik, ketegangan militer juga terus meningkat. Media Iran melaporkan serangan rudal Amerika Serikat menghantam barak militer Bambur di Iranshahr, Provinsi Sistan dan Baluchestan, Rabu pagi.
Menurut Kantor Berita Tasnim, serangan yang disebut melibatkan 13 rudal itu mengakibatkan tujuh personel Angkatan Darat Iran tewas dan beberapa lainnya mengalami luka-luka. Dalam pernyataan resminya, Angkatan Darat Iran mengecam serangan tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan agresi yang akan mendapat balasan. “Serangan ini merupakan agresi pengecut dan akan kami respons pada waktu yang tepat,” demikian pernyataan militer Iran.
Laporan media Iran juga menyebutkan adanya ledakan di Bandar Abbas, Pulau Kish, dan Provinsi Bushehr di tengah berlanjutnya operasi militer Amerika Serikat di sekitar Selat Hormuz serta pembatasan terhadap aktivitas maritim Iran. Rangkaian pernyataan politik dan eskalasi militer tersebut semakin memperbesar ketidakpastian mengenai masa depan hubungan Iran dan Amerika Serikat, sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas keamanan di kawasan Teluk dan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.

















Leave a Comment