Sok-Sokan Ingin “Fokus Ibadah”, Malah Kena Jebakan Syahwat Halus!

Harakatuna

16/07/2026

4
Min Read
Sok-Sokan Ingin "Fokus Ibadah", Malah Kena Jebakan Syahwat Halus!

Harakatuna.com – Pernahkah Anda kehilangan semangat dan merasa lelah dengan kehidupan yang mengharuskan kita bekerja, belajar, serta memikul berbagai beban lainnya, hingga terlintas dalam benak, “Andaikan saja aku bisa terlepas dari tanggung jawab duniawi dan hanya memfokuskan hidupku untuk beribadah serta mendekatkan diri kepada Sang Ilahi.”

Bagi sebagian orang, pikiran seperti itu dianggap sebagai panggilan spiritual, bahkan dipandang sebagai tanda bahwa seseorang telah mencapai tingkatan rohani yang tinggi dan tidak lagi terbelenggu oleh urusan dunia.

Namun, benarkah keinginan untuk “melarikan diri” dari realitas dunia dapat dibenarkan? Apakah keinginan tersebut benar-benar lahir dari kerinduan yang tulus kepada Allah? Ataukah justru merupakan dorongan ego yang merasa gagal menghadapi kerasnya kehidupan?

Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam kitab Al-Hikam memberikan penjelasan yang sangat mendalam untuk membedakan keduanya: apakah kita benar-benar mengharapkan Allah atau justru sedang menyembunyikan ego di balik atribut kesalehan.

إرادتك التجريد مع إقامة الله إياك في الأسباب من الشهوة الخفية، وإرادتك الأسباب مع إقامة الله إياك في التجريد انحطاط عن الهمة العالية

“Keinginanmu untuk terlepas dari urusan dunia, padahal Allah telah menempatkanmu pada sebab-sebab (ikhtiar duniawi), termasuk syahwat yang tersembunyi. Sebaliknya, keinginanmu untuk kembali kepada sebab-sebab duniawi ketika Allah telah menempatkanmu dalam keadaan tajrid merupakan kemunduran dari cita-cita yang luhur.”

Ibnu Athaillah menjelaskan bahwa manusia berada dalam dua posisi di hadapan Allah. Pertama, maqam asbab, yaitu ketika Allah menempatkan seseorang untuk menjalani berbagai sebab kehidupan, seperti bekerja, belajar, berkeluarga, dan menjalankan ibadah lahir maupun batin. Kedua, maqam tajrid, yaitu keadaan ketika Allah membebaskan seseorang dari berbagai urusan dunia sehingga ia dapat lebih fokus beribadah kepada-Nya.

Permasalahan muncul ketika seseorang ingin berpindah dari maqam yang telah Allah tetapkan. Ada yang berada di maqam asbab, tetapi ingin hidup sepenuhnya dalam tajrid. Sebaliknya, ada pula yang telah diberi maqam tajrid, tetapi justru ingin kembali tenggelam dalam urusan dunia.

Lalu, bagaimana mengetahui bahwa Allah telah menempatkan kita pada salah satu maqam tersebut?

Tanda bahwa Allah menempatkan kita pada maqam asbab adalah ketika Dia menyediakan berbagai sarana agar kita dapat menjalankan pekerjaan, pendidikan, atau aktivitas dunia dengan baik, sementara agama tetap terjaga, terhindar dari sifat tamak, dan ibadah lahir maupun batin tidak terganggu.

Adapun tanda seseorang berada pada maqam tajrid ialah ketika Allah mencukupi kebutuhan primernya, seperti makan, minum, dan pakaian, melalui jalan yang tidak disangka-sangka. Hatinya dipenuhi ketenangan, jiwanya tenteram, dan ibadahnya tetap istiqamah meskipun berada dalam keterbatasan. Dari tanda-tanda tersebut, seseorang dapat mengenali posisinya: apakah berada di maqam asbab atau maqam tajrid.

Lantas, mengapa Ibnu Athaillah menyebut keinginan meninggalkan urusan dunia sebagai bentuk syahwat yang tersembunyi?

Imam Asy-Syarqawi dalam syarahnya menjelaskan bahwa keadaan tersebut termasuk tipu daya ego yang sangat halus. Secara lahiriah, seseorang tampak ingin mendekat kepada Allah melalui ibadah. Namun, jauh di dalam batinnya tersimpan keinginan agar dikenal sebagai ahli ibadah atau bahkan dianggap sebagai seorang wali, sehingga banyak orang datang menghormati dan menjadikannya panutan.

Ego sering kali menyamar dalam bentuk yang tampak saleh. Keinginan yang terlihat suci belum tentu benar-benar lahir karena Allah. Bisa jadi, itu hanyalah hasrat untuk memperoleh pengakuan manusia atau sekadar pelarian dari tanggung jawab hidup yang terasa berat.

Sebaliknya, ketika seseorang telah dianugerahi maqam tajrid, yakni ketika Allah telah mencukupi seluruh kebutuhan dunianya sehingga ia dapat lebih fokus beribadah, tetapi ia justru ingin kembali tenggelam dalam kesibukan dunia karena dorongan ambisi dan keserakahan, maka hal itu menunjukkan adanya kemunduran spiritual. Ia menukar ketenangan batin dengan kelelahan yang tiada berkesudahan.

Karena itu, apabila hari ini Anda masih menjalani profesi sebagai pedagang, guru, pegawai, mahasiswa, atau pekerjaan lainnya, jalankanlah semuanya sebagai bentuk ibadah kepada Allah. Menjadi seorang wali tidak mengharuskan seseorang meninggalkan seluruh tanggung jawab dunia, sebagaimana bekerja juga tidak menjadikan Allah jauh dari hamba-Nya.

Inti pembahasan ini bukanlah menentukan mana yang lebih utama antara maqam asbab (bekerja dan berikhtiar) atau maqam tajrid (berkhalwat dan beribadah penuh). Yang terpenting adalah memahami konsep penempatan yang telah Allah tetapkan.

Tetaplah menjalani posisi yang Allah kehendaki dengan penuh kerelaan hingga Dialah sendiri yang memindahkan kita ke maqam berikutnya. Jangan memaksakan diri berpindah hanya karena dorongan ego dan hawa nafsu sebelum tanda-tanda tersebut benar-benar Allah hadirkan dalam kehidupan kita.

Jika keinginan berpindah maqam hanya didorong oleh ambisi pribadi, besar kemungkinan itu hanyalah tipu daya setan agar seseorang terjerumus ke dalam samudra keterputusan dari rahmat Allah.

Sebagai penutup, renungkanlah pertanyaan berikut: “Apakah Anda benar-benar sedang mendekatkan diri kepada Allah, atau sebenarnya hanya sedang melarikan diri dari kerasnya kehidupan dunia?”

Oleh: Arif Rieza Pratama (merupakan mahasiswa pascasarjana Universitas Negeri Malang sekaligus santri Pesantren Luhur Baitul Hikmah Kepanjen, Malang).

Leave a Comment

Related Post