Fatayat NU Sumenep Perkuat Peran Perempuan Tangkal Radikalisme dan Terorisme Melalui Literasi Keagamaan

Ahmad Fairozi, M.Hum.

16/07/2026

3
Min Read

Harakatuna.com. Sumenep – Pimpinan Cabang (PC) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Sumenep menggelar kajian bertajuk “Ngaji Perempuan dan Radikalisme” di Graha Universitas PGRI (UPI) Sumenep, Jawa Timur, Selasa (14/7/2026). Kegiatan tersebut menjadi forum penguatan literasi keagamaan dan kebangsaan guna meningkatkan peran perempuan dalam mencegah penyebaran paham radikalisme, ekstremisme, dan terorisme.

Sekitar 100 peserta mengikuti kegiatan tersebut, terdiri atas perwakilan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat NU se-Kabupaten Sumenep, pengurus PC Fatayat NU, badan otonom Nahdlatul Ulama, hingga perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Perwakilan panitia, Roudlatun, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Sumenep dan AMAN Indonesia yang telah mendukung penyelenggaraan kegiatan tersebut.

Ketua PC Fatayat NU Sumenep Dina Kamilia mengatakan kajian tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat kapasitas kader perempuan dalam memahami isu-isu keagamaan dan kebangsaan, termasuk tantangan penyebaran paham radikal. Menurutnya, kegiatan itu melanjutkan berbagai program pemberdayaan perempuan yang telah dijalankan Fatayat NU, seperti MAPAN (Madrasah Perempuan), LKP3A, dan Malate Center.

“Melalui kegiatan Ngaji Perempuan dan Radikalisme ini kami berharap lahir pemimpin-pemimpin dari desa, baik yang mampu memimpin masyarakat maupun memimpin dirinya sendiri. Pada hakikatnya tidak ada orang yang pintar, yang ada adalah orang yang terus mau belajar,” ujar Dina.

Dalam sesi materi, Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Sumenep Halqi menegaskan bahwa ajaran Islam pada dasarnya membawa nilai kasih sayang, kedamaian, dan kemaslahatan bagi umat manusia. Namun, menurutnya, tantangan muncul ketika ayat-ayat Al-Qur’an disalahgunakan untuk membenarkan tindakan kekerasan.

BACA JUGA  Bupati Landak Ingatkan Peran Keluarga Tangkal Radikalisme dan Dampak Medsos

“Dinamika zaman memunculkan tantangan berupa agenda radikalisme, ekstremisme, dan terorisme,” katanya.

Halqi menjelaskan bahwa radikalisme dalam pengertian epistemologis berbeda dengan tindakan terorisme. Persoalan muncul ketika pemahaman agama dimanipulasi untuk melegitimasi aksi kekerasan.

Berdasarkan pengalamannya, penyimpangan tersebut sering kali berawal dari semangat beragama yang tinggi, tetapi tidak diimbangi dengan pemahaman keilmuan yang memadai. Ia mengajak masyarakat mengedepankan prinsip tawasuth atau moderasi sebagai fondasi kehidupan beragama dan berbangsa.

“Islam yang tawasuth menjadi kunci dalam menjalankan kehidupan beragama sekaligus bernegara agar terhindar dari radikalisme yang bersifat destruktif,” ujarnya.

Selain membahas isu radikalisme, forum juga menyoroti pentingnya memperkuat perspektif perempuan dalam kajian keislaman. Halqi menilai dominasi laki-laki dalam tradisi penafsiran agama menjadi tantangan yang perlu dijawab melalui lahirnya lebih banyak ulama dan penafsir perempuan.

Direktur AMAN Indonesia Dwi Robiyati Chalifah dalam kesempatan yang sama mengajak perempuan memperkuat budaya literasi agar tidak mudah terpengaruh narasi keagamaan yang menyimpang. “Dengan memperbanyak membaca, perempuan tidak akan mudah dibutakan atau dimanipulasi oleh narasi-narasi yang keliru,” katanya.

Melalui kegiatan tersebut, PC Fatayat NU Sumenep menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat literasi keagamaan, moderasi beragama, serta peran strategis perempuan dalam menjaga persatuan bangsa dan mencegah berkembangnya paham radikalisme, ekstremisme, dan terorisme.

Leave a Comment

Related Post