31.7 C
Jakarta

Dakwah Melawan Paham Radikal di Tengah-Tengah Politik

Artikel Trending

Islam dan Timur TengahIslam dan KebangsaanDakwah Melawan Paham Radikal di Tengah-Tengah Politik
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Semenjak masuk Partai NasDem, saya mendapatkan banyak pertanyaan, lebih-lebih dari teman sendiri, terkait masa depan partai besutan Pak Surya Paloh itu. Apakah NasDem akan tetap berpegang teguh pada ideologinya: menegakkan nasionalisme ataupun berpindah ideologi menjadi cinta Khilafah ala kaum radikal itu? Pertanyaan ini mengajak saya berpikir dan bertanya, ”Masa partai sebesar NasDem itu ikut haluan pasar? Kayaknya tidak begitu!”

Dari beberapa sumber yang saya baca, kekhawatiran bangsa ini terhadap partai yang berpegang pada nilai-nilai nasionalisme, termasuk NasDem itu sendiri, bermulai semenjak dideklarasikannya Anies Baswedan sebagai calon presiden 2024 dari Partai NasDem. Para relawan Jokowi yang punya masa lalu yang menyakitkan dengan Anies terpukul dan akhirnya mereka membuat narasi sinis bahwa partai nasionalis seperti NasDem telah terpapar radikalisme.

Melihat kenyataan ini, saya tetap optimis bahwa NasDem akan menjadi partai politik yang berpegang teguh pada nilai-nilai nasionalisme. Apalagi, NasDem ini bukanlah partai kemarin sore yang buta akan peta politik di Indonesia ini. Pak Surya Paloh sebagai King Maker sudah mempertimbangkan plus-minusnya sebelum mengambil keputusan itu. Tentu, Pak Surya tidak bakal mengorbankan negeri ini hanya sebatas kepentingan politik semata. Karena, kepentingan negeri ini jauh di atas segalanya.

Kemudian, persoalan PKS yang disebut-sebut sebagai partai radikal, berkoalisi dengan NasDem tentu tidak menjadi hal yang bermasalah. Yang terpenting, NasDem mampu menjadi subjek (fa’il) atau pengendali dan pemberi pengaruh terhadap partai itu. Jika NasDem mampu mengubah PKS menjadi partai yang cinta NKRI maka akan menjadi keuntungan bagi bangsa ini untuk hijrah atau kembali ke jalan yang benar. Jadi, tidak perlu takut berkoalisi dengan partai apapun selagi mampu memberikan pengaruh.

BACA JUGA  Quraish Shihab dan Nilai-nilai Moderasi yang Diperjuangkan

Pentingnya membaur dengan siapapun tanpa pandang sudut pemikirannya apa, juga dilakukan oleh pendakwah Wali Songo di tanah Jawa. Masyarakat yang pada mulanya belum memeluk Islam, setelah Wali Songo masuk di dalamnya mereka tertarik untuk masuk Islam. Itu adalah teknik dakwah yang baik. Tidak menjauhi orang yang belum mendapat hidayah di jalan yang benar. Melainkan mendekatinya dengan kata-kata yang lemah-lembut dan sikap yang santun. Karena dengan cara itulah hidayah Allah akan bersemi di hati mereka.

Setelah itu, ada seorang ulama besar tanah air KH. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur juga ikut terlibat dalam dakwah. Hanya saja beliau lebih terjun langsung dalam dakwah di tengah-tengah politik. Politik yang dalam tudingan banyak orang adalah lahan yang kotor, maka Gus Dur ubah menjadi lahan yang tandus untuk berdakwah. Dakwah Gus Dur lebih kepada persatuan di tengah perbedaan.

Berkat kegigihan dan kelemah-lembutan Gus Dur, bangsa ini tak jadi terpecah karena berbeda. Berbeda bagi Gus Dur bukan sesuatu yang keliru apalagi sesat. Berbeda adalah rahmat yang Allah anugerahkan kepada semesta. Kemudian, dakwah Gus Dur setelah tiadanya dijaga dan dikembangkan oleh komunitas GusDurian.

Sebagai penutup, tidak perlu takut partai nasionalis berkoalisi dengan partai radikalis atau apa sebutannya. Yang terpenting, partai itu mampu memberikan pengaruh positif atau belum. Jika mampu, memang sebaiknya harus mendekati partai radikalis agar hijrah menjadi lebih baik.[] Shallallah ala Muhammad.

Khalilullah
Khalilullah
Penulis kadang menjadi pengarang buku-buku keislaman, kadang menjadi pembicara di beberapa seminar nasional

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru