31.7 C
Jakarta

Dai dan Khatib di Kota Mojokerto Diminta Waspadai Bibit Radikalisme

Artikel Trending

AkhbarDaerahDai dan Khatib di Kota Mojokerto Diminta Waspadai Bibit Radikalisme
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Mojokerto – Pemberantasan bibit radikalisme di tanah air terus dilakukan Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror. Untuk membangun silaturahmi, persaudaraan, dan perdamaian bangsa, dai dan khotib se-Kota Mojokerto dikumpulkan di Pendapa Sabha Mandala Tama Pemkot Mojokerto.

Ada sebanyak 100 orang dai dan khatib di Kota Mojokerto mengikuti kegiatan tersebut. Dalam kesempatan tersebut, tiga narasumber dihadirkan yakni Guru Besar Bidang Sosiologi Uinsa, Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si, Komisi Fatwa MUI Jawa Timur KH Ma’ruf Khozin dan napiter Ustadz Abu Fida.

Kanit 1 Subdit Kontra Ideologi, Densus 88 Anti Teror, AKBP Moh Dofir mengatakan, Direktorat Pencegahan Densus 88 Polri bersinergi dengan Kementerian Dalam Negeri, Kementrian Agama dan instansi terkait serta organisasi masyarakat (ormas) Islam untuk menumbuhkan Islam yang damai dan cinta tanah air.

“Kegiatan di Kota Mojokerto ini yang ke 19 dan nanti akan dilanjutkan ke seluruh wilayah atau provinsi yang lain. Kegiatan ini merupakan bersilaturahmi antara da’i dan khotib untuk Indonesia damai karena da’i dan khotib sebagai agen narasi (Islam Wasathiyah, red) di masyarakat,” ungkapnya, Sabtu (15/10/2022).

Berbagai seminar dan webinar tentang bahaya dan ancaman intoleransi dan radikalisme digelar. Karena radikalisme merupakan lahan subur untuk berkembangnya kejahatan terorisme dan salah satu indikator yang menjadi bibit radikalisme yaitu intoleransi.

“Sikap intoleransi merupakan bentuk pengingkaran terhadap kebhinekaan dan bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila maupun norma-norma agama yang beradab. Salah satu hal yang sangat mendasar untuk memerangi terorisme dan radikalisme adalah mengembangkan sikap toleransi dan menghilangkan eklusifisme kelompok,” jelasnya.

Strategi pencegahan intoleransi bisa dilakukan dengan kampanye toleransi, pembinaan sikap toleransi yang terintegrasi dan penanaman nilai luhur ideologis Pancasila dan budaya intoleransi. Upaya dalam mencegah radikalisme secara mandiri dilakukan dengan berbagai cara.

“Yakni menanamkan jiwa nasionalisme, berfikir terbuka, waspada terhadap provokasi dan hasutan, berjenjang dalam komunitas perdamaian. Kegiatan ini sangat strategis karena dai dan khotib yang terjun langsung di lingkungan masyarakat sehingga diharapkan bisa mengajak masyarakat untuk mencegah paham intoleransi dan radikalisme,” ujarnya.

Islam Wasathiyah adalah jalan tengah yang moderat dan toleran. Islam Wasathiyah merupakan Islam yang tidak ekstrim ke kanan dan tidak ekstrim ke kiri. Menurutnya, Islam Wasathiyah membawa kita menjadi sosok yang adil, saling pengertian dan tidak memecah belah.

BACA JUGA  Jaga Toleransi, Kediri Bentuk Kampung Moderasi Beragama

“Di dalam Al-Qur’an itu, surat Al-Baqarah ayat 143. Semoga para da’i dan khotib ini bisa memedomani bahwa perdamaian, persaudaraan, itu yang utama. Jangan sampai para da’i dan khotib ini menjelek-jelekkan, menyebarkan khutbah yang kurang bagus, itu yang kita waspadai,” katanya.

Sehingga pihaknya berharap, da’i dan khotib yang merupakan sebagai kontrol di masyarakat agar tidak melebar kemana-mana. Kanit 1 Subdit Kontra Ideologi menambahkan, sebelumnya kegiatan yang sama juga digelar di Kabupaten Mojokerto yakni di Masjid Gemekan.

“Dengan 2 kali kegiatan silaturrahmi para dai dan khotib wasathiyah dalam rangka Penguatan Islam Wasathiyah untuk Membangun Persaudaraan dan Perdamaian Bangsa ini, ada jaringan kelompok radikal di Mojokerto Kota dan Kabupaten Mojokerto. Alhamdulillah ada 6 anggota yang mau keluar dari pembaitan dari kelompok JAD dan JAT,” pungkasnya.

Sementara itu, Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari melalui Kepala Bakesbangpol Kota Mojokerto, Mochamad Imron mengatakan, ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi dari hasil Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Bakesbangpol seluruh Indonesia di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.

“Yakni yang pertama, NKRI menghadapi goncangan krisis ekonomi dan kedua perang Ukraina dengan Rusia belum selesai sampai sekarang. Dua indikator ini, bawasanya negara di dunia ini akan mengalami krisis ekonomi. Alhamdulillah krisis Covid-19, kita bisa melewati. Mudah-mudahan krisis ekonomi ini bisa kita lewati,” tuturnya.

Ketiga yakni disintegrasi bangsa. Dengan kegiatan tersebut, lanjut Imron, dinilai cukup baik. Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto sebelumnya juga telah menggelar kegiatan serupa dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dengan peserta dari pastur, pemuka agama lainnya.

“Karena tidak di Islam saja ternyata terjadi radikalisme itu. Tapi di semua elemen masyarakat sekarang ini terjadi disintegrasi bangsa. Termasuk masalah narkoba karena semua elemen masyarakat sudah masuk dalam penyalahguna narkoba sehingga harapan kami, mari kita jaga keluarga terhindar dari narkoba,” harapnya.

Masalah narkoba, tegas Imron, sama dengan terorisme yakni pertama diberikan secara gratis, enak akhirnya ketagihan. Sehingga pihaknya mengajak untuk menghadapi tiga hal tersebut bersama-sama yakni krisis ekonomi, disintegrasi bangsa dan menghindari dari bahaya narkoba.

Ahmad Fairozi
Ahmad Fairozihttps://www.penasantri.id/
Mahasiswa UNUSIA Jakarta, Alumni PP. Annuqayah daerah Lubangsa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru