25.4 C
Jakarta

Curhatan Diva (Bagian XXII)

Artikel Trending

Habib yang Menjamur

Dulu, saat saya kecil, di jalan-jalan tidak pernah terpampang baliho. Suasana damai sekali, bahkan tatkala gaduh pun, ya, paling itu karena persoalan biasa. Tidak...

Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi Menurut Islam

Tali pusar adalah jalan yang menghubungkan antara ibu dan bayinya ketika masih dikandungan. Tali pusar ini berfungsi untuk menyalurkan makanan dan oksigen dari ibu...

Rizieq Shihab Mati Langkah?

Pesta penyambutan kepulangan Rizieq Shihab berubah menjadi bencana bagi masa depan perjuangan politik Rizieq Shihab dan kawan-kawan. Belum genap satu bulan menginjak kaki di...

Ampuhnya Doa Orang Puasa

Berbicara tentang manjurnya doa orang puasa sejenak kita akan langsung tertuju pada sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr...

Makna Rahmat dalam Al-Qur’an Al-Karim

Rahmat terdiri dari tiga huruf râ’, hâ’, dan mîm. Menurut Ibnu Faris dalam Maqâyîs al-Lughah setiap kata Arab yang berakar dari tiga huruf râ’,...

Relasi Iman, Keadilan dan Demokrasi ala Cak Nur

Nurcholish Madjid, atau yang biasa dipanggil Cak Nur, dikenal luas sebagai salah satu cendekiawan Muslim terbesar di Indonesia. Pemikirannya merupakan suatu usaha untuk mencari...

Bagaimana Hukum Memberi Nasehat dalam Islam?

Tahukah kalian, mengapa agama merupakan suatu nasehat? Kehidupan seseorang bisa berubah dengan nasehat anda. Jalan kehidupan seseorang juga bisa berubah sedemikian baik lantaran duduk...

Wudhu Menurut aL-Qur’an dan Sunah

Wudhu merupakan ritual penting dalam Islam untuk menjaga kesucian dalam beribadah. Perintah dan dasar landasan berwudhu berangkat dari firman Allah swt dalam QS al-Maidah...

Berdua mengintip senja kala itu serasa di depan mata. Momen itu terkesan berharga dalam hidup Diva. Catatan harian diwarnai kegembiraan. Belum ada momen membahagiakan selain kebersamaan. Tidak penting cinta diumbar, cukup dirasakan berdua saja, karena itu cara terindah.

Suatu malam Diva duduk seorang diri di beranda bilik. Melihat menara masjid yang pertama kali pertama dipandang saat menginjakkan kaki di pesantren. Cinta membahagiakan seakan tidak mau melepaskannya. Inginnya cinta ini menjulang setinggi menara masjid.

Entahlah, kenapa saat melihat menara masjid rasanya tidak mau melepaskannya. Ingin rasanya menulis mimpi masa depan di puncak menara. Tapi, ini hanya mimpi seakan sulit berada di sana. Karena statusnya santri putri, sementara menara itu berada di area pesantren putra. Diva memotivasi dirinya untuk tidak patah semangat. Suatu saat aku akan menulis cerita yang indah di atas manara sembari mengintip senja, batinnya.

Sebuah bolpoin yang digenggamnya menari-nari di buku diarynya. Menulis yang dirasakan, termasuk yang terbersit dalam benak.

Pesantren kini menjeratku dalam sebuah kata, cinta. Apa itu cinta? Ah… aku makin tidak mengerti. Cinta itu menyenangkan aja dah. Hehehe.

Kok cinta jadi lucu ya. Bisa buat aku ketawa sendiri. Tapi, aku nggak gila, kan?! Hmmm aku masih ingat kok. Mungkin aku gila cinta aja. Hehehe.

Malam ini menemaniku seorang diri. Kesunyian ternyata tidak selamanya menyebalkan. Buktinya, aku senang kok. Aku bisa tersenyum sendiri.

Fairuz! Kau siapa sih? Tiba-tiba datang mengetuk hati ini. Aku terperanjat tahu. Karena, aku terlelap dalam tidur yang menyebalkan. Aku bahagia membukakan pintu jika kau yang datang.

Kita baru ketemu kemarin. Itu hanya sebentar. Tapi, nggak apa-apa. Biar Tuhan mempertemukan kita nanti. Entah, kapan ya.

Kau datang membawa kado cinta saat senja mengintip di tepi danau. Sore itu rasanya tidak cepat berlalu. Begitu malam menjelang kau serahkan kado itu dan kubuka. Ternyata, itulah cinta ya.

Malam ini begitu membahagiakan. Tidak ingin berhenti menulis. Menulis yang telah usai.

Buku diary dibaca ulang dan ia pun senyum sendiri. Selain belajar kepada Nadia, Diva rutin menulis diary. Menulis diary adalah cara termudah berlatih menulis. Apa yang terlintas di benak bisa langsung ditulis, baik cerita bahagia seperti cerita Diva di atas ataupun cerita menyedihkan semisal cerita Diva yang sudah-sudah. Sebelum tidur ingin rasanya melihat menara kembali. Diva merindukan Fairuz. Maunya bertemu, tapi tidak bisa, karena peraturan pesantren yang amat ketat. Bisa-bisa dipulangkan jika ketahuan berkhalwat. Tak ada cara untuk membingkai rindu ini selain curhat di buku diary, karena tulisan akan menjadi saksi yang abadi. Di samping itu, boleh jadi dengan doa, karena tak ada hadiah yang paling indah selain doa.

* Tulisan ini diambil dari buku novel “Mengintip Senja Berdua” yang ditulis oleh Khalilullah

Khalilullah
Khalilullah
Lulusan Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Ideologi Teroris dan Cara Memberantasnya

Ideologi teroris dan sikapnya dalam dasawarsa mutakhir ini semakin memiriskan. Pemenggalan demi pemenggalan atas nama agama mereka lakukan. Sungguh begitu banyak contoh untuk dibeberkan atau...

Pandemi Covid-19 Tak Kurangi Ancaman Radikalisme

Harakatuna.com. Jakarta-Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menyebut pandemi virus korona (covid-19) tidak menghentikan ancaman radikalisme dan terorisme. Hal itu terjadi di...

Serial Kebangsaan (I): Spirit Kebangsaan dan Kelalaian FPI

Sekitar semingguan kemarin, saya dapatkan sebuah buku yang cukup menarik dan tentunya masih relevan dibaca di era sekarang, apalagi buku ini baru saja launching....

Bom Mobil Meledak di Afghanistan, 30 Petugas Keamanan Tewas

Harakatuna.com. Ghazni-Sebuah mobil berisi bom meledak di Provinsi Ghazni, Afghanistan. Setidaknya 30 aparat keamanan tewas akibat ledakan tersebut. Seperti dilansir Reuters, Senin (30/11/2020), Direktur Rumah...

Uang Kertas Mengalami Perubahan Nilai, Bagaimana dengan Mekanisme Pembayaran Hutang?

Sudah kita ketahui bersama bahwa seiring perubahan zaman maka berubah pula nilai sebuah mata uang. Terdapat beberapa kasus yang memiliki inti permasalahan sama, yakni...

Eks Napiter, Haris Amir Falah Sebut Paham Radikalisme Mengancam Pancasila

Harakatuna.com. Solo – Munculnya paham radikalisme ekstrem yang tersebar di wilayah Indonesia mengancam Pancasila dan kedaulatan NKRI. Hal ini perlu diantisipasi, mengingat mereka telah...

Wanita dalam Pusaran Aksi Radikalisme dan Terorisme

Berbagai aksi terorisme dan radikalisme dalam beberapa dasawarsa ini kain “subur” terlebih di era milenial ini. Bergama aksi teror di Indonesia semakin banyak terjadi...