30.5 C
Jakarta

Cerita tentang Natal dan Inklusifitas Keberagamaan

Artikel Trending

KhazanahTelaahCerita tentang Natal dan Inklusifitas Keberagamaan
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com-Natal tahun 2022, menjadi salah satu momen berharga dalam perjalanan keberagaman yang saya jalani. Sebab ada beberapa gereja yang saya kunjungi untuk mengikuti open house. Sejenis halal bihalal jika dalam tradisi masyarakat muslim. Pertama, Malam natal kemarin (24/12), saya mengunjungi Gereja Kristen Indonesia (GKI) Gejayan, Yogyakarta. Lokasinya sebelah Universitas Mercu Buana. Sejak pukul 19.00 antrian panjang untuk menuju tempat ini. Sebab orang-orang yang melakukan doa, dibagi berbagai kloter karena kapasitas gereja tidak terlalu luas.

Kedua, pada hari Natal (25/12) saya berkunjung ke Syantikara dan CB Sister Yogyakarta dengan kegiatan yang sama, yakni open house. Ada hal yang menjadi refleksi ketika berkunjung ke rumah ibadah dalam peringatan hari besar tersebut, yakni, perilaku yang tidak sama, yang dilakukan oleh umat Islam. Dalam tradisi umat Islam, seperti idul fitri, bisakah kita mengundang pada nonmuslim untuk ikut serta dalam kegiatan halal bihalal?

Ada pembicaraan yang cukup satire ketika saya berbicara dengan mas Petra, panggilan akrab penanggung jawab bagian kepemudaan di GKI. Ketika semua orang antri untuk melaksanakan doa, saya bertanya mengapa tidak sekalian doa dilaksanakan dalam kurun waktu yang sama. Apakah tidak bisa dilakukan renovasi untuk memperluas wilayah yang ada di gereja.

Mas Petra menjawab sambil tersenyum, “Kami ini minoritas, kalau gerejanya diperluas, nanti ada yang tidak terima,” kami sambil tertawa.

Tidak hanya itu, di beberapa percakapan, ketika kami mengatakan bahwa di GUSDURIan Yogyakarta ada pendeta yang masuk GUSDURIan, Mas Petra spontan bertanya, “itu mau masuk komunitas apa cari perlindungan,” mendengarkan pertanyaan tersebut kami spontan tertawa bersama.

Satire memang dari 2 topik percakapan di atas. Sebab kalau lihat beberapa kasus di Yogyakarta tentang gereja masa silam, ternyata ada beberapa kejadian penolakan tentang gereja. Selama 5 tahun terakhir, ini ada beberapa kasus, di antaranya:

Pertama, tahun 2019. Warga memprotes pendirikan gereja karena pemiliknya, pendeta Tigor Yunus Sitorus, ketika membeli tanah pada tahun 2022 silam sudah menandantangani surat pernyataan yang berisi janji bahwa tanah yang dibelinya hanya akan dibangun rumah. Kejadian ini tepatnya di RT 34 Kampung Gunung Bulu, Desa Argorejo, Kecamayan Sedayu, Bantul, Yogyakarta.

Kedua, pada tahun 2017 Panitia Pusat Kebaktian Nasional Reformasi 500 Tahun Gereja Tuhan memutuskan membatalkan acara Kebaktian Nasional Reformasi 500 Tahun Gereja Tuhan yang rencananya akan diselenggarakan di Stadion Kridosono, Yogyakarta dengan alasan kondisi tidak kondusif dan banyak mendapatkan surat keberatan apabila kegiatan tersebut dilaksanakan.

Ketiga, pada tahun 2020, Rumah Kepala Dusun Grogol 1 Desa Bejiharjo, Karangmojo, Gunung Kidul, Agung Waluyo penuh belasan warga yang menolak pendirian Gereja Kristen Jawa dengan alasan kristenisasi.

Berdasarkan beberapa kasus di atas, kita memahami bahwa pendirian gereja di Indonesia, khususnya di Yogyakarta, masih sangat terkendala dengan berbagai kendala.

Belajar inklusifitas dari perayaan natal

Seperti apapun cerita di atas, saya belajar banyak sebuah momen perjumpaan yang terasa betul, kesan dan pesan menjadi minoritas. Berkunjung ke gereja di momen natal, adalah hal yang sangat mengharukan. Saya mendapatkan kisah-kisah menarik dari mereka berkenaan dengan pengalaman keberagamaan. Sebab pada waktu kecil, doktrin agama memberikan pemahaman kepada saya bahwa, umat muslim tidak boleh memasuki gereja. Jangan masuk dalam gereja, berteman dengan orang nonmuslim saja tidak boleh. Sebab hukumnya haram.

Saya justru berpikir bahwa, dialog dan perjumpaan beda agama sangat penting untuk dilakukan agar kita saling berbagai rasa satu sama lain, menciptakan ketenangan dan kedamaian dalam hidup sangat penting untuk dibicarakan. Sebab hal itu adalah tujuan masing-masing individu hidup. Dalam pertemuan tersebut saya justru bertanya, “Mengapa kita tidak melaksanakan halal bihalal selepas sholat di masjid dengan mengundang tokoh-tokoh agama yang lain? bukankah hal itu sangat penting untuk dilakukan dalam rangka meningkatkan hubungan antar umat beragama?

Namun, doktrin agama kita meyakini bahwa, orang nonmuslim tidak boleh mengunjungi masjid. lebih dari itu, apapun doktrin keyakinan yang kita pegang, semestinya sebuah pertemuan dan dialog agama sangat penting untuk dilakukan. Hal ini menjadikan kita berefleksi, sebagai mayoritas, sudahkah kita mampu untuk menciptakan ruang bagi kelompok agama minoritas? Melaksanakan agama dengan penuh kenyamanan, tanpa takut di grebek ataupun mengalami ancaman baik secara fisik ataupun psikis.

Refleksi ini sangat penting untuk kita tanamkan dalam diri sebagai bangsa Indonesia yang tidak bisa menolak keberagaman agama. Mengutip kata Gus Dur ketika menyeru untuk menjaga gereja, “Kamu niatkan jaga Indonesia, bila nggak mau jaga gereja. Sebab gereja itu ada di Indonesia, Tanah Air kita. Tidak boleh ada yang menganggu tempat ibadah agama apapun di bumi Indonesia.”

Kita semua adalah saudara sebangsa dan se-tanah air yang berada dalam satu wilayah Indonesia. Dengan demikian, kewajiban kita adalah menjaga seluruh bangsa Indonesia yang sangat beragam ini. Wallahu a’lam

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru