27.8 C
Jakarta

Cara Mengatasi Kebiasaan Tidak Bisa Fokus Saat Menulis

Artikel Trending

KhazanahLiterasiCara Mengatasi Kebiasaan Tidak Bisa Fokus Saat Menulis
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Saat Anda masih merasa kesulitan membuat alur tulisan yang mengalir, menarik dan terarah, bisa saja salah satu sebabnya adalah sudut pandang tulisan yang Anda tentukan belum kokoh. Hingga pada akhirnya, saat menulis berakibat pembahasannya melebar jauh dari apa yang pertama ingin Anda tuliskan. Kurang fokus.

Analogikan ketika Anda memotret sesuatu, pastinya Anda akan menentukan dari sudut mana objek tersebut hendak Anda bidik. Dalam penentuan tersebut, Anda pastinya akan mempertimbangkan pesan apa yang ingin Anda sampaikan kepada para khalayak terhadap suatu foto. Misalnya, bisa dari pesan keindahan, moral dan lain sebagainya.

Sesudah Anda pertimbangkan dan tentukan, teknisnya adalah titik fokus pada objek yang akan dipotret tersebut. Anda pasti akan fokus pada objek tersebut, tanpa sedikitpun mengedipkan mata saat memotret. Harapannya jelas, supaya fokus yang telah terkonsep tidak goyah, tidak cacat seperti foto blur dan lainnya.

Begitupun dengan menulis. Anda harus menentukan sudut pandang dalam tulisan supaya bisa tetap fokus. Dalam satu objek masalah misalnya, mungkin terdapat lima sampai tujuh sudut pandang yang bisa kita ambil. Namun cobalah pilih satu saja sudut pandang, supaya Anda bisa fokus dalam menulis.

Namun jika Anda ingin membuat tulisan yang menarik dan diminati pembaca, salah satu caranya adalah dengan menggunakan sudut pandang kebaruan, yaitu sudut pandang baru yang tidak digunakan oleh penulis-penulis lain.

Fokus Melalui Outline

Sesudah menentukan sudut pandang, langkah selanjutnya yaitu membuat outline. Outline bisa kita maknai sebagai kerangka tulisan sementara. Atau bisa kita maknai sebagai sebuah peta atau jalur pembahasan pada tulisan, supaya tetap fokus pada sudut pandang yang kita ambil, sampai tulisan itu selesai.

BACA JUGA  Ingat! Menulis Itu Bukan untuk Ingin Jadi Apa dan Siapa

Mungkin bisa kita analogikan seperti saat Anda sedang melangsungkan suatu perjalanan ke luar kota atau suatu tempat yang baru, maka Anda akan beristirahat sejenak dan bertanya kepada seseorang perihal tempat yang akan Anda tuju. Menulis pun juga demikian, perlu membuat outline, supaya pembahasan tulisan Anda tetap fokus dan terarah.

Misalnya, pada paragraf pertama hingga paragraf keempat, adalah latar belakang. Kemudian paragraf lima sampai tujuh adalah isi atau analisis penulis. Paragraf kedelapan hingga akhir tulisan, berisi sikap penulis atau kesimpulan dari tulisan.

Bagi penulis pemula, membiasakan menulis dengan adanya outline akan memudahkan fokus pada tulisan yang sedang ia buat. Hingga akhirnya, saat sudah terbiasa, Anda mungkin tidak memerlukan outline lagi. Sebab sudah terbiasa fokus pada pembahasan yang terkonsep. Juga memahami alur dalam membuat tulisan yang mengalir dan terstruktur secara sistematis.

Selanjutnya saya ingin menutup tulisan ini dengan ungkapan, teori itu penting, tetapi praktik juga tidak kalah penting. Maka dari itu, karena sama-sama pentingnya maka seimbangkan keduanya. Mungkin saat membaca teori-teori perihal cara menulis yang baik dan benar, terlihat mudah. Namun anggapan itu tidak akan menjadi kebenaran jika Anda tidak mempraktikannya. Selamat menulis, dan rasakan sensasinya.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru