Belajar Cinta Kasih Ala Santri


0
2 shares

Sudah menjadi sunnatullah, setiap kali nafas bertandang dalam diri manusia, di situlah cinta bersemi, entah cinta itu pada sesamanya (laki-laki dan perempuan) atau terhadap selainnya. Jadi, musnahlah jiwa manusia, bisa-bisa berakibat hancurnya alam atau kiamat karena ketidakadaan cinta.

Manusia berstatus khalifah fil ardhi adalah anugerah Tuhan. Sebab, tak semua makhluk menyandang status mulia ini. Satu alasan, kenapa status tersebut Dia nobatkan kepada manusia? “Manusia diketahui sebagai makhluk yang kreatif.” Kreativitas, kata Jens Forster, seorang psikolog dari Universitas of Amsterdam, tumbuh karena atas dasar cinta.

Kreativitas manusia tentang cinta banyak ditemukan dalam karya-karya monumental, baik tulisan maupun lagu. Misalkan, Everytime (lirik Britney Spears) yang mengisahkan ketidakberdayaan seorang gadis tanpa seorang kekasih (baby); Be with You (lirik Akon) yang menceritakan kesatuan jiwa antara dua sejoli. No One Knows that I’m into You; Innocence (lirik Avril Lavigne) tentang seorang gadis yang tidak ingin berpisah dengan kekasihnya. I Need You Now; As Long as You Love Me (lirik Justin Bieber) tentang kualitas cinta seseorang terhadap kekasihnya; dan seterusnya.

Begitu pun tulisan yang membahas tentang cinta. Sebut saja, karya-karya Habiburrahman El Shirazy: Ayat-Ayat Cinta, Pudarnya Pesona Cleopatra, Ketika Cinta Bertasbih, Mihrab Cinta, Cinta Suci Zahrana, Bumi Cinta. Atau juga karya Hamka yang berujudul Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk-nya, serta beberapa karya penulis lainnya.

Sungguh cinta bikin orang kreatif!

Cinta yang menuai berjuta-juta sanjungan dan pujian, ternyata masih banyak pula yang menuding negatif. Dikecamlah, “Cinta itu buta.” Sungguh hati para pemuja cinta bagai disayat pisau tajam mendapat tudingan amoral. Perih. Tapi, kerena cinta timbul bukan atas unsur keterpaksaan, bersemi penuh kearifan, tangan dielus-eluskan di atas dada sambil berucap, “Be patient!” Sabar. Sehingga, segala cobaan dan kecaman tak mudah membuat lentur dan ambruk.

Baca Juga:  5700 KM Menuju Surga (Bagian XXXI)

Tundingan negatif, sering ditemukan di pesantren, sebuah institusi Islam yang akut dengan pengetahuan keagamaan. Suatu kefatalan jika ada seorang santri diketahui memiliki hubungan percintaan dengan lawan jenis demi untuk memosisikan cintanya pada jalan yang benar (shirâth al-mustaqim), dibandingkan diobral (isrâf) pada sesama jenis seperti yang terjadi pada kaum Luth. Akibatnya, banyak santri tidak kerasan, sehingga mengakibatkan terhadap matinya semangat belajar demi menyongsong masa depan. Tragis!

Jika cinta negatif, kenapa Nabi Adam jadi tidak kerasan berdiam sendirian di Surga yang panoramanya melebihi panorama di muka bumi? Cinta telah bikin manusia jadi kreatif dan cerdas. Sudikah dua sifat baik itu membusuk karena tanpa dorongan cinta? Lalu, siapakah pengganti manusia sebagai khalifah fil ardhi yang dikenal kreatif? Malaikat? Hewan? atau tumbuh-tumbuhan?

Nah, dikira penting adanya regulasi khusus untuk memediasi rasa cinta dalam diri santri agar figur dan kader ulama sebagai waratsah al-‘anbiyâ’  tetap terjaga. Hal yang sangat dominan untuk menjembatani keberlangsungan cinta, penulisan buku diary. Catatan harian yang diisi suara hati penulis akan menjadi teman curhat setiap waktu naluri manusia bertandang: bahagia, sedih, galau, dan lain sebagainya. Mencurahkan cinta secara face to face di pesantren adalah suatu kemungkinan yang sulit. Tatapan setiap kali bertemu atau berpapasan yang dibingkai dengan kedipan mata merupakan kesempatan yang tak setiap hari terjadi. Beda hal, dengan buku diary yang free dibawa ke mana-mana dan romantis dalam dekapan.

Bingkai cinta di atas diary adalah langkah awal manusia memulihkan kreativitasnya menjadi seorang penulis. Sering ditemukan, penulis yang dimulai dari menulis diary. Dalam buku Jalan Terjal Santri Menjadi Penulis, rata-rata penulis diawali dengan menulis diary seperti Rijal Mumazziq Zionis, penulis asal Jember; Noviana Herliyanti, penulis asal Batang-Batang; Muhammad Suhaidi RB, penulis asal Sumenep; Ach. Syaiful A’la, penulis asal Desa Candi Kecamatan Dungkek; dan beberapa penulis yang lain.

Baca Juga:  Gusdur dan Takmir Masjid

Pembingkaian cinta dengan kelakuan yang amoral, seperti wet kiss, dry kiss, peluk-pelukan, apalagi menjurus pada perzinahan, sungguh telah menodai kesucian cinta. Cinta yang menjadi sifat Tuhan, al- Wadûd, yang dimanifestasikan terhadap manusia sejatinya diposisikan pada tempat yang benar supaya kemurnian cinta tidak buram karena jeratan hawa nafsu yang mengotorinya.

Thus, dampak positif dilegalkannya diary sebagai media curhat pemuja cinta, menjadi kebanggaan bergengsi seorang santri hingga mampu membikin tulisannya tembus di jurnal atau media lokal hingga internasional seperti Horison, Jawa Pos, Kompas, Tempo, dan lain sebagainya.

Selain itu, cinta ala santri setidaknya dibingkai dengan doa-doa atas orang yang menjadi tangkai hatinya. Karena, tak ada hadiah yang paling indah kecuali doa. Dalam sebuah adagium Arab, Ad-Duâ’ shilah al-mu’minîn. Doa senjata orang mukmin.

Terapi buat hati terpikat, doa. Di dalam doa ada muatan yang mampu menghubungkan hati yang satu dengan hati yang lain. Kaitan antara cinta dan hati bagai dua jari telunjuk dan jari tengah yang dijadikan perumpamaan kedekatan antara Rasulullah saw. dan anak yatim dalam sebuah hadis. Cinta bukan kata yang mudah diucapkan, tapi cinta itu adalah kata hati yang hanya dirasakan. Makanya, satukan cinta dengan hati, melalui syair-syair doa supaya kesucian cinta tetap terpelihara.

Tanamkan cinta yang sehat agar hidup penuh dengan petunjuk (hudan)Hanya orang pencintalah, yang akan merengkuh medali kesuksesan.[]

(Tulisan ini diambil dari buku saya dengan judul “Aku Ingin Bertemu Tanpa Harus Berpisah”)


Like it? Share with your friends!

0
2 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Khalilullah

Mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Peneliti Pendidikan Kader Mufasir (PKM) Pusat Studi Al-Qur'an (PSQ) Jakarta