34.1 C
Jakarta

Bagaimana Hukum Fidyah Puasa Bagi Orang Hamil

Artikel Trending

Asas-asas IslamFikih IslamBagaimana Hukum Fidyah Puasa Bagi Orang Hamil
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. – Islam selalu memberi kemudahan bagi pemeluknya. Dalam konteks puasa, Islam memberi toleransi yang sebesar-besarnya kepada ibu hamil dan lansia yang tidak mampu puasa saat bulan Ramadhan, yaitu dengan cara membayar fidyah.

Dalam bahasa Arab kata fidyah adalah bentuk masdar dari kata dasar fadaa yang artinya mengganti atau menebus. Sedangkan secara terminologi fidyah adalah sejumlah harta benda dalam kadar tertentu yang wajib diberikan kepada fakir miskin sebagai ganti suatu ibadah yang telah ditinggalkan. Lantas bagaimana prosedur pembayaran fidyah? Siapa saja yang diperbolehkan menebus puasa Ramadhan dengan bayar fidyah?

Fidyah diberikan akibat ditinggalkannya puasa Ramadhan oleh (umumnya) orang lanjut usia yang tidak mampu melaksanakannya, sakit menahun (kronis) yang tidak dapat diperkirakan kapan sembuhnya. Menurut sebagian ulama, fidyah juga dapat dibayarkan oleh seseorang yang belum sempat mengganti puasa yang ditinggalkannya. Dengan memberikan fidyah, maka gugurlah suatu kewajiban yang telah ditinggalkannya.

Itu sebabnya, bagi wanita yang tidak berpuasa karena hamil atau menyusui, maka ia diperkenankan untuk tidak berpuasa. Jika ia tidak berpuasa karena khawatir terhadap dirinya sendiri atau pada diri dan bayinya, maka ia hanya wajib mengganti puasanya setelah bulan Ramadhan dan tidak ada kewajiban membayar fidyah. Jika ia tidak berpuasa karena khawatir terhadap anak atau bayinya saja, maka ia wajib mengganti puasa dan membayar fidyah sekaligus.

BACA JUGA  Wajibkah Mengulangi Mandi Ketika Sisa Air Mani Keluar Setelah Selesai Mandi Wajib?

Di dalam kitab Fath al-Mujib al-Qarib:

وَمَا أَنَّ القُدْرَةَ عَلَى الصَّوْمِ شَرْطَ لِوُجُوبِهِ فَالعَجُوزُ (وَالشَّيْحُ) والمَرِيضُ الَّذِي لَا يُرْجى بُرْؤُهُ (إِنْ عَجز) كُلُّ مِنْهُمْ عَنْهُ (يُفْطِرُ وَيُطْعِمُ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مُدًّا ) (وَالْحَامِلُ وَالْمُرْضِعُ إِنْ خَافَتا) ضَرْرًا (عَلَى أَنْفُسِهِمَا أَفْطَرَنَا وَ وَجَبَ عَلَيْهِمَا الْقَضاءُ) بِلَا فِدْيَةٍ (وَإِنْ خَافَنَا) ضَرَرًا (عَلَى أَوْلَادِهِمَا) فَقَط دُوْنَ أَنْفُسِهِمَا (أَفْطَرتا وَ) وَجَبَ (عَلَيْهِمَا الْقَضاءُ) بلا فدية (وان خافتا) ضررا (على اولادهما) فقد دون انفسهما (افطرتا و) وجب (عليهما القضاء وَالْكَفَّارَةُ) وَهِيَ أَنْ يُخْرَجَ (عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مُدَّ). فتح المُجيْبِ القَرِيبِ لِلشَّيْخِ عَفِيفَ الدين مهاجر سيتو بندو ص ٦١

Artinya: “Karena mampu menjadi syarat wajib menjalankan puasa, maka orang tua renta dan orang sakit yang tidak diketahui sembuhnya boleh tidak berpuasa apabila tidak mampu berpuasa. Namun, mereka diwajibkan membayar atau menebus satu mud per harinya (0,6 KG. atau ¾ liter beras untuk satu hari puasa). Orang hamil dan menyusui boleh tidak puasa dan tidak wajib membayar kafarat apabila mereka takut akan terjadi apa-apa pada dirinya. Apabila mereka mengkhawatirkan anak yang dikandung atau yang disusui, maka mereka wajib mengganti puasa dan wajib membayar kafarat satu mud untuk satu hari yang ditinggalkan. Wallahu a’lam bisshawaab.

Oleh: Salman Akif Faylasuf (Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo).

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru