30.3 C
Jakarta

Arus Wacana Keagamaan dalam Kegiatan Jogja Halal Fest

Artikel Trending

KhazanahTelaahArus Wacana Keagamaan dalam Kegiatan Jogja Halal Fest
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com- Jogja Halal Fest (JHF) tahun 2022 ini kembali digelar pada 3-6 November tahun 2022 di Jogja Expo Center (JEC). Perlu diketahui bahwa, kegiatan yang diselenggarakan oleh Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), sebelumnya digelar pada tahun 2018 silam. Sebagai bagian dari upaya meningkatkan insdustri halal, kegiatan ini akan menyediakan sertifikasi halal secara gratis untuk UMKM dan menghadirkan lebih 350 pelaku usaha halal dari berbagai industri di Indonesia, mulai dari food hingga properti.

Ketua MES DIY, Heroe Perwadi, mengatakan bahwa kegiatan ini direncanakan cukup baik untuk menghadirkan nuansa insdutri halal yang bisa dinikmati oleh semua kalangan.

“Peserta maupun pengunjung bisa mendapatkan informasi tentang berbagai macam produk halal. Jogja Halal Fest menghadirkan tenant dari industri halal di Indonesia maupun dari luar negeri. Konsep bazaar dengan suasana expo yang tidak kaku, harapannya bisa menjadi sarana berwisata sambal belanja produk halal serta mengikuti serangkaian kegiatan di panggung acara yang bertemakan edukasi halal dan ekonomi syariah,” ucap dia.

Menariknya, kegiatan yang cukup menarik untuk diikuti oleh masyarakat muslim urban ini, menghadirkan beberapa pembicara, di antaranya: Vevi Zulfikar, ustaz Budi Ashari, ustaz Salim A Fillah, ustaz Wijayanti, Hanung Bramantyo, dan Ning Imas. Tidak hanya itu, kehadiran para Menteri seperti Erick Thohir (Menteri BUMN), Teten Masduki (Menteri Koperasi dan UKM) dan Sandiaga Uno (Menteri Parekraf)

Industri halal dan jerat kapitalis

Dalam  konsep  Marx,  komoditi  memiliki  dua  aspek  penting  yaitu  use  value (nilai guna) exchange value (nilai tukar), artinya dua istilah ini menjadi erat kaitannya dengan  komodifikasi, nilai guna suatu barang kemudian menjadi nilai tukar. Inilah yang dikritik Baudrillard, sekaligus menambahkan konsep dari Marx  “What is produced today is not produced for its use-value or its possible durability, but rather with an eye to its death, and the increase in the speed with which that death comes about is equalled only by the speed  of  price  rises” (Jean Badrillard; 2012).

Secara sederhana, potret industri halal ataupun label Syariah dalam setiap barang, food hingga usaha, bahkan properti menjadi sangat dicari oleh masyarakat muslim sebagai nilai yang dipahami baik. Artinya, masyarakat konsumeris tidak lagi melihat nilai guna suatu barang. Lebih jauh, kegunaan suatu barang sangat tidak penting jika dibandingkan dengan kelompok sosial yang menjadi model dari pengguna dari barang tersebut. Dalam sebuah contoh sederhana, si fulan membeli sepatu syar’i bukan karena sedang membutuhkan sepatu. Akan tetapi, ia membelinya karena melihat seorang artis hijrah, melalui akun instagramnya memperomsoikan sepatu syar’i. Membeli dan menggunakan sepatu syar’i, bagi si fulan akan membuatnya terlihat lebih islami dengan label syar’i yang melekat di tubuhnya. Beginilah cara kerja kapitalis yang membuat masyarakat konsumeris semakin terjerat oleh nilai dari suatu barang.

BACA JUGA  Peran Ulama Perempuan dalam Kontra Narasi Ekstremisme

Arus keagamaan masyarakat muslim

Tidak bisa dipungkiri bahwa, wacana keagamaan yang muncul dalam perhelatan kegiatan yang bernuansa Syariah ini bisa dilihat dari berbagai penceramah yang hadir. Beberapa tokoh seperti ustaz-ustaz hijrah yang selama ini memberikan ceramahnya kepada para anak muda, menciptakan komoditas baru terutama anak muda muslim yang haus dengan pencarian jati diri, serta berlomba-lomba menemukan klaim kebenaran dalam keberagamaan yang dilakukan. Hadirnya Ning Imas, dalam kegiatan tersebut, yang merupakan perempuan NU, dengan sanad keilmuan yang jelas, serta pengetahuan agama yang mumpuni, menjadi angin segar dalam penyebaran nilai-nilai agama moderat.

Wacana keagamaan yang diusung oleh ning Imas dengan konsep wastahiyyah ala NU, menjadi narasi yang sangat ciamik ketika dirinya dalam event-event yang biasa diisi oleh kelompok kanan. Upaya ini juga bisa menjadi salah satu kegiatan utama dalam mengimbangi narasi keagamaan yang muncul. Berkolaborasi, menjadi bagian dari kegiatan, adalah sesuatu yang tidak mudah dilakukan oleh kebanyakan orang. Sebab masing-masing kelompok, memiliki wacana keagamaan yang berbeda dan dipegang teguh oleh para individu di dalamnya. Sehingga ketika tercipta kolaborasi, menjadi awalan yang sangat baik untuk men-counter narasi keagamaan yang biasanya bias dari kelompok kanan. Wallahu a’lam

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru