30.3 C
Jakarta

Apa Maksud Al-Qur’an Mengkafirkan Orang Lain? Baca Tulisan Ini!

Artikel Trending

Islam dan Timur TengahIslam dan KebangsaanApa Maksud Al-Qur’an Mengkafirkan Orang Lain? Baca Tulisan Ini!
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Ada banyak ucapan bernada kebencian (hate-speech) di dalam Al-Qur’an yang kemudian disalahtafsirkan oleh kelompok Islam garis keras. Beberapa kata kebencian ini di antaranya adalah kafir, thaghut, dan masih banyak yang lainnya. Kata-kata ini meski sudah lama terekam dalam kitab suci umat Islam ini masih saja berseliweran di era sekarang, lebih-lebih di media sosial.

Kesalahan tafsir ini bukan sesuatu yang baru. Sudah banyak umat Islam terutama yang keliru menafsirkan maksud teks Al-Qur’an, sehingga mengakibatkan dampak yang cukup membahayakan. Semisal, kelompok Khawarij yang salah tafsir dengan mudahnya mengkafirkan Sayyidina Ali dan pengikutnya, bahkan mereka menghalalkan Ali dan pengikutnya dibunuh. Naudzubillah!

Untuk mengatasi kesalahan tafsir ini banyak ulama dan juga ilmuwan yang melakukan kontra-narasi. Salah satu ulama Indonesia yang saya temui adalah Prof. Quraish Shihab dengan karyanya Islam yang Disalahpahami. Jauh sebelumnya, Gus Dur sebagai ilmuwan juga menulis buku berjudul Tuhan Tidak Perlu Dibela. Dan masih banyak ulama dan ilmuwan lain yang melakukan hal serupa. Intinya semua yang mereka lakukan hanya untuk menyelamatkan teks suci itu dari kesalahan tafsir.

Pada tulisan ini saya ingin mengetengahkan kesalahan tafsir dari pengucapan kafir dan thaghut serta beberapa kata bernada kebencian dalam Al-Qur’an. Bahwasanya sebutan kafir dalam Al-Qur’an sesungguhnya bukan bermaksud merendahkan orang yang belum mendapatkan hidayah. Merendahkan di sini biasanya berkaitan dengan mencela orangnya. Sama sekali tidak begitu. Sebutan kafir itu bermaksud mengedukasi masyarakat Mekkah pada waktu itu yang pemikirannya masih jumud atau tertinggal. Bukankah kafir itu adalah orang yang jumud pemikirannya?

Masyarakat Mekkah disebut kafir atau jumud karena pikiran mereka tertutup dari ajaran progresif yang dibawa Nabi Muhammad Saw. Nabi Saw. sudah jelas hadir untuk membangun peradaban di tengah-tengah mereka. Namun, mereka menolaknya. Makanya, Nabi sebut mereka Kafir alias Jumud cara berpikirnya. Maka, agar terhindar dari kejumudan berpikir, ikuti Nabi Saw. sehingga mendapatkan cahaya peradaban atau dikenal dengan Nur Islam.

Maka, tidak dapat dibenarkan kelompok Islam garis keras seperti HTI, ISIS, dan lain-lain yang dengan mudahnya mengklaim kafir terhadap orang lain yang tidak sepemikiran dengan mereka, meski orang itu beragama Islam. Sampai di sini, sudah kelihatan bahwa klaim yang mereka layangkan itu merupakan kesalahan mereka dalam menafsirkan teks Al-Qur’an. Selain itu, klaim itu hanya untuk kebutuhan yang bersifat pribadi. Tentu, yang mereka lakukan tidak murni lagi untuk menegakkan agama, melainkan merobohkannya.

BACA JUGA  Bolehkah Melibatkan Agama dalam Politik?

Ucapan kebencian yang lain dalam Al-Qur’an semisal klaim celaka terhadap Abu Lahab, Fir’aun, kaum Ad, kaum Tsamud, dan kaum Nuh, semua itu bukan bermaksud merendahkan, melainkan mengkritik pemikiran mereka yang tertutup atau jumud. Mereka termasuk orang-orang yang tidak terbuka terhadap perkembangan pemikiran. Mereka hanya berkutat pada egonya sendiri, sehingga ego itu menutup mata dan pendengaran mereka melihat kebenaran. Kritik Al-Qur’an itu sesungguhnya untuk menyelamatkan orang-orang yang jumud keluar dari sikap buruk itu dan memilih membuka diri ke jalan yang benar.

Lebih dari itu, Al-Qur’an membicarakan keburukan Abu Lahab, Fir’aun, dan lain-lain karena mereka adalah public figure yang segala perbuatannya akan dicontoh oleh banyak orang. Ini tidak ada hubungannya dengan ghibah atau apalah. Ini penting persis seperti menceritakan keburukan para perawi hadis agar pembaca hadis tidak sesat. Jadi, menceritakan keburukan public figure itu tidak masalah, malahan harus dilakukan untuk menyelamatkan orang lain dari tipu dayanya.

Sebagai penutup, ucapan kafir dan lain sebagainya yang dilakukan oleh kelompok Islam garis keras merupakan bentuk kesalahan mereka dalam menafsirkan maksud teks Al-Qur’an. Kesalahan semacam itu perlu dilakukan kontra-narasi agar mereka segera merevisi perkataannya dan kembali ke jalan yang benar. Semoga![] Shallallah ala Muhammad.

Khalilullah
Khalilullah
Penulis kadang menjadi pengarang buku-buku keislaman, kadang menjadi pembicara di beberapa seminar nasional

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru