24.5 C
Jakarta

Untung, Saya Tidak Masuk Terlalu Jauh dalam Kelompok Teroris

Artikel Trending

Takdir telah mengantarkan saya bertemu dengan seorang teman yang mengajak saya bergabung dengan majlis dakwah. Saya belum begitu paham, apalagi belum menelaah rekam jejak ustaz yang nanti bakal ngajar, sehingga saya terjebak dalam sebuah majlis kelompok radikalis.

Kali pertama saya berada di majlis itu, ustaznya sangat ramah, sangat santun, bahkan sangat mengayomi. Sikap ustaz dalam berdakwah laiknya sikap seorang ibu yang mencintai anaknya. Ibu tidak pengin buah hatinya terjerembab dan terjatuh dalam kesesatan. Ibu pengin banget melihat buah hatinya berada dalam kesuksesan.

Sayang, setelah semua anggota majlis, termasuk saya, dibimbing selama berbulan-bulan, diperhatikan setiap pertemuan, sampai disupport segala keinginan, pada saat penutupan semua anggota dijebak dengan pertanyaan yang menyesatkan atau lebih tepatnya yang mengajak kita menjadi teroris. Kurang lebih pertanyaannya begini: “Yang tidak mengikuti hukum syariat itu Islam atau kafir? Indonesia mengikut sistem syariat Islam? Karena tidak, berarti Indonesia negara kafir. Maka, orang kafir halal darahnya, benarkah?”

Semua anggota majlis membenarkan ajakan kafir-mengkafirkan si ustaz setelah “dicekoki” pelajaran tentang keislaman yang sebelumnya saya belum mengerti kalau pesan dakwah yang ia sampaikan adalah dakwah garis keras, dakwah yang keliru, bahkan dakwah yang menyesatkan orang lain. Hati saya memberontak saat itu pula. Saya bersyukur Tuhan saat itu juga menyadarkan saya, sehingga saya tidak masuk terlalu jauh.

BACA JUGA  Serial Pengakuan Mantan Teroris (X): Sofyan Tsauri, Anggota Kepolisian Terpapar Terorisme

Sesegera mungkin saya menghindar dari kelompok garis keras itu. Saya tidak percaya lagi bertemu ustaz yang hanya manis di mulut, tapi menyakitkan di hati. Ustaz semacam itu memiliki kepribadian ganda. Satu waktu dia bisa jadi baik, lain waktu dia bisa jadi jahat. Saya hanya merapal doa agar setiap langkah terselamatkan dari segala kesesatan dan terus terjaga dari segala kejahatan.

BACA JUGA  Serial Pengakuan Mantan Teroris (X): Sofyan Tsauri, Anggota Kepolisian Terpapar Terorisme

Sampai detik ini terus saya pekikkan dalam hati yang paling dalam: Saya, Munandar, akan berjanji berjihad memerangi kelompok garis keras. Mungkin lewat seorang guru yang berpemikiran moderat, saya akan dihantarkan meraih kemenangan di medan perang ini. Saya terus optimis, setiap perbuatan baik akan meraih kemenangan. Sedang, perbuatan buruk akan berakhir dengan kehancuran.[] Shallallah ala Muhammad.

*Narasi tulisan ini diulas dari cerita Mas Munandar saat ngobrol di kos

Khalilullah
Khalilullah
Lulusan Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru