27.7 C
Jakarta

Tips Menulis Opini bagi Guru

Artikel Trending

KhazanahLiterasiTips Menulis Opini bagi Guru
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

-Ada ungkapan mengatakan “mata pena lebih tajam dari mata pedang”. Ungkapan tersebut menggambarkan betapa dahsyat dampak yang ditimbulkan dari sebuah tulisan. Sebilah pedang yang dibawa ke medan perang, hanya dapat menjangkau satu sasaran pada satu waktu. Berbeda halnya dengan tulisan, jangkauan sasarannya mampu mengenai ratusan bahkan ribuan orang. Di samping itu, sebuah tulisan mampu menyapa setiap pembaca dalam ruang waktu yang berbeda dengan penulisnya. Inilah diantara keunggulan menulis.

Keunggulan lainnya, sebuah tulisan bisa membuat nama penulis hidup jauh lebih lama dari masa usianya. Hal itu dapat disaksikan dalam pentas kehidupan pada lintasan sejarah. Para penulis yang sudah meninggal dunia ratusan tahun silam, nama mereka masih hidup sampai hari ini. Hal itu karena mereka mengukir nama dalam kehidupannya melalui karya tulis yang dihasilkan.

Mengawetkan Ilmu dengan Menulis

Betapa banyak ilmu dan pengetahuan yang direkam dan diwariskan oleh generasi ke generasi berikutnya melalui tulisan. Bahkan kitab suci yang diterima seorang Nabi dari Tuhan, bisa terjaga dan terpelihara hingga kini juga melalui tulisan. Dapat dibayangkan bagaimana seandainya wahyu Tuhan tidak didokumentasikan lewat tulisan, mungkin saat ini manusia hidup dalam kegelapan tanpa bimbingan.

Maka dari itu, guru hendaknya mengawetkan ilmunya dengan menulis. Ia sebagai insan yang berilmu sesungguhnya punya kewajiban yang tidak hanya mencerdaskan muridnya, tetapi juga menyebarluaskan ilmunya pada masyarakat luas. Lewat tulisan, ia bisa memberi wawasan yang mencerdaskan masyarakat.

Menulis sebenarnya bukan lagi barang asing bagi guru. Ketika guru akan mengajar, sebelumnya ia menuliskan rencana pelaksanaan pembelajaran. Lalu setelah mengajar, ia menuliskan proses pembelajaran hari itu juga ke jurnal harian. Pun demikian, ia dituntut untuk mampu menghasilkan artikel ilmiah populer (opini) yang dipublikasikan di koran/majalah sebagai syarat naik tingkat. Oleh sebab itu, sesungguhnya menulis menjadi bagian tak terpisahkan dari kerja profesional seorang guru.

BACA JUGA  Ogah Membaca Tapi Ingin Punya Karya, Begini Solusinya

Akan tetapi sampai saat ini, komitmen guru untuk membuat artikel opini di media massa masih tergolong rendah dibandingkan dengan displin ilmu nonkeguruan. Sedikit sekali, guru yang menuangkan gagasannya lewat tulisan, diyakini menjadi salah satu faktor yang membuat pendapat guru nyaris tidak terdengar. Padahal, suara-suara guru itu bukan sekadar pengamatan, namun juga pengalaman yang tiap hari dilakukan.

Faktor Penyebab

Lemahnya  guru yang menuangkan gagasannya lewat opini di koran dipengaruhi sejumlah permasalahan.  Di antaranya, sedikitnya kemampuan guru  menulis opini atau artikel ilmiah sesuai bidangnya. Dominasi tulisan yang dikirim ke media massa masih terjebak menulis seperti menulis makalah atau laporan. Padahal media massa bukan majalah khusus, tetapi segmennya adalah publik. Sebenarnya, ini bisa disiasati dengan banyak membaca opini yang dimuat di koran atau media online. Sehingga guru akan kenal alur menulis opini, gaya tulisan opini, tema yang tepat, dan sebagainya.

Guru mudah patah semangat. Hal itu dikarenakan sudah pernah mengirimkan tulisan ke berbagai media massa namun ditolak. Setelah itu tidak lagi menulis dan tidak percaya diri. Dalam hal ini guru harus mendasarkan pemikiran, ditolak adalah hal biasa. Tugas guru hanya menulis,  yang memutuskan dimuat atau tidaknya adalah redaktur.

Guru menganggap menulis artikel bukan hal penting. Padahal tulisan artikel di media massa bisa memberikan pencerahan karena segmen pembacanya lebih luas. Dengan menulis yang  memberikan pencerahan tentunya dapat membawa angin segar perubahan, agar guru tidak terjebak pada rutinitas pekerjaannya yang terkadang kurang dinamikanya.

Permasalahan lain terkait mencari dan menentukan tema tulisan. Sebenarnya ketika memulai sebuah tulisan akan nampak banyak tema yang dapat diangkat, termasuk tema menulis itu sendiri. Tantangan utamanya terkadang justru datang dari dalam yakni terkait komitmen mewujudkan kemauan untuk membiasakan diri menulis. Dan solusinya guru harus menjadikan menulis sebagai sebuah kebutuhan. Titik.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru