25.7 C
Jakarta

Tiga Alasan Menjawab Protes terhadap Menteri Agama Fachrul Razi

Artikel Trending

Milenial IslamTiga Alasan Menjawab Protes terhadap Menteri Agama Fachrul Razi
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Pengangkatan Fachrul Razi sebagai Menteri Agama 2019-2024 pada Kabinet Indonesia Maju Joko Widodo – Ma’ruf Amin memicu aneka kontroversi di tengah-tengah masyarakat Indonesia, lebih-lebih di tengah tubuh Nahdlatul Ulama (NU). Kontroversi yang berkembang menjadi protes atau ketidaksepakatan semakin tercium sesaat setelah kyai-kyai NU mulai mengemukakan protes serius yang diwakili oleh tim Majlis Ulama Indonesia (MUI) di beberapa stasiun televisi.

Ketidaksepakatan itu sesungguhnya dilatarbelakangi alasan yang sedikit kurang masuk akal. Katanya, Razi tidak memiliki track record, rekam jejak yang baik dalam bidang pemahaman isu-isu keagamaan. Razi itu hanya lulusan Akademi Militer 1970 dan pernah memiliki jabatan bintang empat, yakni Wakil Panglima TNI. Razi belum pernah sedikitpun mengenyam pendidikan di pesantren yang diyakini oleh ulama Indonesia sebagai media yang dapat memproduksi ulama sebagai waratsatul ambiya’, pewaris para nabi atau dapat diterjemahkan dengan jabatan Menteri Agama.

Kekhawatiran demi kekhawatiran semakin bergejolak di benak para masyarakat yang protes. Salah satunya, apakah Razi bisa mengatasi perbedaan ru’yah menjelang hari raya Idhul Fithri, sedangkan dia belum memiliki basic yang kuat dalam persoalan fikih ibadah yang setiap tahun diperdebatkan? Selain isu fikih ibadah yang kontroversi, mampukah Razi membedakan pemikiran radikal yang sampai detik ini belum kunjung tuntas, bahkan terus menumbuhkan bibit baru?

Melihat kontroversi yang semakin memanas, penting kiranya diperhatikan beberapa hal sebagai pertimbangan: Pertama, jangan menilai seseorang dari luarnya. Pesan ini sesungguhnya dapat diterjemahkan dalam sebuah kalimat bijak yang familiar: Don’t judge a book by its cover. Jangan menilai sebuah buku dari covernya. Kalimat bijak ini memiliki pesan tersirat, bahwa kita dilarang menilai seseorang atau sesuatu dari tampilan luarnya saja. Karena, kepribadian seseorang yang sebenarnya itu adalah motivasi (niyah) yang terbenam dan terlukis dalam benaknya. Karena itu, protes terhadap pengangkatan Razi sebagai Menteri Agama karena tidak memiliki track record yang mumpuni di bidang keagamaan tidak dapat diterima, sebab protes itu hanya bersifat asumsi atau tafsir yang kebenarannya masih diperdebatkan.

BACA JUGA  Eksklusivitas dan Kebebasan Beragama di Indonesia

Kedua, jangan menilai seseorang sebelum bekerja. Menilai kualitas seseorang sebelum bekerja termasuk sikap yang dungu—meminjam istilah Rocky Gerung. Bila dianologikan dengan pertandingan sepak bola, kita sebenarnya penonton. Sebagai penonton, sebaiknya tidak melayangkan komentar sebelum pertandingan berlangsung. Karena, belum diketahui kualitas masing-masing pemain, bahkan belum bisa dipastikan klub mana yang meraih kemenangan. Sama halnya dengan pengangkatan Razi yang diprotes oleh pihak tertentu, padahal ia belum bekerja, sehingga tidak dapat diketahui kualitas kerjanya. Nilailah Razi ketika dan setelah menjalankan tugasnya sebagai Menteri Agama.

Ketiga, jangan melihat masa lalu, tapi lihat masa sekarang dan masa depan. Sikap pesimis orang yang protes terhadap pengangkatan Razi rata-rata melihat masa lalu Razi yang tidak pernah menghabiskan masa indahnya di pesantren sebagai institusi keagamaan atau di lembaga-lembaga keagamaan yang lain. Sikap pesimis ini jelas tidak arif bila dilihat dari pesan Samuel Johnson, penulis dan sastrawan Inggris: Masa depan itu dibeli oleh masa sekarang. Bahkan, Eyang Habibie berpesan kepada istri tercintanya, Ainun: Masa lalu saya adalah milik saya, masa lalu Anda adalah milik Anda, tapi masa depan adalah milik kita. Pesan yang disampaikan Johnson dan Habibie ini adalah jangan menjadi budak masa lalu. Karena, merasa bahagia dengan masa lalu telah membungkam masa depan seseorang untuk terus bangkit menjadi pribadi yang lebih baik. Nah, tidak penting lagi mempersoalkan masa lalu Razi, tapi yang penting diperhatikan adalah kualitas kinerjanya, berhasilkah atau tidak.

Melalui tiga pesan tersebut, kita sebagai rakyat Indonesia dapat menyadari alasan kenapa Razi tetap penting dipertahankan sebagai Menteri Agama Indonesia pada kepemerintahannya Jokowi dan Ma’ruf Amin. Ingatlah, jangan melihat status seseorang pada masa lalunya, tapi lihatlah nilai-nilai yang diperjuangkan untuk masa depannya. Jika nilai yang diperjuangkan baik, maka belalah. Sebaliknya, jika nilai yang diperjuangkan tidak baik, maka lengserkanlah.[] Shallallah ala Muhammad.

Khalilullah
Lulusan Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru