27.8 C
Jakarta

Survei BIN dan BNPT: 85 Persen Milenial Rentan Terpapar Radikalisme dan Terorisme, Khususnya Perempuan

Artikel Trending

AkhbarNasionalSurvei BIN dan BNPT: 85 Persen Milenial Rentan Terpapar Radikalisme dan Terorisme,...
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Jakarta – Para santri Jawa Barat yang tergabung dalam Forum Santri Jawa Barat (FSJ) bersama Kakanwil Kemenag Jabar menggelar Focus Group Discussion (FGD).

FGD ini bertema “Moderasi Beragama sebagai Penguatan Kehidupan Kebhinekaan di Lingkungan Madrasah Provinsi se-Jawa Barat”.

Kegiatan ini digelar di Pondok Pesantren Nurul Iman di Kelurahan Cibaduyut Wetan, Kecamatan Bojongloa Kidul pada Jumat, 8 Desember 2023. Pada FGD tersebut menghadirkan pembicara dari Forkopimda Jabar, Kanwil Kemenag Jabar, serta dari FKUB Jabar.

Mereka yang hadir ini di antaranya perwakilan dari Polda Jabar, Kodam III/Siliwangi, Kejati Jabar, Kakanwil Kemenag Jabar dan Tim Ahli FKUB Jabar Ayi Yunus Rusyana. Sementara acara ini dipandu seorang pegiat muda bidang Ilmu Sosial, Iwan Nuryan yang juga merupakan Direktur LKKPH Neraca Bandung.

Kepala Biro Kesra Provinsi Jabar Faiz Rahman mendukung kegiatan yang diinisiasi para santri. Sebab, moderasi beragama adalah untuk menyamakan cara pandang masyarakat terkait perbedaan agama.

“Ini harus terus disosialisasikan agar masyarakat memiliki cara pandang yang sama menyikapi perbedaan beragama sehingga radikalisme ekstrimisme bisa dibendung,” kata Faiz.

Faiz berpandangan, pemahaman terkait moderasi beragama harus mulai ditanamkan sejak usia dini. Seperti yang dilakukan kepada para santri. Sehingga, kedepannya mereka akan menjadi katalisator yang memberikan solusi dari sebuah persoalan, khususnya terkait agama.

“Pemahaman moderasi beragama inilah cara pandang yang benar agar radikalisme dan ekstrimisme tidak terjadi di masyarakat,” katanya.

Ketua FSJ Jabar Mohammad Puad Syafi’i mengatakan bahwa kegiatan ini sangat penting dilakukan sebagai bentuk komitmen para santri Jabar dalam menciptakan suasana kondusif menghadapi tahun politik mendatang.

Terlebih kata Puad, mengingat santri sebagai salah satu elemen penting dalam menjaga keutuhan NKRI. Selain itu santri juga tercatat dalam sejarah sebagai salah satu elemen pejuang kemerdekaan.

“Hari ini merupakan momen yang luar biasa, momen yang bersejarah, bahwa santri yang ada di Jawa Barat sudah mendeklarasikan untuk hidup damai, hidup rukun, hidup penuh toleransi, dan hidup penuh moderasi,” katanya.

BACA JUGA  Densus 88 Bekali Da’i dan Khatib untuk Tangkal Bahaya IRET

Ia juga berharap kepada para santri lainnya, dapat mensosialisasikan kepada masyarakat secara luas agar senantiasa berbuat dan menjaga nama baik serta mencegah kemungkaran dengan pendekatan akhlaqul karimah tanpa melakukan kekerasan.

Mewakili Asintel Kodam III/Siliwangi, Pabandya Gal Mayor (Inf) Benny Syafri mengatakan moderasi beragama adalah sikap tengah dalam beragama yang tidak ekstrem melibatkan dialog kerja sama dan saling menghargai dengan tujuan menciptakan perdamaian dan kesatuan dalam kebhinekaan Indonesia.

“Hal ini tercermin dalam komitmen kebangsaan yang menjunjung keberagaman toleransi yang menghargai perbedaan keyakinan penolakan. Semisal segala bentuk kekerasan atas dasar agama serta penerimaan dan akomodasi terhadap kekayaan budaya dan tradisi yang ada dalam masyarakat,” katanya.

Wadir Binmas Polda Jabar Ajun Komisaris Besar Mohammad Rois dalam paparannya mengatakan bahwa santri menjadi garda terdepan dalam mewujudkan kerukunan hidup beragama di Jabar.

“Selain itu santri juga harus berperan aktif dalam menjaga stabilitas keamanan dalam negeri yang aman, damai dan sejuk sehingga tercipta kerukunan hidup beragama,” katanya.

Tim Ahli FKUB Jabar Ayi Yunus Rusyana berpendapat berdasarkan survei BNPT dan BIN bahwa 85 persen generasi milenial rentan terpapar paham radikal. Mereka yang mudah terpapar ini adalah di rentang usia 17-24 tahun.

“Mereka adalah target utama dalam perekrutan dan penyebaran ideologi terorisme dan potensi radikalisme. Bahkan yang lebih tinggi yang mudah terpapar ini dari kalangan perempuan,” kata Ayi pada FGD tersebut.

Jadi, kata Ayi, berdasarkan hasil survei tersebut maka warga masyarakat khususnya di Jabar dinyatakan untuk mewaspadai pergerakan speed of radicali season di dunia maya tidak hanya di Indonesia tapi di seluruh dunia.

“Maka penting untuk mengimplementasikan hasil kegiatan penguatan moderasi beragama ini. Tujuannya tentunya untuk menjaga toleransi dan mewujudkan kerukunan antar umat beragama khususnya di Jawa Barat. Sekaligus sebagai upaya menangkal paham radikalisme dan Ideologi terorisme,” katanya.

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru