30.3 C
Jakarta

Serial Pengakuan Mantan Napiter (XLXII): Hendro Fernando, Mantan Teroris Saat Ini Beralih Bisnis Ayam Potong

Artikel Trending

KhazanahInspiratifSerial Pengakuan Mantan Napiter (XLXII): Hendro Fernando, Mantan Teroris Saat Ini Beralih...
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Menjadi teroris bukanlah pilihan. Kadang ia hanya menjadi korban dari doktrin sehingga menyebabkan masa depannya hancur. Paham ini telah mempengaruhi bangsa ini. Salah satunya, Hendro Fernando.

Fernando adalah Sekretaris Jenderal Yayasan DeBintal. Ia bebas dari penjara Oktober 2020 silam. Pengadilan menyatakannya bersalah karena menyokong sejumlah aksi terorisme.

Fernando berperan sebagai pengatur logistik, khususnya bagi kelompok Mujahiddin Indonesia Timur (MIT) yang berafiliasi ke ISIS: pemasok senjata api, perekrutan, dan pemberangkatan 150 WNI ke Suriah untuk bergabung dengan pasukan ISIS periode 2014-2015.

Setelah bertobat dan hijrah dari terorisme, Fernando memilih berbisnis ayam potong. Kalau ke tempat bisnisnya, pasti bakal menjumpai spanduk bertuliskan ‘Rumah Potong Halal DeBintal’ terpasang di antara pepohonan di kawasan pemukiman penduduk di Babelan, Bekasi, Jawa Barat.

Sekitar 20 meter dari situ, terdapat rumah potong hewan dibangun. Pasir-pasir membentuk gunung-gunung kecil, dan batu bata bertumpuk rapi. Beberapa bangunan di sekitarnya masih setengah jadi. Fernando lalu menunjukkan isi di dalam rumah potong ayam yang dinding dan atapnya didominasi bahan baja ringan.

Rumah potong ayam merupakan unit usaha dari Yayasan DeBintal. Yayasan yang dikelola sekitar 20 mantan teroris ini berada di bawah pengawasan Densus 88, dan dananya disebut berasal dari “sumbangan perorangan”.

BACA JUGA  Serial Pengakuan Mantan ISIS (XLVIII): Mantan Pendukung ISIS Haris Amir Falah Taubat Setelah Dipenjara

Sejak dibuka Februari 2021, unit usaha potong ayam ini sudah punya pangsa pasarnya sendiri, yang ditawarkan “dari pintu ke pintu”. Ini di luar bayangan Fernando akan sampai di titik ini. Ini semua adalah anugerah Tuhan yang ia terima.

Target ayam potong itu adalah ibu-ibu, ranah perumahan, acara-acara undangan, pernikahan. Bahkan, ditawarkan juga ke pedagang-pedagang perumahan, seperti pecel lele, pecel ayam, rumah makan padang. Semua merespon positif untuk bekerja sama, paling tidak membeli dagangannya itu.

Sebagai penutup, cerita Fernando ini memiliki banyak pesan positif yang dapat dipelajari: Pertama, berhati-hati dengan terorisme. Karena, paham yang dapat merusak masa depan. Kedua, siapapun yang terlanjur terjun di dalamnya jangan takut bertobat. Tuhan akan menerima tobatnya dan masyarakat akan menyambut dengan baik kehadirannya.[] Shallallah ala Muhammad.

*Tulisan ini disadur dari cerita mantan teroris Hendro Fernando yang dimuat di media online BBC News Indonesia

Khalilullah
Khalilullah
Penulis kadang menjadi pengarang buku-buku keislaman, kadang menjadi pembicara di beberapa seminar nasional

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru