27.3 C
Jakarta

Serial Pengakuan Eks Napiter (C-LI-XXXIV): Eks Napiter Atok Kini Blusukan ke Lapas Jadi Juru Dakwah Deradikalisasi

Artikel Trending

KhazanahInspiratifSerial Pengakuan Eks Napiter (C-LI-XXXIV): Eks Napiter Atok Kini Blusukan ke Lapas...
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Isu terorisme kali ini mulai tidak terdengar kembali disebabkan aksi-aksi teror sudah tidak lagi bermunculan di mana-mana, terlebih di Indonesia sendiri. Mungkin Anda bertanya-tanya apakah isu terorisme itu buatan atau tidak? Pertanyaan ini tidak penting untuk dijawab. Yang lebih penting adalah bagaimana kita melakukan deradikalisasi agar tidak ada celah munculnya kembali terorisme.

Deradikalisasi yang telah dilakukan oleh pemerintah dan seluruh warga negara di Indonesia telah membuahkan hasil yang cukup membanggakan sehingga masa depan negara dan bangsa ini semakin terlihat. Beriringan dengan deradikalisasi, tidak sedikit teroris yang hijrah dan kembali ke jalan yang benar yaitu setia kepada NKRI. Kesetiaan terhadap NKRI merupakan bagian dari kecintaan terhadap tanah air di mana mereka dilahirkan dan dibesarkan.

Salah seorang teroris yang hijrah dan kembali ke jalan yang benar adalah Roki Apris Dianto alias Atok, mantan napi teroris (napiter) asal Sukoharjo. Atok merupakan napiter yang pernah bergabung dengan tim Sigit Qordowi, terduga teroris asal Sukoharjo yang tewas di tangan Densus 88.

Keterlibatan Atok dalam kelompok teroris itu mengantarkannya dijatuhi hukuman 6 tahun kurungan penjara. Namun, hukumannya diperberat menjadi 15 tahun penjara lantaran tahun 2012, ia berhasil kabur dari tahanan hingga akhirnya tertangkap lagi. Dari hukuman ini ia mulai menemukan kebenaran yang membawanya ke jalan pertobatan dan bisa dikategorikan taubatan nasuha.

Setelah bertobat, Atok bergabung bersama Yayasan De Bintal yang didirikan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri. Di sini Atok menjadi anggota tim dakwah. Tugasnya, blusukan ke lembaga pemasyarakatan (lapas) yang menjadi tempat tinggal sementara napiter. Sudah mulai kelihatan keseriusan pertobatan Atok yang dibuktikan dengan perbuatan yang sungguh-sungguh.

BACA JUGA  Serial Pengakuan Eks Napiter (C-LI-XXXI): Arif Murtopo Eks Anggota JAD Ikrar Setia ke NKRI

Sekarang ini, Atok dan tim aktif mendatangi Lapas Klaten. Ada tiga eks-napiter dan napi dari Khilafatul Muslimin yang mendapat pembinaan di lapas tersebut. Atok menggunakan pendekatan dakwah dengan beragam, mulai ceramah hingga pembinaan pada sisi ekonomi. Karena, ini merupakan langkah untuk membujuk napiter kembali ke jalan yang benar. Bukankah dakwah yang sebenarnya adalah membujuk sehingga hati pendengar terketuk?

Menariknya, selain melakukan program deradikalisasi, Yayasan De Bintal juga membangun unit usaha telur puyuh, pemotongan ayam, dan sablon. Unit usaha merupakan bagian terpenting juga dalam perjalanan dakwah, karena dakwah tanpa disokong dengan keuangan yang memadai akan sangat sulit bertahan lama.

Sebagai penutup, perjalanan hidup Atok dapat dijadikan pelajaran bagi siapa pun, termasuk kepada napiter yang belum bertobat. Bahwa terorisme itu bukanlah ajaran yang dibenarkan dalam Islam sehingga tidak benar pula aksi-aksi terorisme disebut dengan dakwah. Maka, hindari dan perangi terorisme, karena dengan cara seperti itu terorisme punah dari negeri ini.[] Shallallahu ala Muhammad.

*Tulisan ini disadur dari cerita eks napiter Atok yang dimuat di media online Harakatuna.com

Dr. (c) Khalilullah, S.Ag., M.Ag.
Dr. (c) Khalilullah, S.Ag., M.Ag.
Penulis kadang menjadi pengarang buku-buku keislaman, kadang menjadi pembicara di beberapa seminar nasional

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru