Harakatuna.com – Selama ini kita sibuk mengawasi satu hal: apakah AI menyebarkan konten radikalisme. Apakah ada propaganda kekerasan yang lolos dari moderator platform. Apakah ada ajakan berbaiat yang tersembunyi di balik jawaban yang tampak wajar. Kita membangun kekhawatiran di sekitar satu skenario, yaitu AI sebagai corong ideologi radikal-teror.
Tapi ada yang luput dari perhatian kita. Sesuatu yang lebih diam, lebih halus, dan justru karena itu lebih sulit dideteksi. Bukan apa yang diajarkan AI kepada mahasiswa tentang agama. Tapi apa yang dihasilkan AI pada cara mahasiswa merasa tentang pemahaman agamanya sendiri.
Riset yang diterbitkan Mei 2026 terhadap mahasiswa Sosiologi Agama menemukan sesuatu yang menarik sekaligus mengkhawatirkan. Penggunaan tools AI telah menggeser pola pencarian pengetahuan keagamaan mahasiswa secara fundamental. Jika sebelumnya mereka bertanya kepada dosen, ustaz, atau forum kajian, kini AI menjadi alternatif utama. Dan salah satu dampak yang paling konsisten dirasakan mahasiswa dari pergeseran ini adalah meningkatnya rasa percaya diri dalam memahami persoalan agama.
Sekilas itu terdengar positif. Mahasiswa jadi lebih percaya diri. Bukankah itu yang kita inginkan dari proses belajar?
Tapi dalam tradisi keilmuan Islam, kalimat itu seharusnya membuat kita berhenti dan bertanya ulang. Percaya diri tentang apa, tepatnya? Berdasarkan proses seperti apa? Dan apakah rasa percaya diri itu proporsional dengan kedalaman pemahaman yang sesungguhnya?
Ada sesuatu yang diajarkan pesantren sejak lama, sesuatu yang jarang tertulis di kurikulum formal tapi terserap lewat bertahun-tahun duduk di depan kitab dan guru: bahwa rasa ragu adalah tanda kematangan beragama, bukan kelemahannya.
Imam Syafi’i, salah satu imam mazhab terbesar dalam sejarah Islam, pernah berkata bahwa pendapatnya bisa jadi benar tapi mengandung kesalahan, dan pendapat orang lain bisa jadi salah tapi mengandung kebenaran. Ungkapan itu bukan kerendahan hati yang performatif. Itu pernyataan epistemologis dari seseorang yang sudah menghabiskan hidupnya dalam lautan ilmu dan justru karena itu tahu betapa dalamnya lautan itu.
Tradisi keilmuan Islam membangun sesuatu yang sangat spesifik dalam diri seorang pelajar: kesadaran akan batas kemampuannya sendiri. Seorang santri yang baru setahun belajar kitab kuning tidak akan berani mengeluarkan pendapat tentang hukum fiqh yang kompleks, bukan karena tidak diizinkan, tapi karena ia sudah dibentuk untuk menyadari bahwa ia belum cukup tahu untuk bicara dengan yakin.
Yang terjadi sekarang adalah kebalikannya. Tools AI bekerja dengan cara yang sangat berbeda dari cara manusia belajar. Ketika seseorang mengetik pertanyaan tentang hukum Islam ke dalam tools AI, ia mendapat jawaban dalam hitungan detik. Jawaban itu rapi, sistematis, mengalir, dan terdengar otoritatif. Tidak ada jeda. Tidak ada momen ketika si penanya harus duduk dengan ketidakpastian, bergulat dengan teks yang sulit, atau merasa bingung sebelum akhirnya mengerti.
Semua ketidaknyamanan epistemologis itu disingkat menjadi nol. Dan tanpa ketidaknyamanan itu, tanpa proses bergulat dengan kompleksitas, seseorang tidak pernah benar-benar belajar seberapa kompleks sesuatu yang ia tanyakan. Ia hanya belajar bahwa pertanyaannya punya jawaban, dan bahwa jawabannya sudah ia dapatkan.
Inilah yang oleh para peneliti psikologi kognitif disebut sebagai illusory competence, rasa mampu yang tidak didukung oleh kemampuan nyata. Dan dalam konteks keagamaan, illusory competence ini jauh lebih berbahaya dari sekadar salah paham tentang satu atau dua hukum fiqh.
Mengapa Ini Sangat Berbahaya?
Radikalisasi konvensional bisa dideteksi. Ada narasi yang jelas, ada kelompok yang bisa diidentifikasi, ada konten yang bisa diblokir, ada jaringan yang bisa dipantau. Densus 88 punya instrumen untuk ini. BNPT punya program untuk ini. Tapi bagaimana cara mendeteksi seseorang yang hanya terlalu yakin?
Mahasiswa yang terpapar radikalisasi konvensional biasanya menunjukkan tanda yang bisa dibaca, perubahan sikap yang mencolok, perubahan pergaulan, perubahan cara bicara tentang kelompok lain. Tapi mahasiswa yang mengalami illusory competence karena terlalu sering mengandalkan AI untuk pertanyaan keagamaannya tidak menunjukkan tanda apa-apa. Ia tetap mahasiswa biasa, aktif di kampus, ramah di lingkungan, tapi di dalam dirinya sudah terbentuk keyakinan yang tidak proporsional dengan pengetahuannya.
Keyakinan yang tidak proporsional itu, dalam waktu tertentu dan kondisi tertentu, adalah tanah yang subur untuk benih apapun, termasuk benih yang paling berbahaya sekalipun. Bukan karena AI menanamkan benih itu. Tapi karena AI menyiapkan tanahnya. AI tidak bisa mengajarkan satu hal yang justru paling dibutuhkan dalam perjalanan belajar agama: pengalaman tidak tahu.
Pengalaman tidak tahu adalah momen ketika seseorang menghadapi pertanyaan yang tidak punya jawaban mudah, lalu duduk dengan ketidakpastian itu, mencarinya dari berbagai arah, mendiskusikannya dengan orang yang lebih tahu, dan akhirnya sampai pada pemahaman yang lahir dari proses panjang bukan dari satu klik. Proses itulah yang membentuk tidak hanya pengetahuan, tapi juga kerendahan hati intelektual yang menjadi fondasi cara seseorang memperlakukan perbedaan pendapat.
Seseorang yang pernah merasakan betapa sulitnya memahami satu masalah fiqh yang kompleks tidak akan mudah menghakimi orang lain yang berbeda pendapat dengannya. Ia tahu dari pengalamannya sendiri bahwa persoalan itu rumit, bahwa ulama-ulama besar pun berbeda pendapat, dan bahwa keyakinannya sendiri bisa saja tidak sempurna. Seseorang yang setiap pertanyaannya selalu bisa dijawab dalam hitungan detik tidak pernah mendapat pengalaman itu.
Bukan Melarang, Tapi Menyadari
Apa yang saya tuliskan ini bukan seruan untuk tidak menggunakan AI. Menggunakan AI akan mendatangkan banyak manfaat yang nyata dan tidak perlu dipungkiri. AI bisa menjadi pintu masuk, jembatan awal, alat eksplorasi yang membantu seseorang menemukan apa yang perlu ia pelajari lebih lanjut.
Masalahnya bukan pada alatnya. Masalahnya ada pada cara kita memposisikan alat itu dalam proses belajar agama. Ketika AI bergeser dari alat bantu menjadi sumber utama, dan ketika sumber utama itu menghasilkan rasa percaya diri yang melampaui pemahaman yang sesungguhnya, di situlah bahaya yang sesungguhnya bermula.
Allah berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 36: “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” Ayat ini tidak hanya berbicara tentang larangan mengikuti hal yang salah. Ia berbicara tentang tanggung jawab epistemic, kewajiban untuk benar-benar tahu sebelum meyakini dan bertindak berdasarkan keyakinan itu.
Rasa percaya diri yang lahir dari jawaban instan bukan pengetahuan. Dan bertindak berdasarkan rasa percaya diri yang bukan pengetahuan adalah persis bentuk ketidaktahuan yang paling sulit disembuhkan, karena penderitanya tidak merasa sakit.

















Leave a Comment