Dari Nubuwah Menuju Realitas: Refleksi Hadis Al-Wahn Terhadap Transformasi Orientasi Kehidupan Modern

Harakatuna

23/07/2026

9
Min Read
Dari Nubuwah Menuju Realitas: Refleksi Hadis Al-Wahn Terhadap Transformasi Orientasi Kehidupan Modern

Harakatuna.com – Perkembangan zaman yang diindikasikan oleh pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan arus globalisasi telah membawa berbagai perubahan dalam dinamika kehidupan umat Islam. Di satu sisi, kemajuan tersebut membuka peluang besar bagi perkembangan suatu peradaban. Namun di sisi lain, muncul berbagai tantangan signifikan, seperti menguatnya orientasi materialistik, budaya konsumtif, individualisme, serta berkurangnya kepedulian terhadap persoalan umat. Fenomena tersebut tidak hanya memengaruhi aspek sosial, tetapi juga berimplikasi pada kualitas keimanan dan orientasi hidup seorang Muslim.

Islam sebagai agama yang bersifat universal tidak hanya memberikan tuntunan dalam aspek ibadah saja, tetapi juga menawarkan cara pandang terhadap berbagai perubahan yang terjadi di setiap zaman. Sebagai sumber ajaran islam setelah Al-Qu’ran, Hadist memiliki fungsi yang tidak hanya menjelaskan ketentuan syariat, tetapi juga memberikan panduan dalam menyikapi berbagai dinamika perubahan sosial yang terjadi sepanjang Sejarah. Oleh karena itu, kandungan hadist tidak dapat dipahami dengan semata-mata sebagai respons terhadap realitas Masyarakat pada masa Rasulullah ﷺ, melainkan juga sebagai pedoman yang memiliki relevansi dalam menjawab berbagai dinamika kehidupan umat islam di era kontemporer.

Salah satu Hadist Nabi ﷺ yang memiliki relevansi kuat dengan kondisi umat manusia lebih terkhusus umat islam saat ini adalah Hadist Tentang “Al Wahn”. Melalui Hadist tersebut Rasulullah ﷺ mengingatkan kepada para umatnya terkait titik dasar kelemahan umat Islam yang terpicu oleh Amrad al- Qulub (Penyakit Hati) kondisi ini disebabkan oleh kecintaan yang berlebihan  terhadap dunia yang bersifat Fana (sementara) dan disertai rasa takut terhadap sebuah kehidupan yang berkelanjutan yakni kematian (karāhiyat al-mawt).

Hadis Al-Wahn yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan Abī Dāwūd (Kitāb al-Malāḥim, no. 4297) dan dinilai sahih oleh Muhammad Nāṣir al-Dīn al-Albānī dalam Silsilah al-Aḥādīṡ al-Ṣaḥīḥah (no. 958) menceritakan tentang kondisi serta karakteristik umat Islam pada masa mendatang, dimana mereka kehilangan kekuatan akibat melemahnya spiritualitas. Rasulullahﷺ mengambarkan situasi tersebut melalui sabdanya berikut

4297 – حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدِّمَشْقِيُّ، حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ بَكْرٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ جَابِرٍ، حَدَّثَنِي أَبُو عَبْدِ السَّلَامِ، عَنْ ثَوْبَانَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا»، فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: «بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ»، فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: «حُبُّ الدُّنْيَا، وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ»

“Akan datang suatu masa di mana bangsa-bangsa (musuh-musuh kalian) akan saling memanggil satu sama lain untuk menyerang kalian, seperti orang-orang yang saling memanggil teman-temannya untuk makan dari satu nampan.”
Salah seorang sahabat bertanya: “Apakah karena jumlah kami sedikit pada saat itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Tidak, bahkan kalian pada hari itu sangat banyak. Akan tetapi kalian seperti buih di atas air bah (tidak memiliki kekuatan). Dan sungguh Allah akan mencabut rasa takut (wibawa) dari hati musuh-musuh kalian terhadap kalian. Dan sungguh Allah akan melemparkan dalam hati kalian penyakit al-wahn.” Seorang sahabat bertanya lagi: “Apa itu al-wahn, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.

Makna Al-Wahn menjadi bagian penting dalam memahami kandungan Hadist tersebut. Oleh karena itu, sebelum mengkaji relevansinya terhadap kehidupan umat Islam saat ini, perlu dipahami terlebih dahulu pengertian Al-Wahn baiksecara etimologis maupun terminologis. Secara Etimologis (Bahasa) Kata AlWahn tersusun dari huruf wawu (و), ha (ه), na (ن), dengan wazan;

وَهَنَ – يَهِنُ – وَهْنًا

Wahana-Yahinu-Wahnan”

Kalimat tersebut memiliki arti ad-dha’fu fil amri wa fil amali wa fil badani (lemah pada urusan, pekerjaan, dan badan). Dalam kamus lisan al-Arab, Ibn Manzur menjelaskan bahwa kata wa-ha-na mempunyai asal makna lemah dalam suatu pekerjaan, aktivitas atau perbuatan dan lemah dalam suatu perkara. Adapun Menurut seorang mufassir dan ahli Bahasa Arab terkemuka, Raghib al-Asfahani, dalam kitabnya Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, kata wahn berarti lemah fisik atau jiwa. Sedangkan secara Terminologis (istilah) ungkapan Al-Wahn dipahami sebagai kondisi melemahnya spiritualitas akibat dominasi kecintaan terhadap kehidupan dunia. Dalam konteks kehidupan modern, kondisi tersebut dapat tercermin dalam perilaku hedonistik dan materialistik yang menempatkan kesenangan serta kepemilikan materi sebagai orientasi utama dalam kehidupan.

Imam Ibn Qayimm menekankan bahwa cinta dunia menghilangkan semangat beribadah, keberanian, dan keikhlasan dalam berjuang. Dalam al-Jawāb al-Kāfī, ia menyebut bahwa cinta terhadap dunia dan jabatan adalah sumber utama berbagai kesalahan dan penyimpangan. Menurutnya, takut mati timbul ketika seseorang lebih mengutamakan dunia daripada akhirat, sehingga ia tidak siap menghadapi perjumpaan dengan Allah. Kemudian Imam Ibn Hajar Al`Asqalani menjelaskan bahwa cinta dunia berarti menjadikan kenikmatan duniawi sebagai prioritas tertinggi, sementara takut mati adalah akibat dari lemahnya kesiapan spiritual. Ia memandang dua sifat ini sebagai tanda kemerosotan iman dan orientasi hidup. Maka Berdasarkan pandangan kedua ulama tersebut, dapat dipahami bahwa kecintaan yang berlebihan terhadap dunia merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan degradasi kualitas keimanan seseorang. Akibatnya, orientasi hidup bergeser dari pencapaian ridha Allah Swt. menuju pemenuhan kepentingan dan kenikmatan duniawi semata.

Relevansi konsep al-wahn dengan kehidupan modern tidak dapat dilepaskan dari makna yang terkandung dalam sabda Rasulullah saw., yaitu hubb ad-dunyā wa karāhiyat al-maut (cinta dunia dan takut mati). Kedua sifat tersebut merupakan inti dari al-wahn yang menjadi penyebab melemahnya kualitas keimanan dan keteguhan seorang muslim dalam menjalankan ajaran Islam. Oleh karena itu, pemahaman terhadap makna hubb ad-dunyā wa karāhiyat al-maut menjadi penting untuk melihat bagaimana fenomena tersebut tercermin dalam kehidupan masyarakat saat ini.

Maka perlu diketahui Makna dari (حُبُّ الدُّنْيَا) tidak dimaknai sebagai larangan untuk memiliki harta atau menikmati kehidupan dunia, melainkan sikap menjadikan dunia sebagai tujuan utama dalam menjalani kehidupan. Akibatnya seseorang cenderung mengutamakan kepentingan materi, kedudukan, dan kenikmatan duniawi di atas nilai-nilai agama. Kemudian makna dari (وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ) bukan berarti takut mati sebagai naluri manusia, tetapi rasa enggan untuk menghadapi kematian yang akan datang, karena belum siap mempertanggungjawabkan amal dihadapan Allah ﷻ. Rasa ketakutan ini muncul akibat kuatnya keterikatan terhadap dunia sehingga seseorang lebih sibuk mengejar kepentingan Duniawi daripada mempersiapkan kehidupan yang kekal yaitu kehidupan Ukhrawi.

Dalam konteks kehidupan modern saat ini, makna hubb ad-dunyā wa karāhiyat al-maut masih sangat relevan untuk memahami berbagai fenomena sosial yang semakin nyata ditengah dinamika perubahan zaman, seperti berkembangnya budaya materialisme yang dipengaruhi oleh arus globalisasi dan budaya barat budaya ini membentuk pola pikir yang menempatkan kekayaan, kepemilikan materi, maupun status sosial sebagai indikator utama keberhasilan dalam kehidupan. Fenomena gaya hidup materialisme ini mengajarkan kita untuk hidup diatas kekayaan harta yang melimpah dan diimplementasikan untuk hal-hal yang tidak berarti. Di samping itu, berkembang pula budaya hedonisme yang mendorong individu untuk menjadikan kesenangan dan kenikmatan sebagai tujuan utama kehidupan. Budaya materialisme dan hedonisme memang memiliki keterikatan yang sangat erat dimana kepentingan duniawi dijadikan peran utama dalam menatapi kehidupan dan ingin mendapatkan stigma sosial dari Masyarakat sekitar. Kemudian kecenderungan tersebut semakin diperkuat oleh perkembangan media sosial yang menghadirkan budaya flexing, gaya hidup konsumtif, serta kebutuhan akan validasi sosial. Akibatnya, Sebagian orang lebih berorientasi pada pencapain duniawi daripada penguatan nilai-nilai spiritual dan persiapan menuju kehidupan akhirat. Dalam perspektif hadist, fenomena tersebut merupakan sebuah manifestasi dari makna hubb ad-dunya yang menjadi inti dari penyakit al wahn.

Realitas tersebut menunjukkan bahwa budaya materialisme dan hedonisme tidak hanya berdampak pada kehidupan sosial, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas keimanan seseorang. Oleh karena itu, Al-Qur’an memberikan pedoman agar manusia tidak terjebak dalam orientasi duniawi semata. Allah Swt. berfirman:

BACA JUGA  Seni Mengakui Nikmat Allah: Menghitung yang Tak Terhitung

اعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ ۝٢

“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan. (Perumpamaannya adalah) seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, lalu mengering dan kamu lihat menguning, kemudian hancur. Di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan-nya. Kehidupan dunia (bagi orang-orang yang lengah) hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS Al Hadid: 20)

وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ ۝٧٧

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Qs Al Qashah:77)

Dalil tersebut menjelaskan bahwa kehidupan dunia itu hanyalah sebagai permainan yang menipu daya manusia agar tidak terlena oleh kenikmatan dunia yang sifatnya fana, namun pada hakikatnya dunia hanyalah tempat persinggahan  sementara kita untuk mempersiapkan bekal kelak nanti untuk mengabdi di kehidupan yang abadi /kekal ialah dikehidupan yang sesungguhnya yaitu kehidupan akhirat, Islam mengajarkan keseimbangan dalam hidup. Dunia berada di tangan, bukan di hati. Artinya, kita bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi hati kita bergantung kepada Allah ﷻ. Orang yang seimbang tidak meninggalkan dunia, tetapi juga tidak melupakan akhirat maka kelak dia akan mendapatkan kunci kehidupan yang tenang dan selamat, baik di dunia maupun di akhirat.

وَالۡاٰخِرَةُ خَيۡرٌ وَّ اَبۡقٰىؕ‏

“Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal”.

Solusi untuk Menghadapi berbagai fenomena materialisme, hedonisme, dan pergeseran orientasi hidup pada era modern, hadis al-wahn menawarkan solusi yang bersumber dari konsep nubuwah. Rasulullah saw. tidak hanya mengingatkan bahaya kecintaan yang berlebihan terhadap dunia, tetapi juga mengarahkan umat agar menjadikan keimanan, ketakwaan, dan kehidupan akhirat sebagai orientasi utama. Dalam praktiknya, hal tersebut dapat diwujudkan dengan memperkuat kualitas ibadah, menumbuhkan sikap qana’ah, menghidupkan sikap zuhud, menanamkan sikap 3M (Muhasabah, Muraqabah, Mujahadah) serta memanfaatkan harta sebagai sarana kebaikan, serta menjadikan dunia sebagai wasilah untuk memperoleh ridha Allah Swt., bukan sebagai tujuan akhir kehidupan. Dengan demikian, seorang muslim mampu menjaga keseimbangan antara tanggung jawab terhadap urusan dunia dan persiapan menuju kehidupan akhirat.

Hadis al-wahn merupakan salah satu manifestasi dari konsep nubuwah, yaitu petunjuk Rasulullah saw. yang tidak hanya relevan pada masa beliau, tetapi juga menjadi pedoman bagi umat Islam dalam menghadapi perubahan zaman. Melalui hadis ini, Rasulullah saw. telah memberikan peringatan tentang bahaya hubb ad-dunyā wa karāhiyat al-maut sebagai penyebab melemahnya kualitas iman dan kekuatan umat. Fenomena materialisme, hedonisme, budaya konsumtif, serta orientasi hidup yang semakin berpusat pada kepentingan dunia menunjukkan bahwa pesan kenabian tersebut tetap kontekstual hingga saat ini. Oleh karena itu, refleksi terhadap hadis al-wahn tidak cukup berhenti pada aspek pemahaman, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan nyata dengan menjadikan nilai-nilai yang diajarkan Rasulullah saw. sebagai pedoman dalam bersikap dan bertindak. Inilah esensi konsep nubuwah, yakni menjadikan wahyu dan sunnah sebagai landasan dalam menghadapi dinamika kehidupan, sehingga dunia diposisikan sebagai sarana untuk beramal, sedangkan akhirat tetap menjadi tujuan utama seorang muslim

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ 

“Barang siapa yang memberi teladan yang baik, lalu diamalkan oleh orang setelahnya, maka ditetapkan baginya pahala sama seperti pahala orang yang mengamalkannya, tanpa mengurangi sedikitpun pahalanya”. (HR. Muslim: 1017)

Wallahu a’lam bish-shawab.

Oleh: Rafi Dhiyaulhaq (Staf Inti Bendahara SMA Plus Muallimin 50 Lembang).

Leave a Comment

Related Post