Harakatuna.com – Kita tidak mendapati pakem yang absolut bila membicarakan proses kepenulisan seseorang. Bisa jadi, setiap penulis memiliki kecenderungan proses yang berbeda dan ciri khasnya masing-masing. Ada yang menulis dengan perencanaan yang terstruktur secara terperinci, dengan segala elemen cerita yang dipikirkan masak-masak, dan gambaran akhir cerita yang sudah ditentukan.
Ada pula yang sekadar menulis dengan satu dorongan kuat, menorehkan kata demi kata hingga tuntas, dan gambaran akhir ceritanya baru ditemukan dalam proses menuliskan karya itu sendiri. Kategori kedua inilah yang ada pada proses kepenulisan Sayaka Murata dan Hiroko Oyamada, dua penulis Jepang perempuan yang karyanya kini dikenal pembaca global.
Kendati memiliki corak karya yang sama sekali berbeda, dari mulai kecenderungan pemilihan strategi narasi sampai semesta cerita yang dihadirkan, dua penulis tersebut sama-sama menulis seolah tanpa mempersiapkan apa-apa. Bagi Murata, menulis adalah jalan untuk belajar. Ia menganggap bahwa proses menulis penting adanya, maka ia menulis tanpa mengetahui akhir cerita itu seperti apa.
Ia seolah berpikir bahwa akhir itu akan muncul sejalan dengan proses menulis yang dilakukannya. Yang terpenting, ia tahu apa yang hendak dikisahkan kepada orang lain, ia ingin mengangkat kebenaran dalam karyanya yang salah satu sumber kebenaran itu datang dari pergumulannya di tengah proses menulisnya itu.
Dari situ, bagi Murata, menulis ibarat memasuki semesta lain yang ia ibaratkan sebagai gelembung. Ia masuk ke gelembung tersebut, berinteraksi dengan makhluk-makhluk atau karakter khayali yang bergelimang dalam imajinasinya, sampai menemukan momen yang tepat untuk mengakhiri ceritanya. Namun, bukan berarti Murata menulis tanpa betul-betul mempersiapkan apa-apa, sebab ada bagian penting lain yang tak mungkin ia tinggalkan: Yaitu menciptakan sketsa karakter.
Dalam proses penulisan novelnya yang kali pertama rilis di tingkat global, Convenience Store Woman (Grove Press, 2018), Murata memikirkan dengan baik gambaran dari tiap-tiap karakternya. Misalnya, karakter manager itu orang macam apa, Furukawa Keiko selaku tokoh utama mempunyai wajah seperti apa, dan lain sebagainya. Lalu, seiring berjalannya cerita, kerap kali gambaran para karakternya pun berubah, dan kala itulah Murata mesti menyesuaikan lagi untuk menentukan apakah gambaran tersebut akan diubah atau tetap seperti sebelumnya.
Selain itu, Murata juga mempertimbangkan soal detail-detail kecil. Kita bisa melihat dari betapa sangat pahamnya ia akan segenap detail yang ada dalam toko serba ada di novel Convenience Store Woman. Hal itu bisa cukup dipahami mengingat ia memang pernah bekerja di beberapa toko serba ada selama hidupnya.
Namun, ada hal yang sedikit berbeda saat ia mengerjakan novel berikutnya, yaitu Earthlings (Grove Press, 2020). Tersebab novel itu memiliki setting tempat yang sama sekali berbeda dengan novel sebelumnya, Murata merasa perlu untuk melakukan riset di daerah lain. Setting novel itu ada di daerah Nagano, tempat yang dekat dengan rumah masa kecilnya dan ia beberapa kali pernah pergi ke sana.
Akan tetapi, demi mendapatkan detail yang lebih akurat lagi, Murata beberapa kali mengunjungi daerah itu dan memewawancarai ayah serta banyak orang lain. Hasil temuannya itu yang lantas menjadi patokan untuk setting dan penggambaran karakter serta sekian elemen lainnya. Selebihnya, proses yang ia lakukan pun sama dengan saat ia menulis Convenience Store Woman. Murata menulis tanpa mengetahui akhir cerita.
Sementara itu, bagi Hiroko Oyamada, perempuan penulis Jepang lainnya, proses menulisnya tampak lebih seperti salah satu penemuan. Ia memulainya hampir tanpa persiapan apa-apa, selain dengan satu atau beberapa kata yang membentuk kalimat, lalu segalanya dibiarkan mengalir saja. Ia pun tak menggunakan outline atau diagram di kepalanya. Baginya, selama ada sesuatu yang ingin dibagikan lewat tulisan, maka semua itu pun cukup menjadi bahan dari karya-karyanya.
Hal ini, misalnya, tergambarkan pada proses penulisan novel pertamanya, The Factory (New Directions, 2019). Dalam wawancaranya bersama David Boyd, Oyamada mengaku mendapat ide menulis itu dari kegelisahannya sewaktu masih menjadi pekerja temporer di sebuah perusahaan mobil. Selama bekerja di sana, Oyamada merasa seolah kehilangan jati dirinya, ia kerap kali menanyakan, “Apa yang kulakukan di sini? Mengapa aku ada di sini?”
Krisis makna akan aktivitas dan waktu yang dirasakannya itulah yang menjadi jiwa utama dari kisah di dalam novel The Factory. Kita bisa melihatnya dalam pesan yang ingin disampaikan Oyamada lewat ketiga tokohnya itu. Dari interaksi mereka dengan sebuah perusahaan yang penuh keganjilan dan keanehan itu, bisa ditarik satu kesimpulan besar bahwa mereka, setidaknya ketiga karakter utama di novel, mempertanyakan tentang soal “Untuk apa melakukan sesuatu yang kelewat mudah hingga kita tak lagi mendapatkan makna apa-apa melaluinya?”.
Dengan begitu, maka tak berlebihan bahwa, Oyamada bermaksud melayangkan kritik atas dunia kerja modern, khususnya di Jepang, terkait kehidupan para pekerjanya. Dan apa yang dikritik Oyamada itu bukanlah sesuatu yang datang dari ruang hampa, melainkan semua itu didasarkan pada apa yang dirasakannya selama menjadi pekerja semasa hidupnya.
Oyamada merasa eksistensinya di sana tidak begitu berarti, sebab pekerjaan yang dilakukannya tidak membuahkan kepuasan ataupun arti apa-apa baginya. Apa yang dilakukannya, yang juga tergambarkan pada banyak adegan di novelnya itu, lebih tampak seperti perusahaan yang menyerap makna itu, mereka tak lebih seperti robot “yang cukup tahu saja apa yang mesti dilakukan tanpa mempertanyakan untuk apa dan apa maknanya di baliknya”.
Adapun dalam penggarapan novel keduanya, The Hole (New Directions, 2020), proses yang dilakukan sama dengan proses penulis novel sebelumnya. Oyamada hampir tak menyiapkan apa-apa sebagai awalan tulisannya. Menurut penuturannya, ia hanya memulai dengan dua kata kunci utama: Natsu dan Yome. Kalau diterjemahkan, Natsu bisa berarti musim panas, sedangkan Yome memiliki dua arti yang berbeda. Kata itu bisa berarti adik ipar atau pengantin perempuan, penggunaannya tergantung pada situasi ketika kata itu digunakan.
Kendati hanya dimulai dari dua kata itu, tetapi Oyamada telah mendapat gambaran tentang kisah seperti apa yang akan ditulisnya, sebab dua kata itu mewakili setting dari kisah dan fungsi sosial dari karekter utama dari kisahnya. Dan sama seperti yang dilakukan Murata, ketika tengah menggarap The Hole, Oyamada pindah ke daerah lain demi mendapati situasi berbeda terkait kehidupan perempuan di tempat itu. Situasi itu pula, yang turut membantu dalam pengembangan cerita yang sedang ditulisnya.
Kita melihat, kalau di novelnya terdahulu yang bertajuk The Factory, sasaran kritik Oyamada adalah dunia pekerja yang menghisap makna akan eksistensi diri para pekerjanya. Corak yang sedikit berbeda bisa kita dapati pada karya keduanya, The Hole. Sebab, Oyamada mengarahkan lampu sorotnya kita sesuatu yang lain, yaitu ke kehidupan perempuan yang serasa terjebak dalam situasi di keluarga dan masyarakat di sekitarnya. Kata musim panas yang menjadi setting waktu yang menguatkan kesan dan atmosfer keterjebakan itu: kita akan mendapati hari-hari dengan cuaca panas membara dan serangga yang mendengung saban hari.
Adapun kata pengantin perempuan, tampil sebagai perwakilan dari kesan yang ada pada diri tokoh utama di mata masyarakat di sekitarnya: Ia merasa bahwa kata itu sebagai cemoohan saat seorang tetangganya memanggilnya demikian, mengingat ia tidak bekerja maupun tidak memiliki anak. Dari situ, dua kata tadi berfungsi sebagai perwakilan dari sekian elemen dalam novel ini.
Akhirnya, dari dua penulis ini, setidaknya kita bisa melihat satu benang merah: Mereka memulai penggarapan karyanya tanpa perencanaan yang muluk dan selalu tak mengetahui akhir dari cerita yang sedang mereka tulis. Namun, bukan berarti mereka buta arah sama sekali, sebab mereka mengetahui secara pasti apa yang hendak dikisahkan kepada orang lain.
Selain itu, mereka juga memiliki keinginan untuk mempertanyakan suatu hal atau ingin mengkritik suatu sistem dalam tatanan sosial di masyarakat. Singkat kata, mereka memiliki misi tersendiri di balik setiap karya yang hendak mereka tuliskan. Dan tentu, mereka secara sadar mengetahui jalan seperti apa yang cocok untuk mengeluarkan semua ide mereka itu. Mereka menulis dengan cara dan strategi yang paling membuat mereka nyaman.

















Leave a Comment