Radikalisasi di Rantau: Membaca Perjalanan Ideologis Anak Muda

Hafez Wisnu Permana

26/04/2026

8
Min Read
Radikalisasi Rantau

On This Post

Judul Buku: Resisting Radicalisation: Understanding Young People’s Journeys through Radicalising Milieus, Editor: Hilary Pilkington, Penerbit: Berghahn Books, Kota Terbit: New York & Oxford, Tahun Terbit: 2024, Tebal Buku: x + 312 halaman, ISBN: 978-1-80539-008-4 (hardback)/978-1-80539-012-1 (paperback)/978-1-80539-386-3 (ePub)/978-1-80539-009-1 (web PDF), DOI: https://doi.org/10.3167/9781805390084, Peresensi: Hafez Wisnu Permana.

Harakatuna.com – Selama dua dekade terakhir, studi tentang radikalisasi bergerak dalam satu arah yang tampak meyakinkan: mencari akar penyebab. Kemiskinan, keterasingan sosial, krisis identitas, hingga paparan ideologi tertentu dijadikan variabel penjelas yang seolah cukup untuk menerangkan mengapa seseorang menjadi radikal. Radikalisasi dibayangkan sebagai proses linear, jalur yang dimulai dari kerentanan, bergerak melalui tahap-tahap ideologisasi, dan berujung pada ekstremisme, bahkan kekerasan.

Namun, justru asumsi inilah yang digugat secara mendasar oleh Resisting Radicalisation? Understanding Young People’s Journeys through Radicalising Milieus. Buku ini tidak menolak sepenuhnya pentingnya faktor-faktor struktural, tetapi menilai bahwa obsesi terhadap “akar” telah menyederhanakan sesuatu yang pada dasarnya jauh lebih cair dan kompleks.

Alih-alih bertanya “mengapa seseorang menjadi radikal”, para penulis dalam buku ini menggeser fokus ke pertanyaan yang lebih dinamis: bagaimana anak muda bergerak di dalam dan melalui lingkungan yang terpapar ide-ide radikal. Di titik inilah konsep trajectory menjadi kunci. Radikalisasi tidak lagi dipahami sebagai titik akhir yang pasti, melainkan sebagai serangkaian pergerakan yang tidak selalu lurus, tidak selalu konsisten, dan tidak selalu berujung pada ekstremisme.

Perubahan sudut pandang ini membawa implikasi besar. Jika radikalisasi adalah lintasan, maka ia membuka kemungkinan untuk berhenti, berbelok, bahkan berbalik arah. Seseorang dapat berada dalam kedekatan dengan ide-ide radikal tanpa pernah sepenuhnya menginternalisasinya. Yang lain mungkin sempat terlibat, tetapi kemudian menjauh. Dengan kata lain, radikalisasi bukanlah takdir yang tak terelakkan, melainkan proses yang terus dinegosiasikan.

Untuk menjelaskan dinamika ini, buku ini menempatkan radikalisasi dalam tiga dimensi yang saling terkait: relasional, kontekstual, dan situasional. Pertama, sebagai fenomena relasional, radikalisasi tidak pernah berlangsung dalam ruang hampa. Ia terbentuk melalui interaksi dengan teman sebaya, keluarga, komunitas, dan jaringan sosial yang lebih luas. Pilihan individu tidak berdiri sendiri, melainkan terjalin dalam relasi yang memberi makna, tekanan, sekaligus peluang.

Kedua, sebagai fenomena kontekstual, radikalisasi selalu terkait dengan kondisi sosial dan politik yang melingkupinya. Pengalaman marginalisasi, stigma, atau ketidaksetaraan tidak secara otomatis melahirkan radikalisme, tetapi dapat membentuk kerangka interpretasi yang membuat narasi tertentu terasa relevan. Ketiga, sebagai fenomena situasional, radikalisasi bersifat tidak stabil dan sangat bergantung pada momen-momen konkret.

Melalui kerangka ini, buku tersebut secara halus namun tegas membongkar asumsi bahwa radikalisasi adalah jalan satu arah menuju ekstremisme. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa yang lebih umum justru adalah ambiguitas: keterlibatan yang setengah, penerimaan yang parsial, atau bahkan penolakan yang berkembang dari dalam pengalaman itu sendiri.

Di sinilah kekuatan utama buku ini sebagai sebuah karya akademik sekaligus intervensi intelektual. Ia memaksa pembaca untuk meninggalkan kenyamanan penjelasan sederhana, dan mulai melihat radikalisasi sebagai proses sosial yang berlapis, bergerak, dan terbuka pada berbagai kemungkinan.

Milieu: Ekosistem Sosial Radikalisasi Anak Muda

Jika pergeseran dari “akar” ke “lintasan” memberi fondasi teoretis, maka konsep radical milieu adalah jantung yang menghidupkan seluruh argumen buku ini. Di sinilah radikalisasi tidak lagi dilihat sebagai hasil internalisasi ide semata, melainkan sebagai sesuatu yang tumbuh, beredar, dan dinegosiasikan di dalam sebuah ekosistem sosial.

Milieu merujuk pada ruang, baik fisik maupun sosial, di mana ide-ide radikal hadir sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari: dibicarakan, diperdebatkan, dinormalisasi, atau bahkan ditolak. Dengan kata lain, yang ditelusuri bukan apa yang dipikirkan individu, namun di mana dan bersama siapa pemikiran itu terbentuk. Buku ini menunjukkan bahwa milieu semacam itu tidak tunggal bentuknya. Ia dapat muncul sebagai lingkungan berbasis wilayah: kawasan urban tertentu dengan konsentrasi komunitas, ditandai oleh pengalaman migrasi dan deprivasi sosial.

Dalam konteks Eropa, misalnya, beberapa distrik kota menjadi ruang di mana identitas, pengalaman marginalisasi, dan jaringan pertemanan saling bertaut, menciptakan kondisi di mana narasi ideologis tertentu lebih mudah beresonansi. Namun, penting dicatat bahwa lingkungan ini bukan “penyebab otomatis” radikalisasi; ia lebih tepat dipahami sebagai ruang kemungkinan, tempat berbagai lintasan, baik menuju keterlibatan maupun penolakan, berlangsung secara bersamaan.

Di sisi lain, milieu juga hadir dalam bentuk yang lebih cair dan tidak terikat wilayah, yakni berbasis jaringan atau kanal sosial. Di sini, radikalisasi bergerak melalui keluarga, lingkar pertemanan, kelompok informal, hingga institusi seperti penjara. Buku ini memberi perhatian khusus pada bagaimana tempat-tempat yang tampak banal justru dapat menjadi titik temu ideologis. Penjara, misalnya, dilihat sebagai ruang interaksi intens yang dapat memperkuat, mengubah, atau bahkan meredam kecenderungan radikal, tergantung pada dinamika relasional di dalamnya.

Pendekatan ini membuat pembacaan terhadap radikalisasi menjadi jauh lebih konkret dan sekaligus lebih kompleks. Alih-alih menunjuk satu faktor dominan, buku ini menampilkan mosaik situasi empiris: lingkungan kota di Eropa Barat, komunitas migran, ruang sosial anak muda, hingga institusi tertutup seperti penjara. Di setiap konteks, yang terlihat bukan pola tunggal, melainkan bagaimana individu berinteraksi dengan pesan radikal, bagaimana mereka meresponsnya, dan bagaimana respons itu dibentuk oleh jaringan sosial di sekitarnya.

Dari sini, satu kesimpulan menjadi sulit untuk dihindari: ideologi tidak pernah berdiri sendiri. Ia tidak bergerak dalam ruang abstrak, melainkan hidup dalam infrastruktur sosial yang memberinya bentuk, bahasa, dan legitimasi. Tanpa milieu, ide mungkin tetap ada, tetapi tidak memiliki daya hidup yang sama. Sebaliknya, di dalam milieu, ide-ide tersebut memperoleh konteks, menjadi sesuatu yang bisa dirasakan, dialami, dan dinegosiasikan oleh individu dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan menempatkan milieu sebagai pusat analisis, buku ini sekaligus menggeser fokus dari “apa yang salah dengan individu” ke “bagaimana lingkungan memungkinkan berbagai kemungkinan terjadi”. Ini bukan sekadar perubahan perspektif, melainkan perubahan cara membaca realitas: radikalisasi tidak lagi dipahami sebagai penyimpangan personal, tetapi sebagai fenomena yang berakar dalam jaringan sosial yang lebih luas; jaringan yang membuka ruang bagi resistansi dan penolakan.

Resistansi dan Ambiguitas Radikalisasi di Rantau

Di titik inilah buku ini menemukan relevansinya yang paling nyata: ketika kerangka teoretis tentang trajectory dan milieu dibawa keluar dari konteks Eropa dan digunakan untuk membaca fenomena yang lebih dekat, yakni pengalaman anak muda dalam diaspora, termasuk mahasiswa yang menempuh studi di luar negeri. Dalam banyak perdebatan publik, keberadaan mereka kerap dibaca secara biner: antara “terpapar” atau “tidak”, “radikal” atau “moderat”. Namun, seperti yang ditunjukkan buku ini, realitas di lapangan jauh lebih berlapis daripada sekadar kategori hitam-putih tersebut.

Ruang rantau, dalam banyak hal, justru merupakan contoh konkret dari apa yang disebut sebagai radical milieu. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk organisasi formal, tetapi menjelma sebagai jaringan sosial yang cair: lingkar pertemanan, komunitas pelajar, forum diskusi, hingga relasi senior-junior yang membentuk orientasi ideologis secara halus namun berkelanjutan. Dalam kondisi keterpisahan dari lingkungan asal, jaringan semacam ini memperoleh peran sebagai sumber makna, identitas, dan arah berpikir.

Namun, mengikuti argumen utama buku ini, keberadaan milieu tidak pernah identik dengan hasil akhir berupa ekstremisme. Justru yang lebih sering terjadi adalah proses negosiasi yang terus-menerus. Seorang mahasiswa dapat menghadiri diskusi tertentu, mengikuti lingkaran kajian, atau berinteraksi dengan jaringan ideologis, tanpa pernah sepenuhnya menyerap atau mengamini seluruh gagasan yang beredar di dalamnya. Dalam banyak kasus, keterlibatan bersifat parsial—cukup untuk merasa menjadi bagian, tetapi tidak cukup untuk mengikat secara total.

Di sinilah konsep resistansi penting. Buku ini mengingatkan bahwa berada di dalam lingkungan yang terpapar ide radikal tidak berarti kehilangan agensi. Individu tetap memiliki kapasitas untuk menilai, mempertanyakan, bahkan menolak. Resistansi tersebut tidak selalu tampil sebagai penolakan terbuka; ia bisa hadir dalam bentuk jarak emosional, skeptisisme diam-diam, atau keputusan untuk tidak melangkah lebih jauh. Dalam konteks diaspora, resistansi terbentuk dari pengalaman lintas budaya, interaksi akademik, maupun refleksi personal.

Lebih jauh lagi, yang muncul bukan sekadar resistansi, namun juga ambiguitas. Buku ini secara implisit membuka ruang untuk memahami apa yang bisa disebut sebagai “keterlibatan setengah”, posisi di mana individu berada di antara menerima dan menolak. Mereka mungkin mengadopsi sebagian narasi, tetapi mengabaikan bagian lain; mengikuti jaringan tertentu, tetapi tanpa komitmen penuh. Ambiguitas tersebut diabaikan dalam wacana publik, padahal justru di sanalah sebagian besar realitas sosial berlangsung.

Dengan demikian, membaca radikalisasi di rantau melalui lensa buku ini berarti meninggalkan kecenderungan untuk menyederhanakan. Ia menuntut perhatian pada detail: pada relasi sehari-hari, pada dinamika komunitas, pada proses tarik-ulur antara penerimaan dan penolakan. Buku ini tidak menawarkan jawaban instan, tetapi memberikan perangkat analitis yang memungkinkan kita melihat fenomena secara lebih jernih, bahwa yang terjadi bukan sekadar proses “menjadi radikal”, melainkan perjalanan yang penuh persimpangan, negosiasi, dan kemungkinan yang terbuka.

Kekuatan buku ini terletak pada kemampuannya mengembalikan kompleksitas ke dalam diskursus yang terlalu lama disederhanakan. Diaspora anak muda perlu dipahami bukan hanya siapa yang “terpapar”, tetapi bagaimana mereka bergerak, bertahan, menyesuaikan diri, atau justru mengambil jarak. Di sanalah radikalisasi berhenti menjadi label, dan mulai terbaca sebagai proses sosial yang dinamis dan tidak pernah sepenuhnya dapat dipastikan arahnya.

Leave a Comment

Related Post