Menyibak Wajah Islam yang Damai, Ramah, dan Menyejukkan

Fathorrozi, M.Pd

21/06/2026

6
Min Read
Islam Damai
Judul: Islam yang Santun dan Ramah, Toleran dan Menyejukkan, Penulis: Dr. Zaprulkhan, M.S.I, Penerbit: PT. Elex Media Komputindo, Cetakan: I, 2017, Tebal: 218 Halaman, ISBN: 978-602-04-2256-5, Peresensi: Fathorrozi, M.Pd.

Harakatuna.com – Di tengah dunia yang kerapkali gaduh oleh kebencian, prasangka, dan fanatisme sempit atas nama agama, buku Islam yang Santun dan Ramah, Toleran dan Menyejukkan karya Zaprulkhan hadir seperti mata air yang menenangkan dahaga spiritual sekaligus intelektual. Buku ini bukan sekadar kumpulan refleksi keislaman, melainkan sebuah ikhtiar serius untuk mengembalikan wajah Islam pada poros aslinya, yakni agama yang membawa rahmat, cinta kasih, dan kedamaian bagi seluruh umat manusia.

Sejak halaman-halaman awal, pembaca langsung diajak menyelami gagasan besar tentang “Paradigma Humanisme Islam.” Di titik inilah kekuatan utama buku ini terasa begitu hidup. Zaprulkhan tidak memosisikan Islam sebagai agama yang kaku, keras, dan penuh amarah sebagaimana acapkali ditampilkan oleh kelompok-kelompok radikal. Sebaliknya, ia menampilkan Islam sebagai peradaban yang lentur, humanis, terbuka terhadap perbedaan, dan sangat menghargai martabat manusia.

Islam Tidak Tunggal, tetapi Kaya Wajah dan Tafsir

Salah satu gagasan paling menarik dalam buku ini adalah penjelasan bahwa Islam secara historis dan sosiologis memiliki banyak wajah. Penulis menjelaskan bagaimana sejak wafatnya Nabi Muhammad SAW, umat Islam berkembang dalam keragaman pemikiran: mulai dari teologi, fikih, tafsir, ushul fikih, hingga tasawuf.

Pemaparan ini sangat penting karena selama ini ada kecenderungan sebagian kelompok merasa paling benar sendiri, lalu menuding kelompok lain sesat, bid’ah, bahkan kafir. Padahal dalam tradisi keilmuan Islam sendiri, perbedaan justru merupakan bagian dari kekayaan intelektual. Dalam fikih misalnya, dikenal prinsip aktsaru min qaulayn, selalu ada lebih dari dua pendapat. Artinya, kebenaran tidak boleh dibelenggu dalam satu tafsir tunggal.

Melalui penjelasan tersebut, Zaprulkhan seolah ingin mengatakan bahwa Islam sejatinya tidak dibangun di atas fondasi kebencian terhadap perbedaan, melainkan penghormatan terhadap keragaman pemikiran manusia. Islam tidak anti dialog. Islam juga tidak lahir untuk menebar ancaman.

Di sinilah buku ini terasa sangat relevan bagi situasi Indonesia maupun dunia hari ini, ketika agama acapkali dijadikan alat legitimasi kemarahan sosial dan kekerasan politik.

Melawan Wajah Islam yang Garang dan Intoleran

Bagian paling tajam dari buku ini tampak ketika Zaprulkhan membedah fenomena puritanisme dan radikalisme agama. Ia mengkritik keras kelompok-kelompok yang menampilkan Islam dalam wajah yang rigid, absolutis, gemar menghakimi, bahkan terkadang anarkis.

Menurutnya, kelompok puritan sering hanya terpaku pada romantisme masa lalu dan menolak kenyataan bahwa masyarakat terus berubah. Mereka tidak peduli pada Islam yang hidup dan berkembang secara dinamis dalam budaya manusia. Akibatnya, lahirlah cara beragama yang keras, kaku, serta miskin empati sosial.

Penulis dengan sangat cerdas menggunakan perspektif Khaled Abou El Fadl untuk menunjukkan bahwa Islam autentik justru adalah Islam humanistik, yakni Islam yang memancarkan kasih sayang, keindahan, dan kepedulian terhadap penderitaan manusia.

Di titik ini, buku tersebut terasa bukan sekadar kajian akademik, melainkan juga kritik sosial yang sangat berani. Zaprulkhan seperti hendak menegaskan bahwa radikalisme bukanlah wajah utama Islam. Terorisme bukan ajaran Nabi Muhammad SAW. Kekerasan atas nama agama hanyalah hasil pembacaan sempit terhadap teks-teks suci yang sebenarnya sangat kaya tafsir.

Pesan ini terasa sangat penting, terutama di era media sosial ketika agama sering direduksi menjadi slogan kemarahan dan propaganda permusuhan.

Nabi Muhammad SAW: Sang Pembawa Kedamaian

Salah satu bagian paling menyentuh dalam buku ini adalah pembahasan mengenai Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa kedamaian bagi kemanusiaan. Penulis menghadirkan kekaguman tokoh-tokoh dunia seperti Mahatma Gandhi, George Bernard Shaw, hingga Alphonse de Lamartine terhadap sosok Nabi Muhammad.

George Bernard Shaw, sastrawan legendaris Amerika Serikat abad 20 yang meraih penghargaan Nobelis sastra melukiskan sang Nabi dengan sangat positif-prospektif, “Saya telah mempelajari sosok Muhammad, seorang manusia yang luar biasa dan menurut saya sangat jauh dari sosok anti Kristus (Nabi Isa). Dia harus disebut sebagai penyelamat umat manusia. Saya percaya jika manusia seperti dia diserahi kendali kepemimpinan dunia modern, dia akan berhasil memecahkan problem-problemnya sehingga dunia akan mendapatkan kedamaian dan kebahagiaan.” (hlm. 4).

BACA JUGA  Ahok, Demokrasi, dan Luka Kolektif Bangsa; Sebuah Telaah

Bagian ini sangat menarik karena menunjukkan bahwa keagungan Nabi Muhammad tidak hanya diakui umat Islam, tetapi juga dihormati oleh banyak tokoh besar dunia nonmuslim. Mereka tidak melihat Muhammad sebagai simbol kekerasan, melainkan figur yang membawa cinta kasih, pengampunan, dan kemanusiaan universal.

Penulis menggambarkan bagaimana Nabi memaafkan musuh-musuh besarnya ketika Fathul Makkah terjadi. Abu Sufyan yang dulu memusuhi beliau diampuni. Wahsyi yang membunuh Hamzah juga dimaafkan. Ini bukan tindakan seorang pemimpin haus balas dendam, melainkan pribadi agung yang menjadikan kasih sayang sebagai inti dakwahnya.

Bahkan jauh sebelum dunia modern berbicara tentang toleransi dan hak asasi manusia, Nabi Muhammad telah membangun Piagam Madinah yang menjamin hidup berdampingan antara umat Islam dan Yahudi dalam satu komunitas politik yang damai.

Dari sini, Zaprulkhan ingin menegaskan bahwa Islam sejak awal lahir bukan dengan pedang, melainkan dengan akhlak. Islam berkembang bukan karena teror, tetapi karena keteladanan moral Nabi Muhammad SAW.

Tiga Bab Besar yang Menjadi Pondasi Buku

Secara keseluruhan, buku ini dibagi ke dalam tiga bab besar yang saling terhubung dengan sangat rapi.

Bab pertama membahas Nilai-Nilai Humanisme Islam. Pada bagian ini, pembaca diajak memahami bahwa inti ajaran Islam adalah kasih sayang, akhlak, dan penghormatan terhadap kemanusiaan universal. Penulis mengaitkannya dengan berbagai momentum keagamaan seperti Maulid Nabi, Idulfitri, Nuzulul Qur’an, hingga makna takwa dan kebajikan global.

Bab kedua mengangkat tema Nilai-Nilai Transformatif Islam. Di sinilah Zaprulkhan banyak membahas jihad, pembaruan pemikiran Islam, tasawuf sosial, dan kritik terhadap radikalisme. Ia mengutip pemikiran Jamal al-Banna bahwa jihad masa kini bukan tentang mati di jalan Allah, melainkan bagaimana hidup di jalan Allah dengan membebaskan manusia dari kebodohan, kemiskinan, dan ketidakadilan.

Sedangkan bab ketiga membahas Nilai-Nilai Keindonesiaan. Penulis mencoba merajut hubungan harmonis antara Islam dan keindonesiaan. Islam Indonesia digambarkan sebagai Islam yang santun, terbuka, inklusif, serta mampu hidup berdampingan dengan kemajemukan budaya dan agama.

Bagi saya pribadi, bagian ini menjadi salah satu kekuatan terbesar buku tersebut. Zaprulkhan berhasil menunjukkan bahwa menjadi muslim yang baik tidak berarti harus membenci budaya lokal, anti terhadap demokrasi, atau memusuhi keberagaman bangsa sendiri.

Buku ini juga penting dibaca oleh generasi muda agar mereka tidak mudah terjebak pada narasi keagamaan yang penuh kebencian. Sebab hari ini, ancaman terbesar agama bukan hanya sekularisme, tetapi juga fanatisme yang kehilangan akhlak.

Islam Seharusnya Menjadi Cahaya, Bukan Ancaman

Akhir kata, Islam yang Santun dan Ramah, Toleran dan Menyejukkan bukan sekadar buku keislaman biasa, namun ia adalah seruan moral agar umat Islam kembali menghidupkan wajah Islam yang lembut dan penuh cinta sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

Buku ini mengingatkan kita bahwa Islam tidak datang untuk menakut-nakuti manusia. Islam hadir untuk memuliakan kehidupan. Islam bukan agama yang identik dengan ledakan bom, ujaran kebencian, atau amarah di mimbar-mimbar. Islam adalah agama yang mengajarkan ta’aruf, saling mengenal, saling menghormati, dan saling menjaga martabat sesama manusia.

Di tengah dunia yang semakin mudah tersulut permusuhan, buku ini terasa seperti pelita kecil yang mengingatkan bahwa agama semestinya menjadi rumah yang menenangkan, bukan ruang yang dipenuhi ancaman.

Leave a Comment

Related Post