31.5 C
Jakarta

R20 Bisa Menyelesaikan Konflik Dunia?

Artikel Trending

EditorialR20 Bisa Menyelesaikan Konflik Dunia?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Bulan November ini, setidaknya ada tiga acara internasional yang digelar di Bali Indonesia. Pertama, AICIS, 21th Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) diselenggarakan oleh Ditjen Pendis Kementerian Agama RI yang berlangsung tanggal 1-4 November 2022 dengan mengangkat tema Future Religion in G20.

Kedua, Religion Twenty (R.20) pada 2-3 Nopember 2022 dengan mengangkat tema Revealing and Nurturing Religion as a Source of Global Solutions: A Global Movement for Shared Moral and Spiritual Values. Ketiga, KTT G20 akan berlangsung pada 15-16 November 2022 yang mengambil tema Recover Together, Recover Stronger.

Yang menarik dilihat dalam konteks agama adalah perihal gelaran G20 Religion Forum atau R20. Pada gelaran ini banyak orang berharap bahwa dengan adanya acara ini diharapkan bisa menjadi gerakan global yang menempatkan peran agama dalam mengatasi persoalan dunia.

Gagasan utama digelarnya R20 adalah mengumpulkan para pemimpin agama dunia untuk membangun dialog yang jujur ​​​​dan lugas mengenai topik-topik yang menjadi persoalan mendasar tentang berbagai hal. Salah satunya bagaimana cara menyelesaikan problem nyata yang terjadi di masyarakat dan kehidupan global.

Tujuan yang lain, untuk merumuskan agama sebagai inspirasi bagi kehidupan antaragama secara global, para pemimpin agama dunia juga diajak bersama-sama memerankan agama secara aktif dalam membangun peradaban umat di dunia.

Namun pertanyaannya? Mampukah agama bisa bersaing dengan perkembangan global sains? Banyak penganut agama khawatir dan keteteran dalam persaingan global hari ini. Di mana pendidikan, ekonomi, budaya, dan politik seperti carut marut lewat gempuran pesatnya sains.

Atas kekhawatiran tersebut, dengan R20 mereka mencoba berupaya meraba ke mana arah masa depan agama mendatang. Agama khususnya Islam, di mata dunia sering dipandang sebelah mata, karena pemeluk agama Islam di Timur Tengah cenderung bringas dan menghalalkan darah manusia.

BACA JUGA  Menjelang Pemilu 2024: Kompetisi tanpa Politik SARA

Oleh sebab itu, respek negara-negara Barat terhadap negara pemeluk Islam sangat minim. Maka dengan R20 ini, bisa menjadi jalan alternatif untuk membicarakan hal-hal yang tak selesai terhadap permasalahn agama itu sendiri.

Menurut M. Zainuddin, setidaknya ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh Indonesia sebagai negara pemeluk Islam terbanyak di dunia. Pertama, bagaimana Indonesia menghadapi era globalisasi, MEA dan mensukseskan program SDGs; kedua, bagaimana dengan bonus demografi, Indonesia mempersiapkan generasi emas pada dasawarsa ke depan. Ketiga, bagaimana merumuskan wawasan kebangsaan dan kenegaraan di era global; keempat, bagaimana merumuskan paradigma baru memperkokoh NKRI.

Namun demikian, persoalan besar yang harus dihadapi secara cepat-cepat adalah bagaimana bisa mengentaskan dari resesi yang terjadi saat ini. Atau bagaimana keluar dari problem-problem sosial, seperti masalah hak-hak asasi manusia (HAM), demokratisasi, supremasi hukum, pemberantasan korupsi, kemiskinan dan seambrek isu-isu sosial lainnya merupakan lahan garap yang mendesak yang mesti dilakukan dan diprioritaskan oleh pemimpin bangsa ini.

R20 yang digelar di Bali, adalah jalan awal untuk mencari dan merumuskan konsep kemanusiaan, keagamaan dan sosialnya secara komprehensif dan universal melintasi batas etnisitas, sekte, ideologi dan agama itu sendiri. Namun yang paling genting daripada isu di atas adalah isu kemiskinan, pendidikan, kesehatan, dan pencemaran lingkungan yang tiap saat tambah kotor. Apakah R20 bisa menjawab tantangan ini?

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru