Potret Pendidikan Agama di Turki: Dialektika Islam Populis dan Sekularisme

Eki Yulia Susanti

31/05/2026

6
Min Read
Sekularisme Turki

On This Post

Judul Buku: Potret Pendidikan Agama di Turki, Penulis: Finan Ahsani Taqwim, Kota Terbit: Yogyakarta, Penerbit: Deepublish, Tahun Terbit: 2019, Tebal Buku: xii + 214 halaman. ISBN: 978-623-02-1487-3, Peresensi: Eki Yulia Susanti.

Harakatuna.com – Turki merupakan salah satu negara yang paling menarik untuk dikaji dalam perbincangan mengenai hubungan agama dan negara. Sebagai republik yang dibangun di atas fondasi sekularisme, Turki pada saat yang sama juga dihuni oleh masyarakat yang mayoritas beragama Islam dan memiliki tradisi keagamaan yang kuat. Ketegangan antara dua arus besar tersebut tidak hanya terlihat dalam arena politik, tetapi juga tercermin dalam dunia pendidikan. Persoalan inilah yang menjadi fokus utama buku Potret Pendidikan Agama di Turki karya Finan Ahsani Taqwim.

Buku ini menawarkan gambaran komprehensif mengenai perjalanan pendidikan agama di Turki, mulai dari masa Kekhalifahan Turki Usmani hingga era republik modern. Penulis tidak sekadar menjelaskan sistem pendidikan agama sebagai sebuah institusi, tetapi juga menempatkannya dalam konteks pergulatan ideologis antara Islam dan sekularisme yang telah mewarnai sejarah Turki selama lebih dari satu abad. Dengan pendekatan semacam ini, pendidikan dipahami bukan hanya sebagai persoalan kurikulum dan sekolah, melainkan juga sebagai arena perebutan gagasan tentang identitas bangsa.

Pada masa Turki Usmani, pendidikan agama menempati posisi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Madrasah menjadi pusat pengembangan ilmu-ilmu keislaman sekaligus pengetahuan umum. Lembaga-lembaga pendidikan berbasis keagamaan tumbuh dan berkembang sebagai bagian dari sistem sosial yang menopang keberlangsungan kekhalifahan. Namun, kondisi tersebut berubah secara drastis ketika Mustafa Kemal Atatürk mendirikan Republik Turki dan menerapkan program sekularisasi secara luas. Sejumlah institusi pendidikan agama dibatasi bahkan ditutup, sementara sistem pendidikan modern yang berorientasi Barat mulai dikembangkan.

Finan Ahsani Taqwim menjelaskan perubahan tersebut secara runtut dan mudah diikuti. Melalui uraian historis yang sistematis, pembaca dapat melihat bahwa pendidikan agama di Turki tidak pernah berkembang dalam situasi yang stabil. Kebijakan negara terhadap pendidikan agama selalu bergerak mengikuti dinamika politik yang sedang berlangsung. Pada periode tertentu, pendidikan agama memperoleh dukungan yang cukup besar dari negara, sementara pada periode lain keberadaannya justru mengalami pembatasan. Dinamika ini menjadi salah satu kekuatan buku karena berhasil menunjukkan bahwa pendidikan tidak pernah berdiri terpisah dari konteks sosial-politik yang melingkupinya.

Bagian yang cukup menarik adalah pembahasan mengenai reformasi pendidikan pada masa Sultan Mahmud II. Penulis menunjukkan bahwa modernisasi pendidikan di Turki sesungguhnya telah dimulai jauh sebelum berdirinya republik. Upaya mengadopsi model pendidikan modern dilakukan sebagai respons terhadap perkembangan dunia Barat yang semakin maju. Akan tetapi, proses modernisasi tersebut juga melahirkan perdebatan mengenai arah pendidikan dan posisi agama dalam kehidupan publik. Di sinilah muncul ketegangan antara kebutuhan akan kemajuan dan keinginan untuk mempertahankan identitas keislaman yang telah lama mengakar dalam masyarakat.

Ketegangan tersebut semakin terasa ketika buku memasuki pembahasan mengenai sekularisme Turki. Penulis menggambarkan bagaimana kelompok sekuler dan kelompok Islam konservatif terus berhadapan dalam menentukan arah kebijakan negara. Bagi kelompok sekuler, pemisahan agama dari ruang publik dianggap sebagai syarat utama modernitas. Sebaliknya, kelompok Islam memandang agama sebagai unsur penting yang tidak dapat dipisahkan dari identitas sosial masyarakat. Pergulatan dua pandangan tersebut kemudian menemukan salah satu medan pertarungannya dalam kebijakan pendidikan.

Di antara berbagai tema yang dibahas, ulasan mengenai sekolah Imam Hatip menjadi bagian paling menarik sekaligus paling relevan. Sekolah ini pada awalnya didirikan untuk menyiapkan imam dan khatib, tetapi kemudian berkembang menjadi lembaga pendidikan yang menggabungkan pelajaran agama dengan ilmu-ilmu modern. Para siswa tidak hanya mempelajari Al-Qur’an, hadis, dan fikih, tetapi juga memperoleh pendidikan sains, matematika, dan berbagai disiplin ilmu umum lainnya.

Melalui pembahasan mengenai Imam Hatip, penulis menunjukkan bahwa pendidikan agama tidak selalu harus ditempatkan dalam posisi berhadapan dengan modernitas. Sebaliknya, pendidikan keagamaan dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas dasarnya. Perspektif ini menjadi salah satu kontribusi penting buku, terutama bagi pembaca Indonesia yang selama ini masih sering melihat pendidikan agama dan pendidikan modern sebagai dua kutub yang terpisah.

Dari segi penyajian, buku ini ditulis dengan gaya akademik yang relatif mudah dipahami. Alur pembahasannya tersusun secara sistematis sehingga pembaca dapat mengikuti perkembangan sejarah pendidikan Turki secara bertahap. Karena itu, buku ini layak dibaca oleh mahasiswa, guru, peneliti pendidikan, maupun pembaca umum yang tertarik pada kajian Islam dan kebijakan pendidikan.

Meskipun demikian, buku ini masih memiliki beberapa keterbatasan. Pembahasan lebih banyak berfokus pada kebijakan dan perkembangan historis pendidikan, sementara pengalaman konkret para siswa, guru, maupun masyarakat yang terlibat dalam sistem tersebut belum memperoleh perhatian yang cukup mendalam. Kehadiran perspektif lapangan semacam itu sebenarnya dapat memperkaya analisis sekaligus membuat pembahasan terasa lebih dekat dengan pengalaman pembaca. Selain itu, beberapa bagian yang memuat uraian sejarah dan politik disajikan cukup padat sehingga membutuhkan konsentrasi lebih bagi pembaca yang belum familiar dengan konteks Turki.

Terlepas dari sejumlah kekurangan tersebut, Potret Pendidikan Agama di Turki tetap merupakan karya yang layak dibaca. Buku ini berhasil memperlihatkan bagaimana pendidikan agama tidak pernah lepas dari pengaruh sejarah, ideologi, dan konfigurasi politik negara. Melalui pengalaman Turki, pembaca diajak memahami bahwa pendidikan agama sesungguhnya bukan hanya persoalan mata pelajaran atau kurikulum, melainkan juga berkaitan dengan cara suatu bangsa mendefinisikan identitas dan masa depannya.

Karya Finan Ahsani Taqwim memberikan kontribusi yang berharga dalam kajian pendidikan Islam kontemporer. Dengan menjadikan Turki sebagai studi kasus, buku ini memperlihatkan bahwa pendidikan selalu berada dalam tarik-menarik kepentingan politik, sosial, dan ideologis. Di tengah arus modernisasi dan sekularisme yang terus berkembang, pengalaman Turki menunjukkan bahwa upaya mempertahankan identitas keagamaan tetap menjadi persoalan penting yang relevan untuk didiskusikan, termasuk dalam konteks Indonesia saat ini.

Buku ini sesungguhnya memperlihatkan bahwa pendidikan di Turki bukan sekadar instrumen transfer pengetahuan. Pendidikan menjadi sarana penting dalam membentuk identitas warga negara. Karena itu, setiap perubahan rezim politik hampir selalu diikuti oleh perubahan orientasi pendidikan. Ketika negara menguatkan agenda sekularisme, kurikulum dan lembaga pendidikan diarahkan untuk memperkuat identitas kebangsaan yang terpisah dari simbol-simbol keagamaan.

Sebaliknya, ketika kelompok konservatif memperoleh pengaruh politik yang lebih besar, pendidikan agama kembali mendapatkan ruang yang lebih luas. Dalam konteks ini, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga menjadi arena pembentukan cara pandang masyarakat terhadap agama, negara, dan modernitas.

Pembahasan tersebut menjadikan pengalaman Turki menarik untuk dibaca dari perspektif Indonesia. Meskipun memiliki latar sejarah yang berbeda, Indonesia juga terus berhadapan dengan perdebatan mengenai posisi agama dalam ruang publik dan sistem pendidikan nasional. Diskusi tentang porsi pendidikan agama, karakter kebangsaan, hingga hubungan antara nilai-nilai keislaman dan modernitas masih menjadi isu yang terus berkembang. Karena itu, pengalaman Turki yang dipaparkan dalam buku ini dapat menjadi bahan refleksi untuk melihat bagaimana sebuah negara mengelola hubungan antara identitas keagamaan dan proyek pembangunan nasional.

Pada titik inilah buku karya Finan Ahsani Taqwim memiliki nilai yang melampaui sekadar kajian tentang Turki. Buku ini mengingatkan bahwa pendidikan selalu berkaitan dengan pertanyaan yang lebih besar mengenai arah peradaban suatu bangsa. Di balik perdebatan tentang kurikulum, sekolah, dan kebijakan pendidikan, terdapat pertarungan gagasan mengenai identitas, nilai, dan masa depan yang ingin dibangun oleh sebuah negara.

Leave a Comment

Related Post