Harakatuna.com – Saya tidak setuju dan tidak mendukung Hizbut Tahrir (HT) mendirikan Khilafah di Indonesia dengan alasan-alasan syar’i, historis dan geopolitik yang telah saya kemukakan di banyak tulisan saya.
Tapi jika HT ngotot tetap ingin mendirikan Khilafah dan hanya jika dalam penentuan lokasi tempat pendirian Khilafah faktor stratejik politik global lebih dominan, ketimbang dalil-dalil syar’i, maka Amerika Serikat adalah pilihan yang ideal.
Negara superpower dengan anggaran pertahanan mencapai USD 895 miliar, didukung lebih dari 1,33 juta personel aktif dan sekitar 2,81 juta personel secara keseluruhan, termasuk pasukan cadangan dan Garda Nasional.
Diperkuat oleh armada udara sekitar 1.450 pesawat tempur dan pesawat serang, termasuk F-22 Raptor, F-35 Lightning II, serta pembom siluman yang mampu menjalankan operasi lintas benua. 11 kapal induk, puluhan kapal selam bertenaga nuklir, serta armada kapal perusak (destroyer) yang menjaga berbagai titik strategis dunia.
Dan yang terpenting Amerika Serikat memiliki total persediaan sekitar 5.044 hingga 5.500 hulu ledak nuklir. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.700 hingga 1.770 hulu ledak nuklir dikerahkan secara aktif dan siap digunakan.
Dengan mengkonversi Amerika menjadi Khilafah, HT langsung menguasai semua pasukan, persenjataan dan alutsista tersebut. Khilafah HT langsung menjadi negara superpower dunia.
Cuma kendalanya, HT belum merevisi doktrin tentang lokasi tempat pendirian Khilafah. HT berpendapat, Khilafah hanya boleh didirikan di negeri-negeri muslim yaitu negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam atau negeri yang dulu pernah menjadi wilayah Khilafah (Spanyol).
Kendati negara-negara Barat khususnya Amerika bukan menjadi tempat pendirian Khilafah, HT tetap melakukan aktivitas di sana. Aktivitas perekrutan, pengkaderan, dan propaganda membentuk opini dunia untuk mendukung Khilafah.
Aktivitas HT di Amerika Serikat sejak akhir 1980-an, di mana ada beberapa tokoh HT Arab pindah ke sana. Di antara Iyad Hilal. Amerika Serikat menjadi salah satu wilayah penting bagi penyebaran gagasan Khilafah, dialog intelektual, dan konsolidasi dakwah HT.
Jejak aktivitas tersebut dapat ditelusuri dari berbagai konferensi, forum akademik, dan kegiatan publik yang berlangsung secara berkesinambungan.
22 Desember 1989 – Konferensi ISNA di Missouri.
Delegasi HT menyampaikan pidato dalam konferensi Islamic Society of North America (ISNA) di Missouri. Naskah pidato tersebut kemudian diterbitkan dalam buku Manhaj Hizbut Tahrir fi al-Taghyir. Di Indonesia dengan judul Strategi Dakwah Hizbut Tahrir.
17-18 April 2004 – Konferensi Harvard Law School
Harvard Law School melalui Islamic Legal Studies Program menyelenggarakan konferensi Islamic Law in Modern Indonesia. Salah satu pembicaranya adalah Ismail Yusanto, juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) saat itu. Konferensi ini bukan diselenggarakan oleh HT, hanya mengundang narasumber dari HTI.
19 Juli 2009 – Konferensi Khilafah Pertama di Amerika.
HT Amerika menyelenggarakan konferensi nasional pertamanya di Hilton Hotel, Oak Lawn, Illinois, dengan tema Fall of Capitalism and Rise of Islam. Sekitar 400 peserta menghadiri acara yang menyoroti kritik terhadap kapitalisme sekaligus menawarkan Khilafah sebagai alternatif sistem politik dan ekonomi dunia.
26 Juni 2011 – Konferensi Khilafah Kedua.
Konferensi bertema Revolution in the Muslim World: From Tyranny to Triumph berlangsung di Oak Brook, Illinois. Pembahasan berfokus pada Arab Spring, kebangkitan politik umat Islam, serta konsep negara Khilafah sebagai penerus tatanan politik pascarevolusi di dunia Arab.
24 Desember 2011 – Demonstrasi Suriah di Chicago.
HT menggelar demonstrasi di pusat kota Chicago sebagai protes terhadap tindakan pemerintah Suriah terhadap rakyatnya. Para peserta membawa bendera HT dan menyerukan tegaknya Khilafah serta dihentikannya dukungan Barat kepada rezim-rezim di Timur Tengah.
17 Juni 2012 – Konferensi Khilafah Ketiga
Konferensi Revolution: Liberation by Revelation diselenggarakan di kawasan Chicago. Materinya menekankan bahwa gelombang Arab Spring merupakan peluang historis untuk mengembalikan institusi Khilafah dan menggantikan sistem demokrasi serta kapitalisme.
9 Juni 2013 – Konferensi Khilafah Keempat
Bertempat di Lexington House Banquets, konferensi bertema Muhammad: Mercy to Mankind, Messenger, Leader & Statesman menampilkan Mohammad Malkawi sebagai pembicara utama. Selain membahas identitas Muslim di Barat, konferensi juga menyerukan penggantian sistem kapitalisme dan demokrasi dengan sistem pemerintahan Islam.
14 April 2019 – Konferensi Khilafah di Chicago. Konferensi Khilafah kelima.
Konferensi Khilafah tahun 2019 di Chicago mengangkat tema Strengthening Our Families, Securing Our Future. Fokus pembahasannya adalah krisis keluarga Muslim di bawah sistem liberal-sekuler serta tawaran syariah Islam sebagai solusi kehidupan.
5 April 2025 – Konferensi Khilafah America. Konferensi Khilafah keenam.
HT Amerika kembali menggelar Konferensi Khilafah dengan tema World at Crossroads: The Ideological Crisis & The Path. Forum tersebut membahas krisis ideologi global, perang Gaza, serta kritik terhadap Amerika Serikat dan Israel. Dalam kesempatan itu, para pembicara kembali menyerukan penolakan terhadap demokrasi liberal dan mengampanyekan Khilafah sebagai alternatif sistem politik dunia.
18 Januari 2026 – Konferensi Khilafah ketujuh. HT Amerika menyelenggarakan Konferensi Khilafah tahunan dengan tema From Division to Unity (Dari Perpecahan Menuju Persatuan). Tema yang diangkat menekankan pentingnya persatuan umat Islam di bawah institusi Khilafah sebagai jawaban atas krisis politik, ekonomi, dan kemanusiaan yang melanda dunia Islam.
Kronologi aktivitas HT di atas memperlihatkan bahwa tema-tema yang diangkat terus berkembang, mulai dari kritik terhadap kapitalisme, revolusi Arab, identitas Muslim di Barat, penguatan keluarga, hingga krisis ideologi global dan persatuan umat Islam. Memperlihatkan kepiawaian HT memanfaatkan hak kebebasan berbicara, membangun narasi, dan memengaruhi opini publik.
Masyarakat Amerika yang kritis, rasional dan sekuler haus sentuhan-sentuhan agama serta mengalami krisis spiritual akut membuka peluang kepada HT untuk mendekati, menarik simpati, merekrut dan mengkader mereka dalam halaqah-halaqah hinggga menjadi pejuang Khilafah yang militan.
Akan tetapi Khilafah tetap tidak akan tegak di Amerika sampai HT merevisi doktrin tentang lokasi tempat pendirian Khilafah. Tantangannya, bersediakah HT merevisi doktrin tersebut?! Sehingga Khilafah juga boleh didirikan di luar negeri-negeri Islam, termasuk di Amerika.
Tantangan lainnya, mayoritas penduduk Amerika non muslim. HT harus mengajak mereka masuk Islam terlebih dahulu sebelum mengajak mereka halaqah. Di samping itu ada komunitas-komunitas muslim Amerika yang belum tentu setuju dengan konsep Khilafah yang diperjuangkan HT. Dan tentu saja Gedung Putih tidak akan tinggal diam bila melihat HT merajalela di sana.

















Leave a Comment