26.8 C
Jakarta

Habib Bahar Pemantik Kekisruhan Umat Islam?

Artikel Trending

Habib yang Menjamur

Dulu, saat saya kecil, di jalan-jalan tidak pernah terpampang baliho. Suasana damai sekali, bahkan tatkala gaduh pun, ya, paling itu karena persoalan biasa. Tidak...

Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi Menurut Islam

Tali pusar adalah jalan yang menghubungkan antara ibu dan bayinya ketika masih dikandungan. Tali pusar ini berfungsi untuk menyalurkan makanan dan oksigen dari ibu...

Rizieq Shihab Mati Langkah?

Pesta penyambutan kepulangan Rizieq Shihab berubah menjadi bencana bagi masa depan perjuangan politik Rizieq Shihab dan kawan-kawan. Belum genap satu bulan menginjak kaki di...

Ampuhnya Doa Orang Puasa

Berbicara tentang manjurnya doa orang puasa sejenak kita akan langsung tertuju pada sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr...

Makna Rahmat dalam Al-Qur’an Al-Karim

Rahmat terdiri dari tiga huruf râ’, hâ’, dan mîm. Menurut Ibnu Faris dalam Maqâyîs al-Lughah setiap kata Arab yang berakar dari tiga huruf râ’,...

Relasi Iman, Keadilan dan Demokrasi ala Cak Nur

Nurcholish Madjid, atau yang biasa dipanggil Cak Nur, dikenal luas sebagai salah satu cendekiawan Muslim terbesar di Indonesia. Pemikirannya merupakan suatu usaha untuk mencari...

Bagaimana Hukum Memberi Nasehat dalam Islam?

Tahukah kalian, mengapa agama merupakan suatu nasehat? Kehidupan seseorang bisa berubah dengan nasehat anda. Jalan kehidupan seseorang juga bisa berubah sedemikian baik lantaran duduk...

Wudhu Menurut aL-Qur’an dan Sunah

Wudhu merupakan ritual penting dalam Islam untuk menjaga kesucian dalam beribadah. Perintah dan dasar landasan berwudhu berangkat dari firman Allah swt dalam QS al-Maidah...

Dalam sejarah, saat Islam berjaya, Eropa masih berselimut kegelapan. Tidak ada peradaban, tidak ada pengembangan keilmuan dan riset. Otoritas gereja masih mendominasi sosial-politik. Ekspansi Islam ke Andalusia, Spanyol sekarang, kemudian menjadi jembatan penghubung antara peradaban Yunani Kuno dengan Renaissance Eropa. Eropa pun bangkit, menggantikan kejayaan Islam.

Merunut fakta historis, setiap peradaban mengalami tiga fase: kelahiran, kejayaan, dan kemunduran. Siklus ini bisa berlangsung dalam waktu yang lama. Islam mendominasi peradaban dunia sekitar tujud abad. Waktu yang tidak sebentar. Eropa mendominasi peradaban dunia tujuh abad lebih. Sekarang, kita ada di masa tersebut: dominasi kejayaan Eropa.

Seakan alamiah, radikalisme keagamaan juga mengalami siklus serupa. Ia tidak stagnan, tidak statis. Iklim sosial-politik memiliki dampak signifikan terhadap gerak-gerik kaum radikal. Dalam konteks Indonesia, mereka lahir, lalu mereka maju, lalu dibungkam, dan kini akan kita saksikan Renaissance-nya. Fenomena hari-hari menjelaskan kemungkinan terburuk itu.

Adalah Bahar bin Smith, seorang orator ulung, yang orasinya membangkitkan jiwa-jiwa radikal para radikalis. Pria 34 tahun tersebut telah bebas dari Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Cibinong, Bogor, pada Sabtu (16/5) kemarin, setelah menjalanai setengah masa pidana. Memakai baret merah bintang lima, ia dijemput oleh Ketua PA 212, Slamet Maarif, bersama rombongan.

Awalnya, dilansir dari CNN Nasional, Bahar ditetapkan sebagai tersangka penganiayaan dua remaja, Cahya bdul Jabar dan Muhammad Khoerul Auman pada Desember 2018 lalu. Ia divonis tiga tahun dan denda Rp50 juta subsider satu bulan penjara pada 9 Juli 2019. Tak juga habis masa, ia dibebaskan karena mendapat program asimilasi Peraturan Menkumham No 10 Tahun 2020.

Tidak sampai 1×24 jam dari waktu ia bebas, ia kembali berorasi, disaksikan puluhan pengikut, di suatu majelis, yang kini bertebaran di YouTube. Bahar lebih ganas dari sebelumnya, berceramah lebih agresif-provokatif dari sebelum ia dipenjara. Tampaknya, sekarang, di tengah wabah COVID-19, adalah momen yang ia dan para kaum radikal tunggu: Renaissance radikalisme.

Bahar bin Smith: Pemantik Renaissance

Saya, Bahar bin Smith, bersumpah ketika itu, di hadapan para hakim, di hadapan para jaksa, di hadapan para pengacara, di hadapan seluruh hadirin saya bersumpah. Saya, Bahar bin Ali bin Smith bersumpah, Demi Allah, selama kedua mata saya masih terbuka melihat kemungkaran… maka selama itu, tidak ada satupun yang bisa membungkam mulut saya.

Ia menambahkan, “Oleh karenanya, apa yang saya sampaikan pada saat ini, saya tidak takut besok pagi ditangkap polisi dipenjara lagi… Sore ini saya keluar, besok pagi saya ditangkap lagi, demi berjuang untuk rakyat, berjuang untuk Indonesia, berjuang untuk rakyat susah di-lockdown  di rumahnya sendiri. Saya rela, saya ikhlas, besok dipenjara lagi.

Petikan orasi tersebut jelas provokatif dan arogan. Pertama, Bahar tidak masuk penjara karena kezaliman pemerintah, melainkan karena kebarbarannya sendiri melakukan penganiayaan. Kedua, ia merasa hebat karena bebas, lalu berlagak menjadi pahlawan untuk membela rakyat di tengah COVID-19. Padahal, ia bebas juga lantaran dapat berkah virus. Andai tidak, ia masih mendekam.

Ketiga, ada semacam penggiringan opini publik, bahwa pemerintah hari ini, memang hanya berjuang untuk perutnya sendiri dengan mengorbankan rakyat. Seberapa pun amburadulnya kebijakan pemerintah saat ini, yang faktanya memang tidak konsisten, harus ada apresiasi. Mengabaikan kinerja mereka secara keseluruhan, memburukkannya keseluruhan, tidak lain adalah arogansi.

Kendati demikian, itulah Bahar bin Smith, yang akan memantik Renaissance radikalisme di negeri ini. Ia mewarisi bakat orasi Rizieq Syihab. Di tangannya, mimpi NKRI Bersyariah akan ditegakkan, akan selalu disuaraksan dengan lantang. Selama ini, para jemaah FPI sudah tidak bersuara, ibarat ada di masa kegelapan. Pasca Bahar bebas, jelas dan mutlak, Renaissance di depan mata.

Pergerakan Bahar dan FPI tidak seradikal pergerakan Ismail Yusanto dan HTI-nya, yang secara terang-terangan ingin menegakkan khilafah. Sejauh tidak beragenda meremukkan negeri, aspirasi apapun merupakan konsekuensi logis negara demokrasi. Tetapi, pemerintah pasti menganggap pergerakan Bahar berbahaya. Di tengah kebijakan semrawutnya, hari ini pemerintah pasti sedang dilema.

Sebuah Dilema

Asimilasi para tahanan merupakan kebijakan Menkumham Yasonna Laoly, menghadapi COVID-19. Kebijakan tersebut sempat diprotes, lantaran dicurigai ada jabat tangan antara dirinya dengan para bedebah koruptor kelas kakap. Menko Polhukam Mahfud MD kemudian mengklarifikasi, bahwa para tahanan yang dibebaskan bukan koruptor, melainkan tahanan umum.

COVID-19 memang menciptakan kesemrawutan kebijakan pemerintah, kemerosotan ekonomi, tetapi sekaligus menyemai keutungan bagi sementara pihak. Pada tulisan yang lalu, sudah diulas, bagaimana para dedengkot khilafah memanfaatkan momen ini untuk melakukan indoktrinasi secara masif. Kajian-diskusi daring digelar. Ismail Yusanto cs memenuhi beranda berbagai media sosial.

Apa yang dialami negeri hari ini: ekonomi merosot, rakyat kecil sengsara, dan narasi radikal melonjak tajam, bisa jadi adalah sesuatu yang amat dilematis bagi pemerintah. Tanpa kebijakan yang tepat, tanpa urunan tangan berbagai pihak, ini akan jadi polemik yang menyengsarakan. Siapa yang sanggup membayangkan, radikalisme dan sekawanannya menguasai medan pertempuran?

Pertempuran ideologi, tentunya. Di era Renaissance, segala kemungkinan terjadi. Paling parahnya adalah benar-benar ditegakkannya khilafah. Menuju cita itu mungkin butuh waktu yang lama. Tetapi tidak ada yang bisa menyangkal, kebangkitan kembali radikalisme setelah sebelumnya dibungkam pasti memiliki tingkat riskan yang tidak biasa, jauh melebihi era sebelumnya.

Kebangkitan kembali radikalisme (Renaissance of radicalism) bukan wacana remah-temeh yang bisa diabaikan begitu saja, baik oleh rakyat maupun pemerintah. Sudah lama cita-cita meng-Islam-kan Indonesia dirajut, bahkan setua usia kemerdekaan. Tinggal menunggu momen. Cara bernegara, cara berislam kita, semakin hari bertambah religius-centris, sayangnya berorientasi negatif.

Habib Bahar bin Smith adalah pemantik awal, setelah Habib Rizieq dibungkam. Radikalisme di negeri ini bisa jadi memuncak hingga titik paling berbahaya. Renaissance of Radicalism sudah di depan mata. Negeri ini akan menyaksikan bersama-sama, atau kita akan segera menumpasnya?

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Mahasiswa Magister Pengkajian Islam, Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Ideologi Teroris dan Cara Memberantasnya

Ideologi teroris dan sikapnya dalam dasawarsa mutakhir ini semakin memiriskan. Pemenggalan demi pemenggalan atas nama agama mereka lakukan. Sungguh begitu banyak contoh untuk dibeberkan atau...

Pandemi Covid-19 Tak Kurangi Ancaman Radikalisme

Harakatuna.com. Jakarta-Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menyebut pandemi virus korona (covid-19) tidak menghentikan ancaman radikalisme dan terorisme. Hal itu terjadi di...

Serial Kebangsaan (I): Spirit Kebangsaan dan Kelalaian FPI

Sekitar semingguan kemarin, saya dapatkan sebuah buku yang cukup menarik dan tentunya masih relevan dibaca di era sekarang, apalagi buku ini baru saja launching....

Bom Mobil Meledak di Afghanistan, 30 Petugas Keamanan Tewas

Harakatuna.com. Ghazni-Sebuah mobil berisi bom meledak di Provinsi Ghazni, Afghanistan. Setidaknya 30 aparat keamanan tewas akibat ledakan tersebut. Seperti dilansir Reuters, Senin (30/11/2020), Direktur Rumah...

Uang Kertas Mengalami Perubahan Nilai, Bagaimana dengan Mekanisme Pembayaran Hutang?

Sudah kita ketahui bersama bahwa seiring perubahan zaman maka berubah pula nilai sebuah mata uang. Terdapat beberapa kasus yang memiliki inti permasalahan sama, yakni...

Eks Napiter, Haris Amir Falah Sebut Paham Radikalisme Mengancam Pancasila

Harakatuna.com. Solo – Munculnya paham radikalisme ekstrem yang tersebar di wilayah Indonesia mengancam Pancasila dan kedaulatan NKRI. Hal ini perlu diantisipasi, mengingat mereka telah...

Wanita dalam Pusaran Aksi Radikalisme dan Terorisme

Berbagai aksi terorisme dan radikalisme dalam beberapa dasawarsa ini kain “subur” terlebih di era milenial ini. Bergama aksi teror di Indonesia semakin banyak terjadi...