27.9 C
Jakarta

Membangun Semangat Ramadhan di Tengah Pandemi COVID-19

Artikel Trending

KhazanahOpiniMembangun Semangat Ramadhan di Tengah Pandemi COVID-19
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Tak terasa di tengah masifnya berita tentang pandemi COVID-19, dan keresahan masyarakat akibat terganggu dari berbagai sektor, kita sudah hampir memasuki bulan Ramadhan. Tidak lebih dari seminggu lagi, kita akan berada di bulan yang penuh kemenangan. Bulan Allah yang, di dalamnya, pahala ibadah dilipatgandakan.

Menelisik tahun-tahun yang lalu, biasanya kita sambut bulan mulia itu dengan kegembiraan. Akankah saat ini kita tetap bersuka cita menyambut bulan penuh berkah itu? Sedangkan berita tentang himbauan melaksanakan berbagai ibadah khas bulan suci di rumah terus bergulir. Belum lagi ditambah dengan larangan aktivitas bukber, takbir keliling, silaturahmi dan tradisi bulan puasa lainnya. Terlepas dari itu semua ibadah puasa tetap merupakan ibadah yang paling universal setelah salat wajib.

Kabarnya, tahun kedua setelah Nabi hijrah ke Madinah merupakan awal mula diperintahkannya puasa sebulan penuh. Namun jauh sebelum itu, Nabi telah melaksanakan puasa tiga hari setiap bulannya dan puasa Asyura. Hal ini menunjukkan bahwa perintah berpuasa sudah ada di masa para nabi terdahulu dengan ketentuan yang mungkin berbeda sesuai dengan firman Allah dalam (Q.S Al-Baqarah [2] : 183).

Menengok sejenak (Q.S Yunus [10] : 58) yang menghendaki kita untuk bergembira dengan karunia Tuhan dan Rahmat-Nya, bagaimana pun juga bulan puasa merupakan karunia dariNya, karena di dalamnya Alqur’an diturunkan.

Quraish Shihab menjelaskan ayat di atas dalam Al-Misbahnya, bahwa penyebutan kata dengan masing-masing pada kata bifadhli Allah dengan karunia Allah dan birahmatih dengan rahmat-Nya untuk mengisyaratkan bahwa masing-masing hendaknya disambut dengan kegembiraan tersendiri, baik karunia maupun rahmatNya.

Euforia Ramadhan

Menyambut bulan puasa dengan kegembiraan juga disebutkan pada sebuah hadis yang termaktub dalam Durrotun Nasihin, bahwa siapa yang bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka.

Kembali pada suasana saat Al-Quran diturunkan, tentunya umat Islam sangat begitu bersuka cita yang pada waktu itu tepat pada bulan suci Ramadhan, sesuai dengan yang termaktub dalam (Q.S Al-Baqarah [2] : 185). Dan kita semua tahu bahwa ibadah puasa di bulan Ramadhan merupakan salah satu dari sekian banyak syariat Islam yang wajib kita hadirkan suka cita atas kedatangannya.

BACA JUGA  Transformasi Khilafahers: Dari NII Ke Khilafatul Muslimin

Ungkapan selalu ada hikmah di setiap musibah memang benar adanya, ketika kita pahami betul hikmah berpuasa dengan kondisi saat ini, tentu akan sangat berkesinambungan. Salah satu contoh hikmah berpuasa adalah meningkatkan taqwa yang jelas telah tergambar dalam (Q.S Al-Baqarah [2] : 183) akan sangat berkaitan dengan himbaun physical distancing yang kemungkinan besar masih diberlakukan pada bulan puasa mendatang. Jika kita ambil positifnya, kita bisa lebih banyak mendekatkan diri kepada Allah di rumah, dari pada melakukan acara ngabuburit yang terkadang hanya menyia-nyiakan waktu saja.

Adapun hikmah berpuasa yang lainnya yakni menahan hawa nafsu. Agaknya kita harus mengupgrade ibadah puasa kita, agar bisa naik level bukan hanya menahan makan dan minum dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun, kita juga harus menahan hawa nafsu kita. Hal demikian yang membuat kita lebih mulia dibanding makhluk Tuhan yang lain.

Di Rumah Saja

Dalam kondisi saat ini, pentingnya menahan nafsu untuk tidak keluar rumah selain karena memang dapat membahayakan diri sendiri, juga merupakan ujian yang harus dilewati umat Muhammad ketika berpuasa, tujuannya tak lain untuk menyetop penyebaran virus Covid-19 ini.

Wabah ini merupakan peringatan Tuhan kepada hambanya, yang menunjukkan kelalaian kita akan segala nikmat yang Tuhan anugerahkan. Jika kita pintar mengambil hikmah pada setiap kejadian, wabah yang sekarang melanda ini bisa dijadikan sebagai wadah untuk merenung, karena kita tersadarkan betapa kecilnya kita dihadapanNya. Di moment bulan panen pahalanya umat Islam nanti, kita harus merubah haluan kapal, lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, lebih bersabar dan mensyukuri segala nikmat-Nya.

Bulan suci Ramadhan merupakan salah satu nikmat Tuhan yang harus kita sambut dengan kegembiraan, dengan adanya pandemi ini kita bangun kegembiraan sebagai imun tubuh melawan berbagai virus dan sebagai tonggak pengupgrade level keimanan kita. Dan salah satu tanda keimanan adalah kita dituntut agama menjaga jiwa. Untuk itu, taatilah anjuran pemerintah untuk tetap beribadah di rumah agar kita tetap bisa memanen pahala dibulan diturunkannya wahyu Tuhan.

Ahmad Kaelani
Ahmad Kaelani
Mahasiswa Ilmu al-Qur'an dan Tafsir IAIN Syekh Nujati Cirebon, Kader PMII Rayon An-Nahdloh.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru