26.7 C
Jakarta

Membaca Riwayat al-Suyuthi Perihal Keterlibatan Muhammad bin Abu Bakar dalam Pembunuhan Utsman

Artikel Trending

KhazanahPerspektifMembaca Riwayat al-Suyuthi Perihal Keterlibatan Muhammad bin Abu Bakar dalam Pembunuhan Utsman
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Dalam tulisan sebelumnya, Meluruskan Islah Bahrawi: Pembunuh Utsman bin Affan adalah Putra Abu Bakar? (tulisan 1, 2 dan 3), saya sudah memaparkan sejumlah fakta historis ihwal pembunuhan khalifah Utsman secara kronologis, dengan merujuk pada sumber-sumber sejarah klasik.

Pada tulisan ini, saya akan mencoba melakukan telaah pada sumber yang disebutkan dalam Tarikh al-Khulafa’ karya al-Suyuthi, yang seringkali dijadikan landasan argumentasi Islah Bahrawi ketika menyampaikan klaim bahwa Muhammad bin Abu Bakar adalah pembunuh Utsman.

Pertama, mari kita kutip langsung teks lengkap yang menyebutkan perihal keterlibatan Muhammad bin Abu Bakar dalam pembunuhan Utsman:

فتسور محمد وصاحباه من دار رجل من الأنصار حتى دخلوا على عثمان، ولا يعلم أحد ممن كان معه؛ لأن كل من كان معه كانوا فوق البيوت، ولم يكن معه إلا امرأته، فقال لهما محمد: مكانكما، فإن معه امرأته حتى أبدأكما بالدخول، فإذا أن ضبطته فادخلا فتوجآه حتى تقتلاه، فدخل محمد فأخذ بلحيته، فقال له عثمان: والله لو رآك أبوك لساءه مكانك مني، فتراخت يده، ودخل الرجلان عليه فتوجآه حتى قتلاه، وخرجوا هاربين من حيث دخلوا، وصرخت امرأته فلم يسمع صراخها لما كان في الدار من الجلبة، وصعدت امرأته إلى الناس فقالت: إن أمير المؤمنين قد قتل،

Muhammad bin Abu Bakar bersama dua rekannya (yang tak disebutkan identitasnya oleh al-Suyuthi) melompati pagar rumah seorang penduduk Anshar, lalu (dari situlah) mereka masuk ke kediaman Utsman. Kedua orang yang bersama Muhammad bin Abu Bakar tak diketahui, karena mereka bertiga berada di atap rumah. (Di kediamannya), Utsman hanya ditemani oleh istrinya (Nailah binti al-Farafishah). Muhammad memberi instruksi pada dua rekannya, “Kalian diam dulu di situ! Biar aku masuk dulu, karena di dalam, Utsman bersama istrinya. Jika aku sudah menangkapnya, kalian masuk lalu segeralah kalian mengeksekusinya.” Muhammad masuk dan menarik jenggot Utsman. Utsman berkata, “Andai ayahmu melihatmu, ia pasti akan sangat marah melihat apa yang kau lakukan padaku.” Seketika tangan Muhammad lemas, lalu masuklah dua orang rekannya menyerang Utsmam dan membunuhnya. (Setelah mengeksekusi Utsman), mereka semua keluar dan melarikan diri lewat jalur saat mereka masuk. Istri Utsmam berteriak histeris, namun karena di rumah sudah gaduh, tak ada yang mendengar teriakannya. Ia pun naik ke tempat yang lebih tinggi dan berkata kepada orang-orang, “Amirul Mukminin sudah mati terbunuh!”.

Di sini, al-Suyuthi memang tampak menempatkan Muhammad bin Abu Bakar sebagai salah satu sosok yang terlibat secara langsung dalam pembunuhan Utsman. Atau sekurang-kurangnya, ia memberikan instruksi kepada dua rekannya untuk mengeksekusi Utsmam sesuai dengan arahannya.

Kalau dalam hukum tindak pidana kita, Muhammad bin Abu Bakar masuk dalam kategori doenpleger (yang menyuruh melakukan) atau medepleger (turut serta melakukan), bukan pleger (pelaku). Namun harus dicatat bahwa ada perbedaan situasi psikologis yang dialami Muhammad antara sebelum dan sesudah berjumpa Utsman. Maka tuduhan Islah Bahrawi yang mengatakan pembunuh Utsman adalah putra Abu Bakar dengan sendirinya terbantahkan.

Itu kesimpulan yang bisa diambil dengan merujuk pada teks di atas. Namun untuk memperjelas teks di atas, perlu juga menghadirkan teks lanjutannya:

وجاء علي إلى امرأة عثمان فقا لها: من قتل عثمان؟ قالت: لا أدري، دخل عليه رجلان لا أعرفهما ومعهما محمد بن أبي بكر، وأخبرت عليا والناس بما صنع محمد فدعا علي محمدا فسأله عما ذكرت امرأة عثمان؟ فقال محمد: لم تكذب، قد والله دخلت عليه وأنا أريد قتله فذكرني أبي فقمت عنه وأنا تائب إلى الله تعالى، والله ما قتلته ولا أمسكته، فقالت امرأته: صدق ولكنه أدخلهما.

Ali bin Abi Thalib datang menemui istri Utsman. “Siapa yang membunuh Utsman?” Tanya Ali. “Aku tidak tahu. Ada dua orang tak dikenal yang masuk (ke dalam rumah Utsman) bersama Muhammad bin Abu Bakar.” Jawab istri Utsman sambil menceritakan semua yang terjadi pada Muhammad di hadapan Ali dan masyarakat. Ali pun menghadirkan Muhammad untuk mengkonfirmasi apa yang dikatakan istri Utsman. “Istri Utsman tidak berbohong. Demi Allah, aku memang telah masuk ke dalam rumah Utsman dengan maksud untuk membunuhnya. Lalu Utsman mengingatkanku pada ayahku, sehingga aku berpaling darinya dan bertaubat kepada Allah. Demi Allah, aku tidak membunuhnya dan tidak pula menangkapnya.” Jawab Muhammad. “Yang Muhammad katakan memang benar. Tapi dialah yang memasukkan dua orang lainnya.” Pungkas istri Utsman.

Dari uraian teks ini bisa dipahami bagaimana posisi dan peran Muhammad bin Abu Bakar dalam pembunuhan Utsman. Ia pada mulanya punya ambisi untuk membunuh Utsman, tetapi Utsman mampu mengetuk hatinya sehingga membuatnya sadar lalu bertaubat. Namun sayangnya taubat Muhammad tak mampu menghentikan pembunuhan Utsman. Paling tidak, dalam pandangan alSuyuthi, Muhammad tak tampak melakukan upaya untuk menghentikan aksi pembunuhan tersebut.

Dengan cara Ali mengkonfrontasi antara kesaksian istri Utsman dan pembelaan Muhammad, terbantahlah asumsi dan dugaan bahwa Muhammad adalah pelaku pembunuhannya. Kesaksian istri Utsman dan pembelaan Muhammad tak ada yang berbeda, meskipun istri Utsman tampak “menyalahkan” Muhammad karena dialah yang memberi akses masuk bagi dua rekannya ke dalam rumah khalifah. Jadi kalau merujuk pada pandangan al-Suyuthi yang tertulis dalam Tarikh al-Khulafa’, memang tak bisa dinafikan begitu saja keterlibatan sosok putra Abu Bakar tersebut.

Sebernya kalau Islah mau membaca Tarikh al-Khulafa’ secara lebih cermat, mendudukkan setiap sumber yang ada secara proposional, menghadirkan keberagaman riwayat yang ditampilkan oleh al-Suyuthi ke ruang publik secara berimbang dan jujur, tentu saja ia tidak akan terjebak pada satu narasi sempit saja, dengan menuduh putra Abu Bakar pembunuh Utsman.

Membaca sejarah politik Islam yang sangat kompleks dan kaya dengan beragam riwayat bukanlah perkara mudah. Kekayaan khazanah dalam kitab-kitab sejarah klasik memang patut dibanggakan, namun khazanah yang melimpah tersebut bisa menimbulkan kerancuan yang sangat problematik ketika pembacaan kita tampak tendensius.

Yang harus kita pahami bahwa apa yang kita anggap sebagai fakta-fakta sejarah dalam berbagai sumber kitab klasik tak serta-serta terjamin validitas dan akurasi data-datanya. Sumber-sumber sejarah klasik punya bobot validitas yang semakin kuat hanya sejauh ketika ia dikonfrontasi dengan sumber-sumber lain, untuk meminimalisir segala bentuk bias dan pembacaan yang tendensius. Wallahua’lam.

Musyfiqur Rahman
Musyfiqur Rahman
Mahasiswa Pascasarjana Kosentrasi Kajian Timur Tengah, UIN Sunan Kalijaga. Redaktur sastraarab.com

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru