25.4 C
Jakarta

Islam ‘Radikal’ di Uni Eropa Ditopang oleh ISIS

Artikel Trending

Habib yang Menjamur

Dulu, saat saya kecil, di jalan-jalan tidak pernah terpampang baliho. Suasana damai sekali, bahkan tatkala gaduh pun, ya, paling itu karena persoalan biasa. Tidak...

Revolusi Akhlak Butuh Wali Mursyid Bukan Imam Besar

Pidato Rizieq Shihab pada acara Reuni Aksi Bela Islam 212 kemarin, terlihat daya juang Rizieq Shihab mulai melemah. Dari suaranya, seperti orang sedang sakit....

Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi Menurut Islam

Tali pusar adalah jalan yang menghubungkan antara ibu dan bayinya ketika masih dikandungan. Tali pusar ini berfungsi untuk menyalurkan makanan dan oksigen dari ibu...

Ampuhnya Doa Orang Puasa

Berbicara tentang manjurnya doa orang puasa sejenak kita akan langsung tertuju pada sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr...

Makna Rahmat dalam Al-Qur’an Al-Karim

Rahmat terdiri dari tiga huruf râ’, hâ’, dan mîm. Menurut Ibnu Faris dalam Maqâyîs al-Lughah setiap kata Arab yang berakar dari tiga huruf râ’,...

Wudhu Menurut aL-Qur’an dan Sunah

Wudhu merupakan ritual penting dalam Islam untuk menjaga kesucian dalam beribadah. Perintah dan dasar landasan berwudhu berangkat dari firman Allah swt dalam QS al-Maidah...

Presiden Soekarno, Waliyul Amri Dhoruri Bi-Syaukah

Presiden Soekarno, Waliyul Amri Dhoruri Bi-Syaukah Usai Kuliah Subuh, para santri yang menonton tayangan Khazanah dari sebuah stasiun televisi terlibat kegaduhan karena saling berkomentar tentang...

Apa Itu MaʻRûf dan Apa Itu Munkar

Kedua kata maʻrûf dan munkar merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab. Kemudian keduanya diserap ke dalam bahasa Indonesia. Sehingga penulisan keduanya dalam Kamus...

Harakatuna.com. Eropa – Radikalisme yang dikaitkan kepada  Islam dinilai sebagai masalah yang sangat mendesak di Eropa saat ini dan disebut akar penyebab dari sebagian besar insiden terkait terorisme di benua tersebut. Serangan teroris itu terutama dilakukan di kota-kota di Uni Eropa.

Terkait ini, para peneliti lantas mempelajari dampak radikalisme Islam pada tatanan perkotaan dan sosial di kota-kota Uni Eropa dan apakah ada hubungan antara migrasi dan terorisme.

Pada 2019, sekitar 119 serangan teroris dilakukan di seluruh Eropa. Sebanyak 64 serangan di antaranya terjadi di Inggris, 29 di Italia, dan 26 di Prancis, Yunani, Jerman, Spanyol, dan Belanda.

Menurut laporan yang dikeluarkan pada 2018 oleh GLOBSEC Policy Institute, sebuah lembaga pemikir yang mempelajari masalah pertahanan dan keamanan, sekitar 87 persen jihadis adalah laki-laki dan 13 persen adalah perempuan.

Kuatnya Jihadis di Uni Eropa

Mayoritas jihadis tersebut berusia muda dengan usia rata-rata 30,3 tahun, 40 persen menganggur, dan hanya 9 persen yang tamat SLTA. Laporan tersebut juga mengungkapkan, bahwa 26 persen dari jihadis yang disurvei diperkenalkan dengan ideologi radikalisme melalui keluarga atau teman. Kemudian, 14 persen dari mereka diperkenalkan melalui portal online, 23 persen dengan keyakinan pribadi, 10 persen di penjara dan 8 persen melalui perekrut radikal.

Namun, statistik yang paling menarik dalam laporan tersebut adalah bahwa 50 persen dari jihadis yang disurvei telah menghabiskan setidaknya setengah dari hidup mereka di Eropa. Disebutkan, 72 persen adalah warga negara Uni Eropa dan 8 persen adalah warga negara ganda. Faktanya, sekitar 21,8 juta warga Eropa memiliki kewarganegaraan kedua non-Uni Eropa.

Perencana kota, Fouad Alasiri, dalam artikel di laman European Eye on Radicalization (EER), dilansir Selasa (6/10),mengatakan bahwa ekstremisme adalah sesuatu yang tidak dapat diukur secara numerik, sedangkan terjadinya serangan teroris dapat diukur.

Hal itulah menurutnya yang menjadi sebab para peneliti fokus pada parameter ini. Sementara penyebab antara imigrasi dan serangan teroris tidak dapat dibuktikan, para peneliti telah menemukan korelasi yang jelas.

Laporan GLOBSEC tersebut menemukan, bahwa 46 persen imigran Muslim datang ke Eropa antara 2010 hingga 2016. Para imigran ini berasal dari negara-negara Arab, serta Iran, Somalia, Pakistan, Bangladesh, dan Nigeria. Orang-orang ini sebagian besar dinilai berdasarkan agama mereka (Muslim) daripada etnis atau kebangsaan mereka.

Ilmuwan sosial Amerika Dr. Akbar Ahmed membenarkan hal ini ketika dia berkata, “Setelah 9/11, faktor umum yang mendefinisikan Muslim di Amerika Serikat dan Eropa adalah bahwa mereka dipandang sebagai Muslim, yaitu ditentukan oleh agama dan bukan lagi oleh bangsa asal, etnis, sekte, kelas atau profesi mereka.” Ungkapnya.

Identifikasi Islam ‘Radikal’ di Eropa

Perubahan dalam identifikasi pribadi ini mungkin telah menghasilkan pemisahan yang dalam dan tak terucapkan antara Muslim dan non-Muslim Eropa. Fouad mengatakan, tidak jelas apakah segregasi itu terjadi karena radikalisasi Muslim atau jika Muslim radikal akibat segregasi ini. Namun, kata dia, sangat mungkin bahwa Muslim Eropa, yang merasa sepenuhnya ditentukan keyakinan mereka, dapat mundur ke komunitas mereka yang terpisah dan mengurangi upaya untuk berasimilasi ke dalam masyarakat yang mereka yakini telah menjauhi mereka dan agama mereka.

Statistik menunjukkan bahwa persentase besar orang asing dari Timur Tengah, Afrika Utara, dan Asia Selatan dan Timur gagal berintegrasi ke dalam masyarakat Eropa, bahkan setelah puluhan tahun tinggal di Eropa.

Sebuah laporan yang diterbitkan pada 2015 oleh Eurostat mengungkapkan, hanya 65 persen warga London yang setuju bahwa imigran non-Eropa telah berhasil berintegrasi. Sementara 52 persen penduduk Barcelona, 46 persen penduduk Roma, dan 52 persen penduduk Paris yang berpikir serupa.

 

 

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Ustadz Maaher dan Tren Ceramah Hinaan

Ustadz Maaher at-Thuwailibi, sebutan ustadz milenial dengan nama lengkap Soni Eranata yang memiliki banyak followers, mulai dari Instagram, Twitter bahkan Facebook. Ini baik, sebab...

Memanas, Iran Akan Serang Pangkalan Israel di Luar Negeri

TEL AVIV - Rezim Zionis Israel mulai khawatir bahwa kepentingan pangkalan Israel di luar negeri akan jadi target yang diserang Iran. Kekhawatiran muncul setelah...

Ulama Harus Tunjukkan Sikap dan Perilaku yang Baik

Harakatuna.com. Jakarta - Dakwah hakikatnya adalah mengajak kepada kebaikan, maka mengajak kepada kebaikan harus dengan cara yang baik. Seperti itulah metode yang dilakukan para...

Tiga Amal Saleh Yang Menyelamatkan Anda

Dalam sebuah hadis yang yang riwayatkan oleh Bukhori dan Muslim terdapat sebuah kisah yang menakjubkan. Yaitu selamatnya tiga orang yang terjebak dalam gua lantaran...

Gabungan TNI dan Polri Tangkap Kelompok Teroris MIT di Kabupaten Sigi

Harakatuna.com. Sigi - Hingga sepekan pascaserangan terorisme di Desa Lemban Tongoa, Kabupaten Sigi, aparat gabungan TNI dan Polri mengintensifkan pengejaran kelompok teroris MIT. Tak hanya...

Agar Tidak Bosan Saat Menulis

Writer’s block, sebuah istilah yang diperkenalkan oleh psikoanalis Edmund untuk menggambarkan keadaan penulis yang tidak bisa menggambarkan apapun dalam tulisannya. Situasi seperti ini hampir...

Islam Otentik Menolak Separatisme

Usaha membendung arus separatisme dan radikalisme  tidak bisa dilakukan hanya dengan menolak paham separatisme radikal atau menangkap pelaku teror. Melainkan memerlukan sebuah aksi pemerintah...