Islam Moderat


0
32 shares

Islam adalah agama Rahmatan lil ‘aalamiin, agama yang membawa keberkahan dan membawa ketenangan. Tapi nyatanya masih banyak kaum muslimin yang saling menjatuhkan dan saling mengklaim dirinya sebagai umat Islam yang benar dan menjustice orang lain yang tak sepaham dengan sebutan kafir.

Banyak masyarakat yang masih berdebat tentang qunut dan tidak qunut, tentang bid’ah, tentang memakai celana di atas mata kaki atau di bawah mata kaki dan lain sebagainya. Masyarakat muslim masih berkutat tentang perdebatan Islam ritual, padahal agama Islam tak melulu tentang ritual. Bahkan  bisa dikatakan bahwa akhlak lebih penting dari pada Islam ritual. Hal tersebut telah dijelaskan dalam hadist “ tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin di hari kiamat melainkan akhlak yang baik, dan sesungguhnya Allah sangat membenci orang yang suka berbicara kotor.”(HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

Seharusnya seorang mukmin lebih baik memperbaiki akhlaknya dari pada sibuk berdebat dan saling mengkliam diri sebagai yang benar, karena Nabi Muhammad SAW diutus sebagai penyempurna akhlak. Jadi lebih baik umat Islam fokus untuk memperbaiki akhlak masing-masing. Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa seorang yang rajin ibadah dalam kehidupannya, bukan surga yang ia dapat melainkan neraka yang ia dapat. Sebab, dia merupakan orang yang gemar manyakiti tetangganya, baik dengan ucapan atau tingkah lakunya. Akibatnya, ibadahnya tak bermakna bak debu yang tersapu oleh air hujan.

Adapun sebuah riwayat yang lain menceritakan seorang wanita yang semasa hidupnya seoarang pelacur bisa masuk surga karena kebaikan hatinya memberi makan seekor anjing. Walaupun ia rela tidak makan dan bisa jadi ia meninggal. Tapi ia lebih mementingkan anjing dari pada dirinya. Berdasarkan riwayat tersebut, bisa disimpulkan bahwa akhlak  yang baik bisa membawa seseorang masuk surga.

Baca Juga:  Rakyat Cermat, Hoaks Minggat

Islam bukan hanya sekedar ibadah ritual. Surga tidak mudah digapai hanya dengan mengandalkan ibadah ritual pagia, siang dan malam. Bahkan setiap detik hanya untuk mejalankan ibadah ritual. Ada begitu banyak faktor yang harus dipenuhi, salah satunya adalah akhlak. Ini dibuktikan dengan adanya satu kaidah yang penting, yaitu seorang ahli ibadah justru harus masuk neraka karena akhlak buruknya.

Seseorang yang melakukan ibadah ritual seharusnya memiliki atsar semakin baiknya akhlak seseorang, tak hanya hablu min allah tapi juga hablu min an-nas hal ini sesuai dalam firman-Nya. “ Sholat mencegah dari hal yang mungkar.” Dengan sholat sebagai pencegah dari yang mungkar, seharusnya seorang muslim selalu mengerjakan amal baik tidak hanya kepada Allah tapi kepada sesama manusia. Tapi dalam realita masih banyak seorang muslim yang menjalankan sholat tetapi masih mengerjakan kemungkaran.

Dalam Al-Qur’an Allah mengancam dengan neraka wail kepada orang-orang yang lalai dalam sholatnya. Maksud dari orang-orang lalai adalah orang yang tidak  menghayati makna dari sholat dan tidak mengamalkannya dalam kehidupan. saat melakukan suatu keburukan seseorang harus ingat bahwa dia selalu mendirikan sholat. jika sudah melakukan sholat berarti dia telah mengerjakan kebajikan tapi jika dia masih melakukan keburukan maka keburukan itu akan menghapus amal baik. Jadi, yang ada hanyalah amal sia-sia.

Sungguh ironisnya dinegeri ini orang-orang masih menggunakan sudut pandang fiqih (hukum formal) jadi ketika ada sekolompok orang yang mengamalkan ajaran islam lekat dengan atributnya tanpa dikomando, orang akan menjustice sebagai kelompok muslim yang benar. Dan begitu juga sebaliknya, ketika ada yang berbeda, mereka menganggap sebagai aliran yang sesat. Padahal semua fiqh itu berasal dari Al-Qur’an dan Hadist lalu para ulama’ berijtihad. Setiap ulama’ mempunyai ijtihad yang berbeda-beda oleh katrena itu, Seharusnya umat islam saling menghormati karena pada khittahnya semua mempunyai tujuan yang sama yaitu keselamatan dunia dan akhirat.

Baca Juga:  ‘Menghamba’ Kepada Kepentingan Peserta didik yang Merdeka (Refleksi Hari Pendidikan Nasional)

Upaya untuk mencari kesamaan persepsi ini tidak melulu harus dimaknai dengan semua aliran agama (Islam) itu benar. Akan tetapi, sebagai pengingat bahwa tujuan setiap sorang mukmin adalah sama sehingga tidak ada rasa paling benar. Masyarakat perlu merubah prespektif tentang perbedaan dalam ijtihad dengan menganggap perbedaan ijtihad adalah hal yang biasa.

Bila kita melihat peradaban umat islam pada masa khalifah dan dinasti-dinasti. Islam mengalami perkembangan yang sangat pesat baik dalam ilmu pengetahuan atau peradaban. Bahkan islam menjadi kiblat dari peradaban dunia. Namun, jika melihat realita sekarang umat islam tertingal jauh dari negara-negara dan orang-orang non-islam. Hal itu disebabkan orang islam lebih disibukkan dengan saling menjatuhkan orang islam yang lain.

Seharusnya, umat islam lebih berpikir untuk memajukan agama dan negara,karena ditangan umat islam negara bisa maju dengan menggunakan Kalamu Allah (Al-Qur’an) sebagai acuan dalam bernegara. Karena Al-Qur’an adalah sebaik-baik pedoman hidup manusia yang didalamnya terdapat berbaagai macam pelajaran baik yang tersirat maupun tersurat. Wallahu ‘alan bi al-showab.

Oleh: Moch Rosyad AR, Mahasiswa Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.


Like it? Share with your friends!

0
32 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.