32.1 C
Jakarta

HTI, Good Looking, Privilige yang Membuat Jatuh Cinta Banyak Orang

Artikel Trending

KhazanahTelaahHTI, Good Looking, Privilige yang Membuat Jatuh Cinta Banyak Orang
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – “Kalau kamu good looking, kamu memiliki separuh kesuksesan untuk apapun”, kira kira begitu sebuah kalimat yang tersebar di berbagai linimasa media sosial, mulai dari instagram, facebook hingga twitter.

Kata good looking selalu disematkan dengan kecantikan, elok dipandang atau tampan atau standart keindahan yang dipahami oleh banyak orang. Kalimat diatas juga bisa dijadikan dalih munculnya cinta pada pandangan pertama bagi orang yang melihatnya.

Namun, bagaimana jika dalam konteks ini disematkan pada trend-trend ajakan paham Islam yang mengikis kecintaan terhadap negara Indonesia? bahkan menolak Indonesia dengan dalih tidak syari’ah. Mengapa saya katakan demikian?

Di kampus, trend-trend anak muda yang semangat dan meningkatnya kecintaan terhadap ibadah dan mendekatkan diri pada Allah, sebagian mereka tampil sebagai hafidz atau hafidzah, prestasi gemilang. Mereka tampil dengan wajah kesalehan, prestasi yang saya sebut good looking dan menarik perhatian para mahasiswa lain agar menjadi bagian dari mereka.

Sudah bukan rahasia lagi, bahwa penyebaran virus radikalisme di kampus semakin banyak, semakin meningkat. Apakah saya mengamini bahwa para penghafal Al-Quran di kampus itu semuanya terkena virus radikalisme? Tentu ini bukan kesimpulan yang benar dalam tulisan ini.

Setidaknya kita bisa melihat dalam beberapa fenomena belakangan ini, banyak sekali trend hijrah di kalangan milenial, khususnya di dunia kampus yang berafiliasi pada kegiatan-kegiatan LDK, menyusup di masjid-masjid, melakukan kajian-kajian keislaman secara sembunyi-sembunyi, atau bahkan ada yang terang-terangan dengan mengajak para mahasiswa untuk berlomba-lomba menunjukkan kesalehan yang diimpikan oleh semua umat muslim.

Mereka menciptakan eksklusifitas organisasi, seperti tarbiyah, HTI, ikhwanul muslimin, dan sejenisnya. Maka sangat penting kiranya bagi kader PMII, HMI, dan sejenisnya yang memiliki afiliasi keislaman yang jelas tidak bertentangan dengan sistem negara di Indonesia, mengambil peran dibagian ini.

Bagaimana tidak jatuh cinta ketika misalnya saya buat perbandingan. Para aktifis kampus memakai celana sobek, belum mandi, rambut gondrong. Lalu munculla para aktifis HTI, Tarbiyah, Ikhawanul Muslimin dan sejenisnya dengan pakaian rapi serta penghafal Quran, menyerukan untuk kembali ke Quran dan sunnah, dan beberapa sikap kesalehan lainnya.

Perbandingan diatas tidak bisa digeneralisir, bahkan mungkin ada yang menolak. Akan tetapi paling tidak, perbandingan sederhana itu menjadikan kita berfikir bahwa ke-good looking-an bisa dibentuk dan dipupuk bagi mahasiswa yang sadar persoalan serius ini, agar virus-virus radikalisme tidak semakin membludak di kampus.

BACA JUGA  Refleksi HUT RI: Teladan Bung Hatta untuk Anak Muda Indonesia

Di kalangan artis, misalnya. Kata “hijrah” yang sudah mulai bergeser secara makna dan pengaplikasiannya, ditempati orang-orang yang demam mendakwahkan label “islami” dalam setiap persoalan kehidupan. Kiranya bisa diperhatikan secara relasi, bahwa banyak artis-artis yang belajar agama secara instan kepada ustaz-ustaz yang sudah jelas-jelas pendakwah HTI. Akhirnya, menolak segala bentuk yang tidak ada kaitannya label Islam. Termasuk Indonesia yang tidak Islam sama sekali, katanya.

BACA JUGA  Berkedok Persaudaraan, Wajah FPI Akankah Kembali?

Bagi kelompok Islamis yang gencar mempromosikan label Islam dalam term kehidupan yang saat ini penuh dengan hingar bingar informasi yang tidak sejalan dengan ajaran Islam. Bagi mereka pula, nasionalisme yang ada dalam konsep negara dan bangsa modern yang diterapkan di Indonesia telah menyalahi konsep Khilafah Islam. (Syarif Hidayatullah:2010).

Ibadah tidak hanya ritual, tapi dimensi sosial

Setelah berhasil membuat sirkel yang sama-sama saleh, dengan berbagai kajian keislaman lainnya. Sirkel yang sama, bergaul dengan sesamanya adalah sesuatu paling menonjol. Kemudian, menjadi masalah saat enggan dan menolak bergaul dengan yang lain. mungkin karena alasan tidak sama, atau bahkan merasa diri paling saleh diantara yang lain. Padahal, aspek sosial adalah ibadah.

Aspek sosial menjadi satu kesatuan penting sebagai khalifah di bumi yang dicipptakan oleh Allah. Ajaran Islam tidak menekankan bahwa ibadah dalam pengertiaanm yang sempitpun mengandung dalam  jiwa dan esensinya dorongan yang mengantar pelakunya memperhatikan dimensi sosial, dan kemakmuran menyeluruh di persada bumi agar menyentuh sebanyak mungkin makhluk, sehingga jika dorongan tersebut tidak dipenuhi, maka pelaksanaan ibadah tersebut tidak akan banyak artinya. (M. Quraish Shihab:2020)

Saleh ritual, spiritual dan sosial harus ada dalam diri orang yang beragama. Kehidupan tidak hanya tentang relasi dengan Tuhan, akan tetapi juga dengan makhluk lainnya, termasuk bagaimana menjadi warga negara yang baik dengan tidak mempertentangkan Islam dan konsep negara yang sudah memperhatikan pluralitas keagamaan masyarakat Indonesia. Wallahu a’lam

 

Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru