27.8 C
Jakarta

Gus Yaqut, Bagaimana Sebenarnya Kita Menanggapi?

Artikel Trending

KhazanahTelaahGus Yaqut, Bagaimana Sebenarnya Kita Menanggapi?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com– Masih tentang Gus Yaqut. Pernyataan yang disampaikan pada webinar internasional yang diadakan oleh RMI- PBNU menimbulkan banyak respon yang cukup banyak. Apalagi dari berbagai organisasi selain NU, penyataan tersebut seperti bumerang yang siap menerkam posisi NU di kelompok elit politik. Terlebih, dari pihak PBNU juga mengecam pernyataan tersebut dengan tegas.

Sayangnya, video yang dipotong beberapa detik tersebut, pasca menimbulkan banyak komentar, masih belum ada video utuh yang tersebar, sehingga semakin menambah ketegangan berbagai kelompok yang ada.  Pun ketika muncul video dengan durasi yang lebih panjang, ibarat nasi sudah menjadi bubur. Melihat beberapa sikap dan komentar begitu panas, tampaknya nonsense, tidak berguna!

Buzzer, Pengacau NKRI bersatulah!

Sejak beberapa hari fenomena tersebut marak dibicarakan, tagar di twitter yang sedang trending bermuncul, mulai dari Banser, Ansor, hingga nama Gus Yaqut sendiri juga ikut trending. Jika melihat beberapa cuitan yang muncul atas tagar tersebut, bukan main! Ngeri!

Para buzzer, pendukung kelompok lain, apalagi kelompok yang bersinggungan dengan NU, mesti tertawa dengan fenomena ini. Sebab isu ini sangat ciamik untuk digoreng, diseduh bahkan diorak-arik sesuai kepentingannya.

Melalui fenomena ini, barangkali kita perlu melihat dari dua sisi, pertama: seorang Gus Yaqut. Menteri agama yang lahir dari kalangan NU ini selama kepemimpinannya bukan main. Sikap tegas, toleransi, merangkul kelompok-kelompok lain perlu kita apresiasi. Kepemimpinan Gus Yaqut pada periode ini perlu kita lihat. Serba-serbi gebrakan yang diambil adalah wujud nyata bahwa posisi Kementerian Agama tidak diperuntukkan umat Islam semata, melainkan seluruh golongan.

Apa yang disampaikan oleh Gus Yaqut pada forum internal, ibarat sebuah kalimat yang disampaikan seseorang pada kekasihnya. Kalimat semacam itu bisa menjadi sebuah pemicu semangat untuk melakukan dan bertindak lebih, serta melakukan berbagai perjuangan, bahwa manisnya perjuangan bisa dirasakan setelah melakukan perjuangan yang cukup panjang dengan belajar serta berilmu, tentu dengan jiwa yang tertanam bahwa menjadi seorang santri merupakan tonggak masa depan NKRI.

Meskipun demikian, pada faktanya banyak tokoh-tokoh NU menolak pernyataan tersebut. seperti  halnya Gus Nadir, melalui cuitannya. Ditambah lagi dengan respon Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang dakwah, Cholil Nafis yang berpendapat bahwa Kementerian Agama bukan semata-mata hadiah untuk Nahdlatul Ulama (NU) saja. Ia menegaskan bahwa Kemenag mengurusi semua agama hingga kepercayaan.

BACA JUGA  Belajar dari Konflik Aceh: Pentingnya Menceritakan Konflik pada Anak Muda

“Indonesia hadiah dari Allah untuk bangsa, dan Kementerian agama itu mengurusi semua agama bahkan kepercayaan. Bukan hadiah buat NU saja. Soal Tokoh-tokoh NU berjasa itu untuk bangsa bukan hanya utk NU saja. Begitu saat Kiai Hasyim Asy’ari mengeluarkan resolusi jihad untuk semua golongan,” kata Cholil dalam yang dikutip dari akun Twitter resminya @cholilnafis, pada seninm 25/10.

Respon para tokoh-tokoh NU tidak lain adalah melihat bagaimana dampak yang ditimbulkan. Eksklusifitas, sikap superior serta berbagai sikap lainnya  yang dimunculkan merupakan sesuatu yang meninabobokkan masyarakat NU. Sehingga wajar ketika dari kalangan NU sendiri, juga memiliki respon yang demikian.

Kedua, apa yang disampaikan oleh Gus Yaqut merupakan bumerang untuk dirinya sendiri. Sebab pernyataan tersebut menimbulkan berbagai respon, dan sikap reaktif. Bahkan beberapa tokoh besar Muhammadiyah seperti Anwar Abbas, serta Abdul Mukti yang semakin menambah kehebohan pernyataan Gus Yaqut dengan berbagai alasan.

Jika dalam internal NU banyak yang menentang atas pernyataan tersebut. Maka di luar NU, sikap penolakan mereka menjadi wajar. Sebab pandangan yang dipakai oleh mereka, bahwa apa yang disampaikan oleh Gus Yaqut merupakan eksklusifitas politik yang diperankan oleh NU sangat kental. Sehingga membuat kelompok diluar NU kepanasan. Tidak hanya itu, dikhawatirkan akan menimbulkan perpecahan antar kelompok ormas, yang mengakibatkan ketegangan antar satu kelompok dengan kelompok yang lain.

Bagaimana sikap kita?

Melalui tulisan sederhana, barangkali pasti kita akan menelaah lebih jauh bahwa sikap yang akan diambil. Yang jelas, kita cenderung kepada siapa kita akan ikut. Jika menanggapi bahwa pernyataan Gus Yaqut adalah hal biasa saja, maka respon kita akan sejalan. Sebaliknya juga demikian.

Yang paling penting adalah sikap yang harus kita ambil adalah tidak ikut andil menjadi bagian pericuh yang siap menerkam dan menimbulkan konflik berkepanjangan. Jikapun menolak dan tidak setuju, maka bijaklah menyampaikan kritik serta harus pada tempatnya. Wallahu a’lam

Muallifah
Muallifah
Aktivis perempuan. Bisa disapa melalui Instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru