Game dan TikTok: Menelisik Fenomena Kaderisasi Teroris Muda dengan Algoritma Pro-Kekerasan

Ahmad Khairi

22/05/2026

7
Min Read
Algoritma Game Tiktok

On This Post

Harakatuna.com – Saya masih ingin membahas tentang radikalisasi yang menghantui anak-anak muda, wabil khusus yang menggunakan dua platform kesukaan mereka, yaitu game online dan TikTok. Selama ini, keduanya dipahami sekadar sebagai ruang hiburan. Di sana anak-anak menghabiskan waktu untuk bermain, bercanda, bikin video joget, atau mencari pengakuan sosial melalui konten-konten pendek. Namun, di balik itu, dunia internasional mulai menghadapi ancaman transformasi ruang digital menjadi medium kaderisasi radikal-terorisme anak muda. Kini indoktrinasi terjadi melalui algoritma, ruang obrolan game, hingga video pendek yang destruktif dan repetitif.

Pergeseran tersebut bukan sekadar asumsi teoritis. Data terbaru dari Combating Terrorism Center (CTC) di West Point menunjukkan hampir 30 persen penangkapan terkait terorisme di negara-negara Uni Eropa melibatkan remaja berusia 12-20 tahun. Yang mengejutkan, mayoritas dari mereka terlibat dalam aktivitas digital: mengelola kanal propaganda, menyebarkan dokumen perakitan senjata, hingga menerjemahkan materi radikal-terorisme daring.

Fakta tersebut memperlihatkan bahwa radikalisme saat ini bergerak melalui pola yang tersembunyi dan terpersonalisasi. Anak-anak tidak lagi direkrut untuk berperang di medan konflik, melainkan dijadikan bagian dari ekosistem propaganda digital yang bekerja diam-diam melalui layar gadget mereka sendiri. Medsos dan platform digital tidak netral. Algoritma yang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna justru memasifkan konten berbasis kemarahan, konflik, ketakutan, dan sensasi semata.

Ketika seorang anak mulai tertarik pada satu konten kekerasan atau propaganda ideologis, algoritma rekomendasi akan menggiringnya menuju konten serupa secara berulang hingga tercipta echo chamber yang super eksklusif. Algoritma berubah jadi semacam ‘perekrut tak terlihat’ yang bekerja tanpa wajah dan tanpa instruksi langsung. Radikalisasi tidak lagi membutuhkan perekrut manusia di ruang fisik, dan bisa tumbuh melalui pola konsumsi digital yang berlangsung setiap waktu.

Fenomena tersebut semakin mengkhawatirkan karena kelompok teroris kini mampu beradaptasi dengan kultur digital anak-anak muda. Di Barat, aparat mendeteksi munculnya jaringan daring seperti ‘764 Network’ yang bergerak melalui Discord dan Telegram dengan memanfaatkan budaya gaming, meme internet, hingga cyberbullying ekstrem untuk menarik anak-anak berusia 13 hingga 15 tahun. Kekerasan dikemas jadi estetika digital yang lucu bahkan keren bagi remaja pubertas.

Mengapa Indonesia harus juga meresahkan hal itu? Jawabannya, karena negara ini tidak berada di luar arus tersebut. Meski kekuatan fisik kelompok teror seperti JI dan JAD terus melemah akibat masifnya penegakan hukum, ancaman justru bergerak ke ruang siber yang sulit dimonitor. Sejumlah penangkapan remaja usia 15-17 tahun beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa mereka belajar secara otodidak melalui PDF, grup Telegram, dan ruang obrolan game online tanpa keterlibatan langsung organisasi teror konvensional. Self-radicalization pun merebak.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan radikalisme anak muda tidak lagi relevan untuk dibaca semata sebagai ancaman keamanan atau penyimpangan ideologis. Sedang ada perubahan besar dalam cara anak-anak muda membangun identitas, memproses emosi, dan memahami dunia. Ruang digital telah jadi arena baru perebutan makna hidup anak muda. Karena itu, membahas game, TikTok, dan algoritma hari ini adalah tentang menelisik bagaimana peran platform digital modern membentuk lanskap baru radikalisme di kalangan Gen Z.

Game dan TikTok, Ladang Sosial Gen Z

Bagi anak-anak muda hari ini, game online dan TikTok bukan lagi sarana hiburan, melainkan ruang sosial utama tempat identitas, emosi, dan relasi dibangun. Anak-anak dan remaja menghabiskan berjam-jam waktunya di ruang digital yang mempertemukan mereka dengan teman sebaya, sekaligus membentuk cara mereka berbicara, berpikir, dan memahami dunia.

Ruang obrolan game, live streaming, hingga komunitas Discord telah mengambil sebagian fungsi sosial yang dulu dimiliki sekolah, lingkungan bermain, bahkan keluarga. Karena itu, ketika kelompok radikal-teror masuk ke ruang digital tersebut, mereka sesungguhnya sedang memasuki ‘ekosistem sosial’ anak-anak muda, bukan sekadar platform medsos belaka.

Fenomena tersebut menjelaskan mengapa pola radikalisasi hari ini berubah drastis dibanding satu dekade lalu. Di banyak kasus di Eropa dan AS, kelompok teror tidak langsung memperkenalkan ideologi pro-kekerasan kepada anak-anak. Mereka lebih dulu membangun kedekatan emosional melalui budaya digital yang akrab bagi Gen Z: game kompetitif hingga komunitas daring yang memberi rasa diterima. Dari sana, narasi kebencian disisipkan perlahan sebagai candaan atau simbol keberanian. Kekerasan dibungkus jadi estetika digital yang dianggap keren dan anti-mainstream.

Data penegakan hukum internasional memperlihatkan pola tersebut semakin nyata. Kemunculan 764 Network menunjukkan pemanfaatan ruang digital anak muda untuk membangun kultur terorisme baru berbasis cyberbullying, glorifikasi pro-kekerasan, dan manipulasi psikologis. Anak-anak usia 13-15 tahun bahkan ditemukan jadi administrator grup yang menyebarkan video kekerasan dan memaksa sesama remaja melakukan tindakan menyakiti diri sendiri. Radikal-terorisme berkembang seperti subkultur digital yang menyebar melalui percakapan privat dan budaya internet yang sulit dikenali orang dewasa yang notabene gaptek.

Gejalanya mulai terlihat melalui pergeseran medium paparan radikalisme. Pola propaganda berpindah ke Telegram, Discord, dan ruang obrolan game online. Beberapa kasus penangkapan remaja oleh Densus 88 menunjukkan bahwa pelaku usia 15-17 tahun banyak teradikalisasi secara anonim di internet. Mereka mengalami self-radicalization akibat paparan konten yang berulang dan komunitas daring yang mengajarkan konten pro-kekerasan. Artinya, internet menjadi ruang pembentukan identitas ideologis secara diam-diam.

Pada saat yang sama, perkembangan bagian otak prefrontal cortex Gen Z, yang berfungsi mengendalikan impuls dan menilai risiko jangka panjang, belum sepenuhnya matang. Kondisi itu membuat anak-anak mudah dipengaruhi oleh konten emosional, simbol heroik, dan narasi hitam-putih yang mendominasi ruang digital. Ketika medsos dan game online terus mempertemukan mereka dengan kultur agresivitas dan solidaritas kelompok, batas antara hiburan digital dan indoktrinasi ideologis semakin tipis.

Karena itu, melihat game dan TikTok semata sebagai sumber hiburan jelas merupakan pembacaan yang terlalu simplistis. Bagi generasi muda, ruang digital telah berubah jadi arena sosial utama tempat identitas dibentuk dan makna hidup dicari. Persoalannya, ruang itu kini juga dimasuki oleh kelompok radikal-teror yang memahami kultur internet jauh lebih cepat dibanding banyak institusi pendidikan maupun keluarga. Akhirnya, radikalisasi menyusup melalui budaya populer tersebut, dan algoritma hiburan memperparah satu masalah serius, yakni ‘rekrutmen teroris muda’.

Algoritma Perekrut Teroris

Perubahan mendasar dalam fenomena radikalisme anak muda hari ini terletak pada pola rekrutmennya yang cair, tersembunyi, dan bahkan tidak disadari oleh korbannya sendiri. Anak-anak dan remaja tidak lagi direkrut oleh seseorang dalam arti konvensional. Mereka justru masuk secara perlahan ke arus konten pro-kekerasan melalui pola konsumsi digital yang dibentuk algoritma medsos. Tidak ada perekrut yang tampak, tetapi proses perekrutan tetap berlangsung setiap hari melalui layar gadget.

Logika algoritma medsos itu bekerja berdasarkan keterlibatan emosional (engagement). TikTok, YouTube, Instagram, hingga Telegram dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Karena itu, sistem akan terus merekomendasikan konten yang memicu respons emosional kuat, terutama kemarahan, ketakutan, konflik, dan sensasi.

Ketika seorang remaja mulai menonton satu video tentang kekerasan, konflik global, atau narasi kebencian tertentu, algoritma akan membaca ketertarikan tersebut sebagai preferensi pengguna. Lalu, sistem secara otomatis menghadirkan lebih banyak konten serupa dalam bentuk video pendek, potongan propaganda, meme agresif, atau narasi konspiratif yang muncul berulang kali di beranda mereka.

Demikianlah radikalisasi algoritmik bekerja. Anak muda diarahkan secara bertahap melalui paparan konten yang homogen. Awalnya mereka mungkin hanya penasaran pada isu konflik internasional, video militer, atau konten edgy yang pro-kekerasan. Namun algoritma kemudian mempertemukan mereka dengan akun-akun yang relatif ekstrem, komunitas yang radikal, hingga echo chamber yang membuat pandangan tertentu terasa dominan. Prosesnya berlangsung tanpa indoktrinasi formal. Tidak ada baiat, tidak ada ceramah panjang, dan tidak ada perekrut yang datang mengetuk pintu rumah. Hanya gadget dan itu sudah cukup.

Karena itu, radikalisasi generasi digital hari ini menyerupai proses personalisasi emosi, bukan dalam arti perekrutan organisasi konvensional. Algoritma bekerja seperti mesin yang memetakan ketertarikan psikologis anak-anak, lalu memperkuatnya sedikit demi sedikit. Anak muda yang merasa marah atau frustrasi akan lebih mudah dipertemukan dengan konten yang memperbesar emosi tersebut. Sistem rekomendasi digital menciptakan ilusi bahwa dunia memang penuh ancaman, musuh, dan ketidakadilan. Algoritma menentukan apa yang perlu dilihat pengguna, dan perlahan membentuk cara mereka memahami realitas sosial yang sempit itu.

Fenomena ini menjelaskan mengapa banyak teroris muda kerap tidak memiliki hubungan langsung dengan organisasi teror formal. Sejumlah remaja yang ditangkap di berbagai negara, termasuk Indonesia, diketahui mengalami self-radicalization melalui internet. Mereka belajar merakit bom dari ebook PDF, mengakses propaganda melalui Telegram, atau terlibat komunitas anonim daring tanpa pernah bertemu langsung dengan anggota kelompok lainnya.

Artinya, fungsi perekrut manusia kini sebagian telah digantikan oleh ekosistem algoritma yang bekerja otomatis mempertemukan pengguna dengan konten yang semakin radikal, semakin ekstrem, dan semakin mengglorifikasi aksi teror. Dan yang sangat berbahaya dari situasi ini adalah, fakta bahwa algoritma pada dasarnya tidak memiliki pertimbangan moral. Sistem digital tidak dirancang untuk membedakan mana konten yang sehat secara sosial dan mana yang mendorong polarisasi.

Selama suatu konten mampu mempertahankan perhatian pengguna, algoritma akan terus menyebarkannya. Medsos secara tidak langsung menciptakan lingkungan yang subur bagi berkembangnya generasi muda pro-kekerasan dan terorisme. Bukankah itu sangat menakutkan dan meniscayakan penindakan segera?

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Leave a Comment

Related Post