25.7 C
Jakarta

Fenomena Arie Untung dan Seleb-seleb Korban Indoktrinasi

Artikel Trending

EditorialFenomena Arie Untung dan Seleb-seleb Korban Indoktrinasi
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Apakah Arie Untung, selebritas yang kini tengah viral, adalah seorang ekstremis? Akan banyak ragam jawaban atas pertanyaan ini. Tetapi, Arie Untung menarik untuk dicermati. Paling tidak karena ia sebagai influencer yang, sekali mengeluarkan statemen, sang fans akan membelanya, tidak peduli baik maupun buruknya. Sebaliknya, haters akan selalu menghujatnya.

Arie Untung tengah viral hari-hari karena dua hal. Pertama, menganggap terorisme itu rekayasa belaka, dengan meragukan teror Zakiah Aini di Mabes Polri beberapa waktu lalu. Kedua, kunjungan Raja Salman dan tangga pesawat anti-riba. Melalui kanal YouTube Daniel Mananta Network, Arie juga berbincang banyak tentang Pancasila, jihad, thaghut, dan tema sensitif lainnya.

Untuk diketahui, Arie Untung adalah jemaah ustaz Felix Siauw, dai mualaf yang berafiliasi Hizbut Tahrir. Bersama rekan sesama selebritasnya, Arie juga merupakan jemaah dai salafi seperti ustaz Khalid Basalamah. Baik Felix maupun Basalamah adalah dua tokoh yang tidak jarang ke-NKRI-annya diragukan. Kepada Arie pun, kemudian, label tersebut tidak dapat terhindarkan.

Editorial Harakatuna kali ini tidak hendak mengulas siapa Arie. Para pembaca bisa menemukan itu di mesin pencari. Ulasan penting kita adalah mengapa Arie bisa menyatakan dua hal tadi; rekayasa teror dan tangga riba. Pasti ada yang salah dengannya. Boleh jadi, ia tengah atau menuju terpapar indoktrinasi. Maksudnya terpapar indoktrinasi ekstremisme?

Bukan. Tetapi selangkah lagi, mungkin jawabannya iya. Masalah besar Arie Untung hari ini adalah ia tidak lagi punya rasa percaya kepada pemerintah. Ia memang menentang jihad teror, sebagaimana yang dijelaskannya di kanal Daniel Mananta, tetapi penentangan tersebut bukan karena ia menentang terorisme, melainkan ketidakpercayaan terhadap terorisme itu sendiri.

Itu yang perlu disorot. Arie benar ketika menyatakan bahwa “terorisme tidak punya agama”. Tetapi ia salah fatal jika meragukan aksi teror sebagai fenomena nyata lantaran pernyataan tersebut. Karena sama saja dengan menegasikan ekstremisme beragama. Apakah Arie Untung mengira ulama fundamentalis seperti Sayyid Quthb itu bukan Islam karena pandangannya ekstrem?

Bahwa Islam agama yang damai dan bukan agama teror, itu jelas benar. Tetapi menafikan sama sekali teror sebagai akibat doktrin keagamaan keliru itu namanya naif. Jadi yang benar adalah, “terorisme tidak punya agama, tetapi setiap aksi teror selalu menjadikan agama sebagai justifikasinya”. Dan justifikasi tersebut bukan dibuat-buat, atau dipaksa, tetapi memang yang bersangkutan meyakini bahwa agama memerintahkannya berperang.

BACA JUGA  Tahun Toleransi Menag Yaqut Jangan Bercanda

Sejauh bagaimana ia memandang Pancasila sebagai korpus yang senafas Piagam Madinah, Arie bukan ekstremis. Namun, menyangkal terorisme sebagai “cara beragama” yang salah itu kebodohan yang nyata. ISIS, menurutnya, silakan dibasmi, karena mereka bukan Islam. Lalu mereka siapa? Kenapa Arie menyangkal fakta hanya karena ia ingin menjaga citra Islam?

Jelas, sebagaimana para sebritas pada umumnya, ungkapan-ungkapan Arie adalah hasil dari pengajian yang ia ikuti. Ia di satu sisi terperangkap dalam keranjang pengarusutamaan (mainstreaming) Islam ala Salafi di satu yang mengajarkan kemurnian Islam (yang) palsu, dan terjerat doktrin pejuang khilafah yang tidak lagi percaya pemerintah—justru memimpikan sistem pemerintahan lain, yakni khilafah yang, dalam pikiran Arie, damai sebagaimana yang ia baca dalam Sejarah Turki Utsmani.

Turki Utsmani menjadi rujukan para maniak khilafah, termasuk Felix Siauw, junjungan Arie Untung. Bagaimana penaklukan Konstantinopel yang dramatis itu dianggap sebagai simbol kedigdayaan Islam, lalu dimimpikan kembali terjadi hari ini, adalah mindset-mindset sesat yang biasanya paling rekat dalam corak keberagamaan selebritas sepertinya.

Mengingat semua itu, maka statemen Arie tidak mengherankan. Pemerintahan ideal baginya adalah khilafah seperti di Abad Pertengahan. Tetapi ia tidak konfrontatif sebagaimana teroris militan. Meski begitu bukan berarti ia akan selamat dari jeratan ekstremisme. Boleh jadi, ia tidak percaya terorisme justru karena ia berada di dalam ideologi itu sendiri.

Bagaimanapun, aksi teror itu, bagi pelakunya, bukanlah aksi teror melainkan jihad. Fenomena Arie Untung ini selalu menarik dalam sorotan. Kita lihat perkembangannya ke depan antara ia dengan rekan-rekan selebritasnya. Seleb-seleb hijrah yang terkena indoktrinasi biasanya punya kesamaan ciri: tidak percaya pemerintah di awal-awal, dan kelak pada waktunya akan menyauarakan konfrontasi.

Setelah tidak percaya terorisme, yang artinya Arie tidak percaya pemerintah, apakah nanti Arie Untung dan seleb-seleb korban indoktrinasi lainnya akan bersikap konfrontatif? Kita lihat saja perkembangannya.

Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru