31.7 C
Jakarta

Laskar Ngamuk, Ekstremis Daring dan Kontra-Narasi yang Riskan

Artikel Trending

Milenial IslamLaskar Ngamuk, Ekstremis Daring dan Kontra-Narasi yang Riskan
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Dalam sebuah seminar mengenai seberapa riskan radikalisme terhadap NKRI, Prof Azyumardi Azra, Guru Besar Sejarah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, memberikan persentase yang relatif kecil, yaitu 20%. Artinya, 80% NKRI aman jika masalahnya hanya radikalisme, karena terhadap keriskanan NKRI, ada faktor lain yang lebih kompleks: ketidakadilan politik dan kesenjangan ekonomi. Benarkah demikian? Dan karenanya apakah kontra-narasi radikalisme kemudian menjadi sesuatu yang periferal?

Tesis Prof Azra tentu saja tidak salah. Radikalisme, bisa dikata, adalah underground movement, gerakan bawah tanah. Yang mengemuka dari gerakan radikal hanya sebagian kecil, sementara indoktrinasinya mengakar kuat tanpa ada yang tahu pasti. Kebanyakan kita tidak tahu persis, seberapa banyak sekolah yang kurikulumnya anti-Pancasila dan anti-NKRI, seberapa masif para ekstremis bergerak di dunia jejaring, dan karena itu, seberapa besar takaran kontra-narasi diperlukan.

Kontra-narasi, kontra-propaganda, lalu deradikalisasi, tentu bukan lagi term yang jarang kita dengar. Saking seringnya, boleh jadi muncul rasa antipati terhadap orang yang concern di bidang kontra-narasi itu sendiri. Upaya-upaya mengonter gerakan para radikalis dan ekstremis mendapat respons cibiran, misalnya, bahwa itu tidak penting, provokatif, dan justru tidak moderat. Bahkan orang yang mengaku concern di bidang moderasi beragama, sering kali mengambil jarak dari kerja kontra-narasi.

Jadi ada dua tantangan kontra-narasi. Pertama, melawan narasi ekstremisme dan aktor ekstremis. Kedua, sabar terhadap cibiran yang tidak saja datang dari kalangan ekstremis, melainkan juga dari orang yang buta terhadap duduk persoalan yang dihadapinya. Negeri ini riskan dari kelompok-kelompok anti-NKRI. Tetapi langkah membela NKRI itu sendiri, salah satunya melalui kontra-narasi, juga riskan dari cibiran dan stigma. Belum lagi riskan karena laskar dan ekstremis lainnya cenderung mengamuk.

Ketika Laskar Ngamuk

Ini dalam konteks within dan between, yakni saya berada dalam kontra-narasi, sekaligus jadi sasaran dari keriskanan kontra-narasi itu sendiri. Beberapa hari yang lalu, sekelompok laskar ngamuk: mengintimidasi secara online. Mereka tidak terima dengan kontra-narasi yang saya tulis, tetapi mereka juga tidak mampu membalasnya dengan tulisan. Akhirnya, mereka ngamuk. Meski hanya melalui daring, tetapi efeknya tidak berbeda dengan intimidasi secara langsung.

Laskar ngamuk  adalah konsekuensi logis untuk seseorang yang aktif mengonter ekstremisme, sekaligus bukti riil bahwa kontra-narasi adalah medan yang riskan. Yang paling menakutkan, tentu, bukanlah persekusi fisik oleh mereka, melainkan hancurnya integritas kita di mata orang-orang yang kita kenal. Kita yang berniat menguak bagaimana para radikalis-ekstremis memanipulasi Islam, berusaha menelanjangi kedok mereka, justru mati pamor karenanya.

Saya pikir, fakta bahwa kontra-narasi adalah medan juang yang berbahaya, dalam arti penuh risiko, memang tidak dapat dibantah. Antara narasi ekstremisme dan respons atasnya merupakan wujud perang ideologi yang abstrak. Karena abstrak itulah, semua menjadi ajang adu kekuatan dan kemasifan belaka. Tetapi masif mengonter mereka juga riskan bagi kita sendiri. Tidak sedikit orang mencibir saya, misalnya, dianggap ‘buzzer pemerintah’.

BACA JUGA  G20, MuslimahNews, dan Propaganda Bejat Aktivis Khilafah di Website

Stigma tersebut jelas-jelas merugikan saya di satu sisi, dan menguntungkan para radikalis-ekstremis di sisi yang lainnya. Seolah, mereka itu hanya isu buatan belaka, tidak nyata ada. Pada saat yang sama, sang musuh terus bergerak melakukan aksi: HTI dan khilafahnya tetap berseliweran, pendidikan anti-Pancasila tetap bertahan, thaghutisasi NKRI dan antipati terhadap pemerintah juga demikian. Ratusan manusia radikal dan jejaringnya berkeliaran tetapi publik tidak menyadarinya.

Karena keriskanan itulah kontra-narasi yang berwajah seram dan penuh risiko tidak banyak yang menggeluti. Lebih banyak orang, misalnya, memilih memasyarakatkan moderasi. Mereka hanya menawarkan ini, itu, dan sebagainya. Bidang moderasi seolah berada di wilayah lain dengan perjuangan. Terlepas dari alasan takut pada laskar yang suka ngamuk, bagaimana kita bisa memoderatkan seseorang, kalau ide radikal-ekstrem itu sendiri masih bersarang di kepalanya?

Wasathiyah dan Kontra-Narasi

Menurut Quraish Shihab, memasyarakatkan wasathiyah  artinya menyelamatkan seseorang dari ekstremisme. Ekstremitas merupakan penghalang orang untuk moderat. Tetapi saya ingin menggarisbawahi bahwa kita jelas tidak bisa menyadarkan ekstremitas seseorang hanya dengan mendirikan institusi moderasi beragama. Mengapa demikian?

Karena radikalisme-ekstremisme sudah merupakan rumah. Jadi mereka yang terjangkit virus tersebut tidak butuh rumah lagi. Satu-satunya cara agar mereka butuh rumah adalah, rumah tersebut harus kita hancurkan. Baru setelah itu kita ajukan rumah baru, yaitu moderasi beragama. Membongkar rumah radikalisme tadi adalah pekerjaan kontra-narasi. Kontra-narasi berusaha menelanjangi kedok ekstremisme, sementara wasathiyah adalah tawaran setelahnya.

Maka, memasyarakatkan Islam wasathiyah dan mengonter narasi ekstremisme adalah gerakan integratif dan kooperatif. Keduanya tidak bisa dikontraskan karena akan mengurangi efektivitas memerangi ekstremisme itu sendiri. Boleh jadi, kontra-narasi tetap riskan oleh intimidasi online atau aksi ekstremisme daring para laskar. Konter wacana memang selalu begitu.

Demi menjaga ideologi Pancasila dan persatuan bangsa, menyelamatkan umat Islam dari diseminasi konten ekstrem yang bergerilya di berbagai platform maupun di pengajian yang salah, semua konsekuensi tentu harus kita terima. Saya sepenuhnya menyadari medan yang stigmatis ini. Tetapi saya menyadari satu hal, kontra-narasi yang riskan itu adalah jalan lain dari moderasi beragama. Meski tidak selembut narasi wasathiyah, keduanya bukan sesuatu yang sama sekali berlainan.

Jadi, wasathiyah dan kontra-narasi tidak bisa dikontraskan. Lalu bagaimana dengan laskar yang suka ngamuk itu? Biarkan saja. Mereka suka ngamuk karena memang sudah dari sononya.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Mahasiswa SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru