25 C
Jakarta

Densus 88, Terduga Teroris, dan Ancang-ancang Jihad Teror HTI

Artikel Trending

Milenial IslamDensus 88, Terduga Teroris, dan Ancang-ancang Jihad Teror HTI
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Penangkapan sejumlah tokoh agama oleh Densus 88 karena dugaan terorisme membuat banyak mata terbelalak. Banyak yang tidak percaya bahwa mereka yang ditangkap adalah teroris. Tidak sedikit yang menuding bahwa pemerintah tengah mendiskreditkan Islam. Ustaz Felix Siauw, ideolog HTI bahkan tidak bisa menyembunyikan kekesalannya. Menurutnya, pemerintah dan aparat sengaja ganggu umat Islam. Mungkinkah ini akan jadi titik tolak jihad HTI?

Sebelum mengkaji itu, mari kilas balik langkah Densus 88. Semenjak Fadli Zon mengatakan bahwa terorisme di Indonesia sengaja dibuat-buat dan komoditas belaka, tidak sedikit kalangan yang juga ikut bertanya peran Densus 88. Namun statement Fadli Zon justru blunder untuk dirinya sendiri—membuat sejumlah pihak beranggapan bahwa ia menyebarkan narasi teroris. Blunder juga disebabkan karena setelah itu, Densus 88 kembali banyak meringkus terduga teroris.

Penggerebekan di Lampung, Sumenep, dan Bekasi, hari-hari ini, telah menahan sekitar sepuluh orang terduga teroris. Sayangnya, alih-alih menuai apresiasi, kegarangan Densus 88 justru disikapi sinis. Penangkapan Ustadz Farid Okbah, misalnya, mengundang keheranan Felix Siauw. “Pertanyaan dalam benak saya: atas alasan apa? Beliau sangat ramah, anti kekerasan, ilmiah dan sangat santun,” ujarnya. Felix Siauw pun menilai, aparat kepolisian sengaja tebang pilih.

Apa yang ustaz Felix rasakan bisa dilihat dari dua sudut pandang. Pertama, sebagai masyarakat umum. Dalam sudut pandang ini, Densus 88 dan maraknya penangkapan terduga teroris tampak mengherankan karena ketertutupan operasi Densus 88 itu sendiri. Modus operandi yang rahasia, umpamanya, melahirkan kecurigaan. Kedua, sebagai ideolog HTI. Dalam sudut pandang ini, Densus 88 dianggap sebagai ancaman yang harus direspons dengan jihad segera.

Ancang-ancang Jihad HTI yang dimaksud di sini ialah langkah reaktif yang akan ditempuh HTI karena maraknya penangkapan terduga teroris oleh Densus 88 hari-hari ini. Sebagaimana dipersonifikasi ustaz Felix Siauw, HTI pasti merasa sedang dalam ancaman. Mereka takut diringkus juga, sehingga salah satu cara mengantisipasi ialah mencitra-burukkan Densus 88 dan semua upaya memerangi terorisme. Dan cara paling radikal adalah menjadi teroris itu sendiri.

Preemptive War

Pemerintah melalui Densus 88 terlalu masif dalam menanggulangi terorisme. Itu yang dilihat oleh banyak pihak hari ini. Mereka lupa untuk melihat bagian yang lain: para teroris merasuk ke segala lini dengan sangat masif. Para teroris yang bergerak bawah tanah dan Densus 88 yang juga mengamati dari bawah tanah, membuat tidak sedikit orang lupa bahwa taktik mengalahkan satu sama lain adalah tentang ketersalingdahuluan.

Artinya, siapa yang lebih dahulu beraksi, dialah pemenangnya. Dalam perspektif teori gerakan sosial, ada dua waktu (timing) menangkal kekerasan atau terorisme. Pertama, preemptive. Kedua, reactive. Preemptive ialah pencegahan sebelum kemungkinan terburuk terjadi, sementara reactive bersifat responsif setelah teror terjadi. Dalam taktik preemptive, kesigapan dan ketepatan target menjadi kunci, tetapi risikonya adalah seperti yang dituduhkan ke Densus 88, yakni dianggap mengganggu.

Demikian, perang melawan terorisme adalah preemptive war. Konsepnya hanya satu: kalau tidak kita yang mendahului, maka mereka menang. Terlepas dari apa latar belakang target yang diincar, teroris adalah musuh yang ahli kamuflase. Teknik ini yang kemungkinan akan ditempuh segera oleh para aktivis HTI. Kalau tidak bergerak cepat, para aktivis HTI khawatir segera ditangkap oleh aparat. Mereka pun memasifkan jihadnya sebagai perlawanan.

BACA JUGA  Kafir Teologis, Kafir Politis, dan Media Sosial yang Siap Memecah-belah Negara Kita

Jika diabstraksikan, alur preemptive war ialah sebagai berikut. Organisasi teror seperti JI bergerak secara penuh rahasia: mengumpulkan kekuatan lalu pada waktunya akan melakukan aksi teror. Aparat keamanan, dalam hal ini Densus 88, juga melakukan operasi secara rahasia, menggunakan taktik intelijen untuk mendahului gerakan sebelum teroris beraksi. Siapa yang lebih dulu beraksi, teroris atau aparat, adalah kunci. HTI mengamati, lalu berusaha mendahului semuanya.

Masalahnya adalah, ke arah mana HTI akan berjihad? Mungkinkah mereka berani berjihad secara terang-terangan? Siapa saja aktivis HTI yang berancang-ancang untuk terjun ke medan jihad? Dan secara umum, mengapa HTI harus ditakuti dalam aksi-aksi teror ke depan?

Arah Jihad HTI

Ketika Erich Kolig (2012: 326) mengatakan bahwa kekerasan bisa diintegrasikan hampir untuk semua agama, maka tidak salah untuk disimpulkan bahwa ideologi yang mengafirmasi kekerasan pada waktunya akan melakukan aksi kekerasan itu sendiri. Di Indonesia, HTI, meskipun ia adalah front terdepan dalam menentang NKRI dan Pancasila, jarang terlibat kekerasan. Felix Siauw bahkan tidak menempuh cara tersebut dan justru sebaliknya, sangat santun.

Namun, HTI belum melancarkan serangan jihad lebih disebabkan oleh pertimbangan politik dan strategi perjuangan, bukan karena faktor ideologi. Ideologi mereka tetap menginginkan khilafah dan membenarkan jihad dan terorisme. Jihad, bagi HTI, adalah fardhu ain, kewajiban personal seperti shalat lima waktu dan puasa Ramadhan. Aktivis HTI tidak butuh instruksi untuk berjihad, tidak perlu dikoordinir oleh ketua sebagaimana teroris JI, misalnya.

Karenanya, arah jihad aktivis HTI ialah sendiri-sendiri (lone wolf terrorism), baik dengan cara membuat milisi sesama aktivis HTI atau bergabung dengan milisi yang lain. Ini yang dilakukan aktivis Hizbut Tahrir waktu perang sipil di Suriah. Bagi HTI, jihad sebelum tegaknya khilafah ala mereka  ditujukan kepada pemerintah thaghut dan zalim yang menghalangi perjuangan mereka. Pemerintah Indonesia sudah masuk ke titik ini dan dianggap halangan bagi dakwah mereka.

Selain jihad personal, ketika serangan terhadap mereka makin keras, arah jihad HTI yang lain ialah kudeta militer (thalab an-nushrah). Tujuannya dua, yakni mencari perlindungan (thalab al-himayah) sehingga mereka mampu berjalan dalam mengemban dakwah dengan aman, dan mengantarkan HTI ke tampuk pemerintahan untuk menegakkan khilafah dan mengembalikan hukum Allah yang telah diturunkan untuk kehidupan, negara dan masyarakat.

Ancang-ancang jihad teror HTI ke depan, dengan demikian, mesti menjadi perhatian Densus 88 dalam men-tracing terduga terorisme. Tidak hanya JI dkk yang diperhatikan, HTI juga mesti dimasukkan ke daftar. Ustaz Feliz Siauw sudah mulai cemas dan menuduh pemerintah mengganggu umat Islam, itu secara tersirat menunjukkan kemungkinan sudah berlangsungnya gerakan bawah tanah jihad HTI. Jika tidak segera diambil langkah, HTI akan mendahului.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Mahasiswa Magister Pengkajian Islam, Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru