Darurat Radikalisme Anak dan Residu Digital Native

Harakatuna

21/05/2026

5
Min Read
Radikalisme Digital Native

On This Post

Harakatuna.com – Apa yang terbayang di benak masyarakat Indonesia jika membahas tentang radikalisasi anak-anak? Jawabannya beragam. Sebagian akan merasa resah, dan lainnya kemungkinan apatis. Selama ini, radikalisme anak muda dipahami sebatas sebagai ancaman keamanan dan penyimpangan ideologi. Negara, lembaga pendidikan, hingga aparat cenderung melihatnya sebagai persoalan deteksi dini: mengenali tanda lalu memitigasinya. Namun, bagaimana posisi mereka sebagai digital native?

Berbagai indikator lembaga keamanan internasional kerap menempatkan anak muda dalam kategori ‘rentan’ ketika mulai menarik diri dari lingkungan sosial, mudah emosi, menolak pendapat berbeda, atau punya mindset permusuhan antarsesama. Namun, di balik itu, ada pertanyaan yang justru jarang disentuh aparat, yaitu mengapa semakin banyak anak muda merasa teralienasi, marah, dan kehilangan tempat di kehidupan sosial modern?

Dua pertanyaan tadi menyoal anak-anak muda sebagai masyarakat digital (digital native) ihwal kerentanan mereka terjerumus radikal-terorisme. Bagaimana pun, generasi muda hari ini tumbuh dalam lanskap digital yang mengglorifikasi kekerasan tanpa henti. Medsos bekerja melalui algoritma yang memprioritaskan konflik, provokasi, sensasi, dan polarisasi karena terbukti efektif mendatangkan militansi—bekal awal menuju terorisme.

Anak muda hidup di ruang gema digital, ibarat katak dalam tempurung, yang terus mengulang narasi kebencian dan ketidakpercayaan terhadap kelompok lain, bahkan jika sama-sama Muslim. Radikalisasi menyusup melalui konten pendek, slogan viral, komunitas daring, hingga budaya scroll yang membentuk cara pandang hitam-putih terhadap dunia. Digital native benar-benar menanggung residu darurat terorisme yang memelihara kemarahan dan militansi sebagai aset teroris.

Ironisnya, banyak sekali indikator radikalisasi yang memperlihatkan gejala krisis emosional generasi muda. Rasa kesepian, rendah diri, kehilangan identitas, pengalaman bullying, diskriminasi, hingga kebutuhan untuk merasa diakui menjadi faktor kerentanan paling dominan. Artinya, sebagian anak muda yang terpapar radikalisme tidak digerakkan aspek ideologis an sich, melainkan kebutuhan psikologis mereka sebagai anak muda, darah muda, yang adrenalinnya sedang tinggi.

Ketika keluarga, sekolah, dan sirkel mereka gagal menghadirkan kedekatan emosional, kelompok radikal menawarkan sesuatu yang sederhana namun mereka perlukan, yakni identitas, solidaritas, dan rasa berarti. Di situlah radikalisme menjadi residu dari digital native yang semakin terkoneksi secara teknologi, tetapi semakin rapuh secara sosial. Sebagai warga digital, mereka lebih memiliki banyak waktu dengan gadget daripada berinteraksi secara sosial-masyarakat.

Bagaimana dengan sekolah sebagai kontrol kognitif mereka? Sekolah relatif sibuk mengejar disiplin dan prestasi akademik semata. Medsos yang menjadi budaya saling menyerang di antara mereka lepas dari kontrol, sehingga generasi muda hidup di tengah tuntutan performatif untuk selalu terlihat berhasil di ruang digital. Situasi tersebut menciptakan akumulasi frustrasi yang mudah diarahkan menuju radikalisme. Jika tidak diantisipasi, teroris-teroris muda akan bermunculan.

Bagaimana dengan orang tua mereka? Dalam banyak kasus, terutama kelas menengah, orang tua mempercayakan anak mereka ke sekolah sepenuhnya, dan minim kontrol karena menganggapnya baik-baik saja. Semua itu memperparah kerentanan anak-anak muda sebagai digital native. Bayangkan ironi ini: anak-anak muda tidak terkontrol oleh sekolah, orang tua, dan kontrol sepenuhnya dimiliki gadget dan algoritma yang mengatur kognitif dan afektif mereka.

Dengan demikian, membicarakan radikalisme anak muda hari ini tidak cukup hanya dengan bahasa keamanan dan pengawasan. Persoalannya jauh lebih dalam, yakni krisis makna hidup di tengah warga digital yang kehilangan kedekatan sosial. Selama anak muda terus tumbuh dalam kemarahan dan keterasingan yang dipelihara algoritma, radikalisme akan selalu menemukan tempat untuk hidup. Yang dibutuhkan saat ini ialah keberanian membangun kembali empati dan rasa memiliki bagi generasi muda yang semakin merasa sendirian di tengah keramaian digital.

Radikalisme anak muda di Indonesia hari ini perlu dibaca sebagai gejala perubahan sosial dalam digital native. Selama satu dekade terakhir, internet mengubah cara generasi muda membangun identitas, mencari pengakuan, sekaligus memahami dunia. Jika sebelumnya proses radikalisasi berlangsung melalui halaqah tertutup atau doktrin yang terorganisasi, kini proses itu bergerak melalui medsos. Viralitas adalah kunci dan radikalisme masuk ke dalamnya.

Algoritma platform digital bekerja dengan logika keterlibatan emosional: semakin marah, semakin kontroversial, dan semakin ekstrem suatu konten, semakin besar peluangnya untuk tersebar. Bukankah terorisme masuk pelanggaran konten dan akan di-banned? Iya, tetapi pengemasan radikalisme hari ini tidak lagi vulgar. Yang jelas, anak muda terus-menerus dipertemukan dengan narasi yang memperkuat kemarahan dan polarisasi sosial. Radikalisme tampil sebagai sesuatu yang dinormalisasi melalui konsumsi konten sehari-hari.

Kondisi tersebut semakin rentan karena generasi muda Indonesia tumbuh dalam kontradiksi sosial yang tajam. Satu sisi, mereka hidup di era keterbukaan informasi dan konektivitas tanpa batas. Namun di sisi lain, mereka juga menghadapi ketidakpastian ekonomi, kompetisi sosial yang melelahkan, tekanan performatif di medsos, hingga kecemasan terhadap masa depan. Anak muda dipaksa terus terlihat ‘perform’ di ruang digital, sementara banyak dari mereka justru mengalami keterasingan emosional di kehidupan nyata.

Tidak sedikit remaja yang merasa tidak benar-benar didengar oleh keluarga, sekolah, maupun lingkungan sosialnya. Persoalannya kompleks karena medsos menjelma sebagai mesin pembentuk emosi kolektif. Budaya algoritmik membuat perbedaan pendapat mudah berubah jadi permusuhan. Radikalisme muncul dalam intoleransi sehari-hari kebencian terhadap kelompok berbeda, hingga obsesi pada kekerasan memuncak dan siap menjadi aksi teror.

Itulah darurat radikalisme anak dan residu digital native, yaitu lahirnya generasi yang secara teknologi terkoneksi, tetapi secara emosional terpecah dan kehilangan empati sosial. Maka, upaya menghadapi darurat radikalisme anak muda tidak bisa berhenti pada pendekatan keamanan semata. Pencegahan radikal-terorisme harus bersamaan dengan upaya memulihkan kualitas relasi sosial anak-anak muda.

Sekolah perlu kembali menjadi ruang pembentukan empati dan kemampuan berdialog. Keluarga perlu hadir sebagai ruang percakapan yang aman. Sementara negara dan platform teknologi harus bertanggung jawab terhadap ekosistem digital yang selama ini justru memperparah polarisasi. Sebab, jika masyarakat terus membiarkan anak-anak tumbuh dalam keterasingan yang diproduksi masif di era digital native, maka radikalisme akan selalu menemukan cara untuk meracuni generasi masa depan bangsa. []

Leave a Comment

Related Post