Dari Follow the Money ke Follow the Ecosystem; Strategi Memusnahkan Kelompok Teror

Ahmad Khairi

28/07/2026

8
Min Read
Follow Ecosystem

Harakatuna.com – Dua dekade terakhir, perang melawan pendanaan terorisme telah menuai banyak kesuksesan. Rekening dibekukan, aset dirampas, transaksi mencurigakan dilacak, hingga jalur keuangan internasional diperketat melalui strategi counter-terrorism financing. Namun, muncul ironi yang sulit diabaikan. Semakin ketat sistem keuangan diawasi, semakin kreatif pula kelompok teroris membangun cara baru untuk bertahan hidup. Mereka tidak sekadar memindahkan uang, tetapi mengubah cara organisasi memperoleh, mengelola, dan mereproduksi sumber dayanya.

Lihatlah jejak historisnya. Di Indonesia, investigasi Densus 88 Antiteror Polri bersama PPATK membongkar bagaimana Jama’ah Islamiyah (JI) membangun fondasi ekonomi melalui yayasan sosial, lembaga filantropi, hingga lebih dari 20.000 kotak amal yang tersebar di berbagai daerah. JI berhasil menghimpun lebih dari Rp124 miliar. Dana tersebut tidak berhenti sebagai kas organisasi, JI memutarnya kembali untuk membeli aset tanah, membiayai pendidikan para ikhwan, hingga menggaji pengurus. Yang JI bangun adalah keberlangsungan organisasi.

Ribuan kilometer dari Indonesia, ISIS menunjukkan wajah lain dari fenomena yang sama. Ketika menguasai sebagian wilayah Irak dan Suriah, beberapa tahun lalu, ISIS tidak lagi bergantung pada donasi eksternal. Mereka membangun ekonomi perang laiknya negara bayangan. Ladang minyak dikuasai, pajak dipungut, warga diperas, benda-benda purbakala dijual ke pasar gelap internasional, sementara penculikan dijadikan industri yang menghasilkan jutaan dolar. Pada puncaknya, penjualan minyak ilegal saja diperkirakan menghasilkan US$1-3 juta per hari. Pendanaan kelompok teror telah berubah menjadi sistem ekonomi yang menopang seluruh mesin terorisme itu sendiri.

Ketika jalur keuangan formal mulai diawasi secara masif, pola tersebut kembali berevolusi. Pada 2016, Bahrun Naim memanfaatkan kombinasi PayPal, Bitcoin, dan rekening perantara domestik untuk mendukung aksi teror di Jakarta. Beberapa tahun kemudian, berbagai laporan analisis blockchain memperlihatkan pergeseran lain. Penggalangan dana berskala mikro mulai memanfaatkan stablecoin seperti USDT melalui Telegram untuk mendukung keluarga militan ISIS di Kamp Al-Hol maupun aktivitas propaganda ISIS Khorasan.

Sementara itu, di Afghanistan, Suriah, dan Yaman, wilayah yang sistem perbankannya nyaris lumpuh akibat konflik, kelompok Al-Qaeda maupun ISIS tetap mampu menggerakkan dana operasional melalui hawala, sistem transfer berbasis kepercayaan yang tidak membutuhkan rekening bank, perpindahan uang lintas negara, ataupun catatan transaksi elektronik.

Sekilas, keempat contoh tersebut tampak berdiri sendiri. Padahal, semuanya memperlihatkan pola evolusi yang sama. Metodenya berubah. Medianya berubah. Teknologinya berubah. Dari kotak amal ke ladang minyak, dari PayPal dan Bitcoin ke stablecoin, dari perbankan formal kembali ke jaringan hawala. Namun, satu hal tidak pernah berubah: kelompok teroris selalu membangun ekosistem yang mampu menjaga organisasi tetap hidup, apa pun bentuk sumber dan jalur pendanaannya.

Sayangnya, selama ini, perhatian dunia terlalu banyak diarahkan pada pertanyaan ‘ke mana uang itu mengalir’. Padahal, pertanyaan yang jauh lebih strategis adalah: siapa dan apa yang membuat uang itu terus mengalir? Sebab, uang tidak pernah bergerak sendirian. Di belakang setiap transaksi selalu ada fasilitator, propaganda, teknologi, hubungan sosial, bisnis legal maupun ilegal, hingga regenerasi kader. Rekening hanyalah salah satu simpul dalam ekosistem yang kompleks.

Karena itu, jika ingin benar-benar memusnahkan kelompok teroris, paradigma follow the money seperti yang saya singgung pada tulisan sebelumnya tidak lagi memadai. Yang harus diburu bukan sekadar aliran dananya, melainkan keseluruhan ekosistem yang membuat organisasi itu mampu bertahan, beradaptasi, dan terus melahirkan ancaman baru. Medan tempur kontra-terorisme tak lagi pada transaksi keuangan semata, tapi juga pada kemampuan negara membaca, memetakan, dan melumpuhkan ekosistem yang selama ini jadi ‘habitat’ terorisme.

Teroris: Ekosistem Yes, Rekening No

Selama bertahun-tahun, perang melawan pendanaan terorisme dibangun di atas satu keyakinan yang nyaris tak terbantahkan: follow the money. Logikanya sederhana. Ikuti aliran uang, temukan bendaharanya, bekukan rekeningnya, sita asetnya, maka suatu kelompok teroris akan lumpuh dengan sendirinya. Paradigma ini terbukti efektif pada masanya, sekitar lima tahun lalu, saat SKSG UI menerbitkan buku berjudul Pendanaan Terorisme. Banyak yang berhasil dibongkar karena aparat mampu menemukan jejak transaksi yang menghubungkan para pelaku dengan organisasi di belakangnya.

Namun, seperti halnya terorisme yang terus berevolusi, cara mereka bertahan hidup pun ikut berubah. Kelompok teroris hari ini tidak lagi selalu bergantung pada satu bendahara, satu kas organisasi, atau satu rekening yang menjadi pusat seluruh aktivitas. Mereka justru berkembang menjadi jaringan yang jauh lebih lentur, tersebar, dan adaptif. Ketika satu simpul keuangan diputus, simpul lain segera mengambil peran. Ketika satu jalur pendanaan diblokir, jalur lain muncul dengan cara yang sama sekali berbeda.

Di sinilah letak persoalannya. Yang menopang keberlangsungan kelompok teroris sesungguhnya bukanlah rekening bank, melainkan ekosistem. Rekening hanyalah salah satu instrumen. Rekening itu bisa dibekukan, ditutup, bahkan dihilangkan. Tapi, selama masih ada orang yang bersedia jadi fasilitator, rumah yang dapat dijadikan tempat persembunyian, kendaraan yang dipinjamkan, bisnis yang dimanfaatkan sebagai kedok, ruang digital yang terus menyebarkan propaganda, hingga simpatisan yang menyumbang dalam nominal kecil tetapi berulang, kelompok teroris tetap memiliki “oksigen” untuk eksis, di bawah tanah tentunya.

Karena itu, memandang pendanaan terorisme semata sebagai persoalan transaksi keuangan adalah cara pandang yang, sepertinya, semakin usang. Uang memang penting, tapi uang tidak bekerja sendirian. Uang selalu bergerak di sebuah ekosistem yang menghubungkan ideologi, propaganda, logistik, teknologi, relasi sosial, dan dukungan komunitas menjadi satu jaringan yang saling berkelindan. Di sinilah kekuatan utama kelompok teroris berada: tidak melulu pada besarnya saldo, melainkan banyaknya simpul yang membuat kelompok teroris tetap bernapas meski kehilangan salah satunya.

BACA JUGA  Khilafah Tanpa Kata "Khilafah": Rebranding Propaganda HTI di Momentum Muharam

Analogi sederhananya adalah pohon dengan akar yang menjalar ke segala arah. Menebang batangnya memang membuat pohon tumbang. Tapi, selama akar-akarnya masih hidup, tunas baru akan terus bermunculan. Begitu pula dengan terorisme. Penangkapan seorang bendahara, pembekuan satu rekening, atau penyitaan sejumlah aset belum tentu mengakhiri ancaman apabila ekosistem yang menopangnya masih utuh. Organisasi boleh berganti nama, pemimpin boleh tertangkap, rekening boleh diblokir, tetapi jejaring sosial, logistik, dan ideologinya tetap mampu melahirkan struktur baru.

Itulah mengapa, saya pikir, paradigma follow the money perlu berevolusi menjadi follow the ecosystem. Yang harus dipahami bukan lagi sekadar ke mana uang mengalir, melainkan bagaimana sebuah kelompok teroris memperoleh kemampuan untuk terus hidup, beradaptasi, dan beregenerasi. Sebab, terorisme hari ini tidak lagi bertumpu pada satu rekening bank, melainkan pada ekosistem yang bekerja layaknya organisme hidup. Selama ekosistem itu bernapas, memutus satu aliran dana hanya akan membuat mereka mencari jalur yang lain alias ora mempan.

Bagaimana Membunuh Ekosistem Teroris?

Selama ini operasi kontra-terorisme sering dibayangkan sebagai perlombaan antara aparat dan pelaku. Satu pihak mengejar, pihak lain bersembunyi. Ketika seorang teroris ditangkap, operasi dianggap berhasil. Ketika sebuah bom berhasil diamankan, ancaman dinilai telah berhasil digagalkan. Padahal, itu baru menyentuh gejalanya, belum penyakitnya. Kelompok teroris bertahan karena ekosistem yang menopangnya masih terus bekerja di balik layar.

Karena itu, strategi harus berubah. Jika terorisme adalah sebuah ekosistem, maka target operasi tidak boleh berpusat pada pelaku serangan semata. Yang perlu jadi sasaran adalah seluruh simpul yang membuat organisasi mampu bertahan hidup. Dalam istilah militer, ini bukan lagi sekadar targeting the shooter, melainkan targeting the sustainment. Bukan saja menghentikan serangan hari ini, tapi menghilangkan kemampuan mereka untuk melancarkan serangan selama-lamanya.

Artinya, memutus pendanaan hanyalah satu bagian dari pekerjaan yang jauh lebih besar. Yang sama pentingnya adalah memutus rantai logistik. Bahan baku, kendaraan, rumah aman, dokumen identitas, perangkat komunikasi, hingga jalur distribusi perlengkapan merupakan ‘urat nadi kedua’ yang membuat kelompok teror tetap berfungsi. Selama rantai pasok masih tersedia, mereka akan selalu punya ruang untuk membangun kembali kapasitas meskipun kehilangan sebagian aset keuangannya.

Simpul berikutnya adalah para fasilitator. Mereka belum tentu pernah mengangkat senjata atau merakit bom, tetapi tanpa mereka organisasi akan kehilangan kemampuan bergerak. Ada yang menyediakan tempat singgah, memperkenalkan orang baru ke dalam jaringan, meminjamkan kendaraan, membuka akses terhadap pekerjaan, bahkan sekadar menjadi penghubung yang mempertemukan satu simpul dengan simpul lainnya. Fasilitator memiliki nilai strategis yang lebih tinggi dibanding teroris lapangan. Aktor lapangan bisa digantikan dalam hitungan minggu, tapi membangun kembali kepercayaan dan relasi antarsimpul itu butuh waktu yang relatif lama.

Begitu pula dengan ruang digital. Hari ini, medsos ikut menjadi infrastruktur kelompok teror. Di sanalah narasi dibangun, simpatisan dipelihara, calon anggota dikenalkan pada ideologi, dan hubungan antarikhwan dirawat tanpa harus bertemu secara fisik. Karena itu, kontra-terorisme digital semestinya tidak berhenti pada penghapusan konten. Yang tak kalah penting adalah memetakan pola interaksi serta memahami bagaimana sebuah komunitas virtual berubah jadi jaringan yang mampu menghasilkan dukungan nyata di dunia fisik.

Namun, ada satu hal yang sering luput dari perhatian. Organisasi teroris tidak sekadar membutuhkan uang, logistik, atau teknologi. Mereka membutuhkan regenerasi. Tidak ada organisasi yang mampu bertahan tanpa pasokan anggota baru, simpatisan baru, fasilitator baru, dan pendukung baru. Regenerasi adalah ‘aset strategis’ yang nilainya bahkan lebih tinggi daripada rekening bank. Ketika kemampuan merekrut melemah, kemampuan kelompok teror untuk bereproduksi juga ikut mati. Sebaliknya, selama regenerasi berjalan, kehilangan aset atau tokoh hanya masalah sementara.

Dari sini terlihat bahwa strategi memusnahkan kelompok teroris tidak cukup diukur dari berapa banyak pelaku yang ditangkap atau berapa besar aset yang disita. Bukan tidak boleh, hanya tidak cukup. Ukurannya harus bergeser pada satu pertanyaan yang cukup mendasar: apakah jaringan kelompok tersebut masih punya kemampuan untuk hidup kembali? Jika jawabannya masih ‘iya’, maka operasi yang dilakukan baru berhasil mengurangi ancaman, atau menunda, namun yang jelas belum menghilangkannya.

Itulah sebabnya paradigma follow the ecosystem bukan sekadar perluasan dari follow the money, melainkan perubahan cara berpikir. Tujuannya bukan untuk menemukan dari mana uang berasal, namun mengidentifikasi seluruh komponen yang membuat suatu kelompok teror tetap memiliki daya hidup.

Ketika pendanaan diputus, logistik dilumpuhkan, fasilitator diisolasi, ruang propagandanya dipersempit, dan regenerasinya terhenti, yang runtuh bukan lagi satu operasi atau satu sel, melainkan kapasitas kelompok tersebut secara keseluruhan. Dan ketika kapasitas itu hilang, kelompok teroris tidak sekadar melemah; perlahan tapi pasti mereka akan kehilangan habitat yang selama ini membuatnya mampu terus berevolusi di tengah masifnya kontra-terorisme. Maka, follow the ecosystem perlu segera diejawantahkan dalam regulasi yang taktis. Sekali lagi, segera.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Leave a Comment

Related Post